Saham ROTI Terjun

Harga Saham Terjun Bebas Ke Harga 1000, Apakah ROTI Mulai Tidak Disukai Investor?


Setelah sempat menyentuh harga saham Rp 1700,-an di kuartal I 2017, pada Kuartal II 2018 ini harga saham ROTI terjun bebas hingga ke harga Rp 1000,-an, atau telah terkoreksi 40% dalam 1 tahun terakhir. Pertanyaannya, apakah penurunan harga sahamnya ini merupakan opportunity ? Okay, sekarang langsung saja kita bahas..

Varian Rasa Produk ROTI

 

Sekilas Mengenai ROTI

PT Nippon Indosari Corpindo (ROTI) adalah pabrik yang memproduksi pangan secara komersial dengan merk Sari Roti. Perusahaan juga menambahkan kapasitas produksinya menjadi dua lini untuk mesin roti tawar dan mesin roti manis.  Sebagai perusahaan produsen roti terbesar di Indonesia, ROTI mendirikan dan mengoperasikan 10 pabrik yang tersebar diseluruh Indonesia. Adapun pabrik-pabrik tersebut berada di Cikarang (3 pabrik), Pulau Jawa (Purwakarta, CIkande, Pasuruan, dan Semarang), Sumatera (Medan dan Palembang), serta Sulawesi (Makassar).

Perusahaan pertama kali terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada 28 Juni 2010 dengan kode emiten ROTI. Dengan, perannya sebagai perusahaan besar, ROTI memiliki dua Anak Perusahaan yang membantu kinerjanya yaitu PT Prima Top Boga dan Sarimonde Foods Corporation (SMFC). ROTI mengakuisisi 50.99% kepemilikan di PT Prima Top Boga dengan harga transfer Rp 31.5 miliar pada tahun 2017.

Kerjasama dengan PT Prima Top Boga ini adalah untuk membuka gerai Bake n Brew yang menjual produk roti pastry siap makan dan kopi. Sedangkan, SMFC merupakan Perusahaan yang dibentuk dengan Joint Venture (JV) antara ROTI dengan Monde Nissin Corporation (MNC) pada tahun 2016 dengan porsi kepemilikan 55% : 45%. Kerjasamanya bergerak dalam proses pembuatan, impor, ekspor dan/atau distribusi roti di Filipina. Untuk lebih jelasnya, berikut bagan kepemilikan anak perusahaan ROTI :

Anak Perusahaan PT Nippon Indosari Corpindo

 

Kinerja Fundamental ROTI

Bagaimana sebenarnya kondisi finansial ROTI sepanjang 2018 ini ? Jika kita menarik dari 7 tahun terakhir kinerja ROTI dalam Laporan Keuangan 2011 – 2018, ROTI mampu mencatatkan total Pendapatan yang naik secara signifikan dari Rp 813 miliar menjadi Rp 2.5 triliun (Q2 Annualized). Dengan rata-rata pertumbuhan 17.8% per tahun. Artinya pencapaian Pendapatan ROTI selalu konsisten bertumbuh, termasuk saat perlambatan pertumbuhan ekonomi di tahun 2015. Sayangnya, dalam 2 – 3 tahun terakhir (2016 – 2018), ROTI mencatatkan pertumbuhan Pendapatan yang hanya meningkat tipis di angka Rp 2.4 – Rp 2.5 triliun saja.

Demikian pula, jika kita melihat dari Laba Bersih yang dihasilkan. laba bersih ROTI meningkat secara konsisten dari tahun 2011 – 2016. Namun di tahun 2017 dan 2018 ini, Laba Bersih ROTI turun dari Rp 280 miliar per tahun menjadi Rp 146 miliar di tahun 2017. Bahkan di tahun 2018 ini, Laba Bersih nya kembali turun menjadi Rp 80 miliar (Q2 2018 Annualized).  Jika dilihat secara YoY, Laba Bersih ROTI turun dari Rp 49.8 miliar Kuartal II 2017 menjadi Rp 39.9 miliar Kuartal II 2018 (turun 20% YoY).

Pertanyaannya, apa yang menyebabkan penurunan laba bersih ROTI tersebut? Jika kita teliti pada Laporan Laba Rugi, kita akan menemukan bahwa terdapat peningkatan pada Beban Pokok Penjualan ROTI kuartal II 2018. Dari Rp 580 miliar di Kuartal II 2017 menjadi Rp 600 miliar di kuartal II 2018. Selain itu, faktor lain yang turut menekan laba bersih ROTI adalah beban usaha yang meningkat. Dari Rp 533.8 miliar menjadi Rp 666.0 miliar (meningkat 25%). Kenaikan Beban Usaha ini yang membuat Laba Operasi ROTI turun dari Rp 96.9 miliar menjadi Rp 37.9 miliar (turun 60%). Sebagai gambaran lebih rinci sebagai berikut:

Beban Usaha Laporan Keuangan Kuartal II 2018

Jika kita melihat lebih detail pada Catatan Kaki 27 Beban Usaha, kita juga dengan mudah akan menemukan bahwa ada Persediaan kadaluarsa/cacat yang dianggap sudah kadaluarsa atau menjelang tanggal expired nya, meningkat sekitar 26% dari Rp 123.9 miliar di Kuartal II 2017 menjadi Rp 158 miliar di Kuartal II 2018..

Persediaan Kadaluarsa/Cacat Laporan Keuangan Kuartal II 2018

                Sejalan dengan persediaan kadaluarsa yang meningkat. Jika kita teliti pada Catatan Kaki 25 kita juga akan menemukan bahwa Retur Penjualan meningkat 23%. Dari Rp 312.3 miliar di Kuartal II 2017 menjadi Rp 284.4 miliar di Kuartal II 2018. Retur Penjualan, adalah proses penerimaan barang yang dikembalikan oleh pembeli kepada penjualnya, disebabkan barang yang sudah tidak layak jual. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada gambar berikut :

Total Pendapatan Laporan Keuangan Kuartal II 2018

 

Poin yang ingin Penulis sampaikan di atas adalah, dengan Retur Penjualan yang meningkat 23% dan Persediaan yang Kadaluarsa yang meningkat 26%, apakah ini artinya ROTI mulai tidak disukai oleh masyarakat?

Tidak hanya Retur Penjualan dan Persediaan Kadaluarsa yang meningkat. ROTI juga harus dihadapkan dengan beban bunga yang sebesar Rp 44.4 miliar dan pajak penghasilan Rp 10.9 miliar. Dengan posisi Laba Operasi ROTI yang “hanya” Rp 37.9 miliar. Maka seharusnya ROTI malah mencatatkan Rugi Bersih. Untungnya, ROTI mencatatkan Penghasilan Keuangan yang naik. Dari Rp 13.8 miliar di Kuartal II 2017 menjadi Rp 47.1 miliar di Kuartal II 2018. Sehingga ROTI masih mencatatkan laba bersih.

Seiring dengan merosot nya pencapaian Laba Bersih. Ekuitas ROTI pun hanya naik tipis dari Rp 2.77 triliun kuartal II 2017 menjadi Rp 2.78 triliun di kuartal II 2018. Tentu saja, ini merupakan pertumbuhan ekuitas yang sangat tipis untuk pertumbuhan modal ROTI. Padahal dari tahun 2011 -2016, ROTI tergolong perusahaan yang Ekuitas nya bertumbuh secara konsisten.

Sebagai gambaran di tahun 2011. Ekuitas ROTI “baru” sebesar Rp 546 miliar, dan tumbuh menjadi Rp 2.7 triliun hingga tahun 2017. Artinya, ekuitas ROTI naik 5x lipat selama 5 tahun terakhir.

 

Ternyata ROTI juga pernah melakukan Right Issue

Perusahaan ROTI sebelumnya sudah pernah Penulis bahas pada artikel sebelumnya. Mengenai peluangnya saat melakukan Right Issue. Anda bisa membacanya lagi pada Link dibawah ini :

[Baca Lagi : Peluang di balik Right Issue ROTI]

Arus Kas ROTI yang Juga Mulai Bermasalah

Sejalan dengan penurunan di Laba Bersih, ROTI pun mencatatkan penurunan di Arus Kas Operasi. ROTI yang dalam kurun waktu 5 tahun dari 2013 – 2017 bisa menghasilkan Arus Kas Operasi sebesar Rp 300 – 400 miliar per tahun, hanya mampu mencatatkan arus kas operasi sebesar Rp 29 miliar per Kuartal II 2018.

Sedangkan, ROTI masih membutuhkan sejumlah investasi yang cukup besar dengan perolehan sejumlah Aset Tetap. Termasuk untuk mendukung ekspansinya di Filipina. Kebutuhan yang cukup besar ini terlihat dari Investing Cash Flow ROTI. Yang sebesar di Rp 177 miliar kuartal II 2017 dan Rp 201 miliar kuartal II 2018. Karena kebutuhan akan investasi ROTI tidak mampu dipenuhi oleh Arus Kas Operasi nya, yang hanya sebesar Rp 29 miliar.

Di tahun 2018 ini, ROTI juga dihadapkan pada kewajiban untuk membayarkan utang obligasi sebesar Rp 500 miliar. Sehingga ROTI pun memutuskan untuk kembali menerbitkan hutang jangka pendek sebesar Rp 170 miliar. Hal ini membuat Financing Cash Flow ROTI tercatat negatif Rp 393 miliar kuartal II 2018.

Arus Kas Pendanaan ROTI LK Kuartal II 2018.

 

Tentu saja, penurunan pada Arus Kas Operasi, ditambah lagi dengan kebutuhan investasi yang masih besar dan kewajiban untuk membayarkan utang obligasi membuat ROTI harus mengambil kas internal nya. Pertanyaannya sekarang, bagaimana bisa ROTI membayar hutang Obligasi sebesar Rp 500 miliar ?. Sedangkan Arus Kas Operasinya saja hanya tercatat Rp 29 miliar. Well, kita lanjutkan pencarian pada Laporan Keuangan 2017. Pada Arus Kas Pendanaan terlihat ROTI melakukan Right Issue melalui HMTED sebesar Rp 1.3 triliun. Berikut untuk lebih jelasnya :

Arus Kas Pendanaan Laporan Keuangan 2017, ROTI melaksanakan Right Issue senilai Rp 1.3 Triliun

Dengan Right Issue sebesar Rp 1.3 triliun tersebut, maka ROTI mendapat suntikan dana segar yang kemudian bisa digunakan untuk membayar hutang obligasi.

Poin yang ingin Penulis tekankan di sini adalah, beruntung ROTI telah sukses melaksanakan Right Issue nya di tahun 2017 lalu. Dimana berhasil memperoleh dana segar Rp 1.3 triliun dari Right Issue nya tersebut. Jika saja ROTI tidak menempuh jalan Right Issue di tahun 2017 lalu, bisa saja saat ini ROTI dalam masalah besar. Karena di tahun 2016, ROTI “hanya” memiliki Kas dan Setara Kas sebesar Rp 600 miliar (sementara ada bagian utang obligasi sebesar Rp 500 miliar yang harus dibayarkan).

 

Saham ROTI Terjun ke Rp 1000, apakah dapat disebut Undervalued?

Setelah kita melihat bahwa saat ini fundamental ROTI jelas tidak dapat dikatakan dalam kondisi baik. Kembali ke pertanyaan awal. Apakah harga Saham ROTI terjun dari Rp 1700 an menjadi Rp 1000 an saat ini, merupakan opportunity dan layak untuk investasi?.

Seiring dengan penurunan kinerja ROTI, maka penurunan harga sahamnya tidak membuat valuasi ROTI menjadi murah. Secara Valuasi, saat ini ROTI diperdagangkan pada PER 81.3x dan PBV 2.3x, alias masih mahal. Kesimpulannya, penurunan harga saham ROTI saat ini bukan / belum merupakan opportunity bagi investor. Setidaknya sampai ROTI bisa memperbaiki kembali kinerja fundamental nya.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Oktober 2018 telah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q3 2018 akan segera terbit, Anda dapat memperolehnya di sini
  • E-Book Quarter Outlook LK Q3 2018 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop Value Investing (Jakarta, 13 Oktober 2018) dapat dilihat di sini.
    • Advance Value Investing (Jakarta, 20 Oktober 2018) dapat dilihat di sini.

 

Tags : | Saham ROTI Terjun | Saham ROTI Terjun | Saham ROTI Terjun | Saham ROTI Terjun | Saham ROTI Terjun | Saham ROTI Terjun|

Tags:

You may also like

9 Comments

  • Hidayat
    October 10, 2018 at 10:40 AM

    penjelasan yg bagus dan simpel pak, mau tanya alasan utama perusahaan ngelakuin right issue apa ya pak? trus kalau misalkan dulu sari soti ga melakukan right issue gimana tuh..? maaf ya pak saya pemula soalnya..

    • Ahmad Raihan
      October 12, 2018 at 8:58 AM

      Perasaan jawabannya udah ditulis di artikel itu deh.. Coba baca lebih teliti lagi deh bro

  • Anggini
    October 10, 2018 at 10:42 AM

    pak ada saran gak ya buat akunya yg tadinya full time trader biar pindah ke value investing gimana? pusing aku pak depan laptop mulu.. thx

    • Rivan
      Rivan Kurniawan
      October 15, 2018 at 6:18 AM

      Pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah mindset nya dulu bu.. Mindset nya adalah kita investasi untuk jangka panjang bukan untuk jangka pendek.. Sehingga tidak ada “beban” yang terlalu berat untuk menghasilkan keuntungan jangka pendek.. Karena kita percaya bahwa harga saham sulit diprediksi untuk jangka pendek, namun fundamentalnya senantiasa mengikuti fundamental perusahaan dalam jangka panjang..

      • Anggini
        October 24, 2018 at 11:06 AM

        oo gtu ya pak, makasih deh saranya..

  • Chyntia
    October 12, 2018 at 1:31 PM

    tolong adakan workshop di jogja dong mas Rivan

    • Rivan
      Rivan Kurniawan
      October 15, 2018 at 6:11 AM

      Boleh Bu.. Nanti kita coba cek schedule nya.. atau silakan juga contact team saya di 0896-3045-2810 (Johan) untuk jadwal lebih lanjut yaa..

  • Jullien M
    March 1, 2019 at 2:06 PM

    Harga wajar ROTI memang Range berapa ya Pak? Maaf saya masih baru memasuki dunia investasi saham

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami