Sektor Konstruksi

Kontrak Baru Tidak Tercapai, Sektor Konstruksi Mulai Memasuki Sunset Period ?


Setelah sempat memasuki fase bullish pada awal 2018, sepanjang tahun 2018 ini harga saham di sektor konstruksi kini rata-rata kembali memasuki trend bearish. Tak terkecuali empat perusahaan sektor konstruksi terbesar di Indonesia : WSKT, WIKA, ADHI, dan PTPP.

Sebagai gambaran, sepanjang tahun 2018 harga saham WSKT yang sempat berada pada harga Rp 3,100 an, saat ini berada pada harga Rp 1,700 an. Sementara itu, harga saham WIKA yang juga sempat berada pada harga Rp 3,300 an turun ke Rp 1,400 an. ADHI dan PTPP juga sama, ADHI yang sempat berada pada harga Rp 2,800 an, saat ini terpuruk di Rp 1,350 an, dan PTPP yang sempat berada pada harga Rp 4,300 an pun turun merosot hingga Rp 1,500 an.

Penurunan harga saham ini lantas membuat valuasi (baik PER dan PBV), emiten sektor konstruksi saat ini “terlihat” murah. Untuk lebih jelasnya, Anda dapat melihat valuasi (PER dan PBV) empat emiten konstruksi tersebut per September 2018 berikut ini :

Valuasi per Sep  2018

Emiten

PER PBV

WSKT

3.92x 0.89x
WIKA 12.35x

0.85x

ADHI 16.52x

0.81x

PTPP 9.97x

0.65x

 Valuasi Emiten Sektor Konstruksi – September 2018

Pertanyaan nya, apakah penurunan harga saham emiten sektor konstruksi saat ini merupakan opportunity bagi investor, seiring dengan valuasi PER dan PBV yang menjadi terlihat semakin murah? Ataukah justru harga sahamnya akan semakin turun? Sebelum menjawab pertanyaaan tersebut, Penulis ingin mengajak Anda untuk melihat perkembangan emiten konstruksi selama 5 tahun terakhir.  Valuasi Emiten Konstruksi – September 2018

 

2014 : The Rising of Construction Sector

Jika Anda menarik laporan keuangan emiten konstruksi selama setidaknya 5 tahun ke belakang, Anda akan dengan mudah melihat bahwa emiten konstruksi seperti WSKT, WIKA, ADHI, dan PTPP ini kinerjanya banyak terdongkrak sejak tahun 2015. Kalau kita hubungkan dengan situasi politik saat itu, emiten konstruksi ini bisa mendapat banyak order sejak terpilihnya Pakde Jokowi  pada Pemilu 2014 lalu.

Sejak awal terpilihnya Pakde Jokowi, pemerintahan fokus pada pembangunan infrastruktur. Tak pelak, fokus pemerintah ini membuat emiten konstruksi kelimpahan order proyek-proyek infrastruktur. Pembangunan ini ditargetkan pada beberapa sektor, seperti pembangunan infrastruktur di berbagai daerah yang sudah dijalankan. Sebut saja 68 Proyek Strategis Nasional yang dijalankan selama pemerintahan Pakde. Di mana 30 proyek strategis nasional sudah selesai pada 2016 dan 2017, 13 proyek selesai di 2018, dan 25 proyek yang direncanakan selesai di 2019. Demikian pula, panjang jalan nasional telah dibangun sepanjang ± 12.783 km selama tahun 2015 hingga 2018. Belum lagi pembangunan jalan tol di wilayah perbatasan maupun tol-tol laut. Lalu pembangunan 33 bendungan, 11 bandara baru, dan juga sejumlah proyek pengadaan transportasi massal MRT dan LRT, dan masih banyak proyek lainnya.

Dengan melihat fokus pemerintah dalam pembangunan infrastruktur di atas, maka tidak heran jika emiten sektor konstruksi turut merasakan dampak positifnya. Salah satunya sejak tahun 2015, emiten konstruksi secara berkesinambungan mendapatkan jumlah kontrak baru yang jauh meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

WSKT mungkin yang paling diuntungkan dengan perolehan sejumlah total kontrak baru sejumlah Rp 157.9 triliun sepanjang 2015 – 2017 (Rp 32.1 triliun di 2015, Rp 69.9 triliun di 2016, Rp 55.8 triliun di 2017). Kontrak besar yang diraih WSKT di antaranya: Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggan sepanjang 112 km, Tol Kayu Agung-Palembang-Betung sepanjang 111.69 km, Tol Pejagan-Pemalang sepanjang 57.5 km.

Sama halnya dengan WIKA yang memperoleh total kontrak baru Rp 122.4 triliun sepanjang tahun 2015 – 2017 (Rp 25.2 triliun di 2015, Rp 54.7 triliun di 2016, Rp 42.4 triliun di 2017). Kontrak besar yang diraih WIKA antara lain : Tol Bakauheni-Terbanggi Besar sepanjang 140.93 km, dan Tol Solo-Ngawi sepanjang 90 km.

PTPP juga mendapatkan sejumlah kontrak baru sebesar Rp 100.7 triliun sepanjang 2015 -2017 (Rp 27.1 triliun di 2015, Rp 32.5 triliun di 2016, Rp 41.1 triliun di 2017). Kontrak besar yang diperoleh PTPP antara lain : Pembangunan Tol Depok-Antasari senilai 654 miliar, dan Bendungan Pidekso Jawa Tengah sebesar Rp 361 miliar.

ADHI juga mendapatkan sejumlah kontrak baru sebesar Rp 68.2 triliun sepanjang 2015 – 2017 (Rp 13.9 triliun di 2015, Rp 16.4 triliun di 2016, Rp 37.7 triliun di 2017). Kontrak besar ADHI antara lain : Proyek kereta ringan (LRT) di Jakarta sebesar Rp 23 triliun.

Perolehan angka ini meningkat cukup signifikan dibandingkan dengan nilai kontrak baru yang diperoleh emiten konstruksi sebelumnya. Agar lebih ringkas, Anda bisa perbandingan antara kontrak baru yang diperoleh antara 2012 – 2014 (sebelum Pilpres) dan 2015 – 2017 (setelah Pilpres) pada tabel berikut ini :

Emiten

2012 – 2014 2015 – 2017 Growth

WSKT

Rp 47.1 triliun Rp 157.9 triliun

235%

WIKA

Rp 52.5 triliun Rp 122.4 triliun 133%
PTPP Rp 59. 3 triliun Rp 100.7 triliun

70%

ADHI Rp 29.7 triliun Rp 68.2 triliun

130%

Nilai Kontrak Baru 2012 – 2014 VS 2015 – 2017

 Dengan meningkatnya jumlah kontrak baru maka berpengaruh juga pada Order Book (nilai kontrak yang dikerjakan) keempat perusahaan konstruksi tersebut, berikut adalah gambaran total kontrak (order book) dari keempat emiten konstruksi tersebut :

 

Total Order Book 2011 – 2017 (dalam jutaan Rupiah)

Dampak Meningkatnya Kontrak Baru Bagi Emiten Sektor Konstruksi

Dampak positif yang paling nyata dengan meningkatnya kontrak baru bagi emiten konstruksi adalah meningkatnya profitabilitas perusahaan. WSKT yang paling banyak mendapatkan kontrak baru, sebelumnya “hanya” mampu menghasilkan laba bersih sekitar Rp 500 miliar pada tahun 2014. Namun seiring dengan proyek-proyek yang diperoleh, laba bersihnya mampu tumbuh 7x lipat menjadi Rp 3.8 triliun pada tahun 2017. Demikian pula WIKA yang sebelumnya mampu mencatatkan laba bersih Rp 600 miliar setahun, mampu tumbuh 2x lipat menjadi Rp 1.2 triliun di tahun 2017. Demikian pula PTPP yang sebelum Pilpres mampu meraih laba bersih Rp 532 miliar, mampu tumbuh hampir 3x lipat menjadi Rp 1.45 triliun di tahun 2017. Mungkin hanya ADHI yang laba bersihnya hanya tumbuh kurang dari 2x lipat (dari Rp 329 miliar di tahun 2014 menjadi Rp 515 miliar di tahun 2017).

Kinclongnya kinerja profitabilitas emiten konstruksi tersebut berujung pada meningkatnya harga saham. Di mana sektor konstruksi merupakan salah satu sektor yang paling bullish sepanjang 2014 – 2015 (Anda bisa cek historikal harga saham emiten konstruksi pada online trading masing-masing).

Sayangnya meskipun profitabilitas meningkat, namun tidak diikuti dengan pertumbuhan arus kas nya. Keempat emiten konstruksi tersebut justru lebih banyak mencatatkan Arus Kas Operasi Negatif di tahun 2015 – 2017. Dikarenakan pembayaran atas proyek yang dikerjakan baru bisa diterima setelah proyek dinyatakan 100% selesai. Sementara WSKT dkk tetap harus membayarkan sejumlah tagihan kepada supplier termasuk ongkos-ongkos lainnya selama pengerjaan proyek tersebut. Itulah yang menyebabkan emiten konstruksi harus menanggung arus kas operasi negatif selama pelaksanaan proyek.

Sebut saja WSKT yang mencatatkan arus kas operasi negatif pada 2016 sebesar Rp 7.7 triliun dan Rp 5.9 triliun pada tahun 2017. Sama halnya dengan WIKA yang di tahun 2016 mencatatkan arus kas operasi negatif sebesar Rp 1.1 triliun. ADHI pada tahun 2016 mencatatkan arus kas operasi negatif sebesar Rp 1.7 triliun dan Rp 3.2 triliun pada tahun 2017. Hanya PTPP yang tetap mencatatkan arus kas operasi positif di tahun 2015 – 2017 tersebut.

Sehingga untuk menutupi arus kas operasi yang negatif tersebut, emiten kontruksi perlu menambah modal kerja melalui pinjaman / hutang sehingga membuat total liabilitas jauh meningkat. Dengan jumlah hutang yang menggunung, otomatis membuat Debt to Equity Ratio (DER) emiten konstruksi juga semakin meningkat. WSKT menjadi emiten yang paling agresif dalam hal menambah jumlah hutangnya. Hal ini terlihat dari Rasio DER WSKT meningkat dari 3.4x di tahun 2014 menjadi 5.3x di tahun 2017. Total liabillitas WIKA juga meningkat cukup signifikan meskipun WIKA berhasil menahan DER dari 2.7x di tahun 2014 menjadi 2.5x di tahun 2017. Hanya ADHI dan PTPP yang mampu memperbaiki DER nya, di mana ADHI bisa memperbaiki DER nya dari 4.9x di tahun 2014 menjadi 3.8x di tahun 2017, dan PTPP yang bisa memperbaiki DER dari 5.1x di 2014 menjadi 2.4x di tahun 2017.

2018 : Meredup nya Emiten Konstruksi ?

Kinclong nya kinerja emiten konstruksi sepanjang 2015 – 2017, sayangnya tidak berlanjut pada tahun 2018 ini. Jika Anda perhatikan di tahun 2018 ini, meskipun kinerja laporan keuangan emiten konstruksi masih terbilang cukup baik, namun tidak demikian dengan perolehan kontrak barunya. Indikator yang paling jelas terlihat adalah perolehan keempat emiten konstruksi tersebut jauh di bawah target jumlah kontrak baru di tahun 2018.

Gap / jarak antara perolehan kontrak baru dengan target di tahun 2018 ini paling jelas terlihat di WSKT. Di mana WSKT yang memasang target kontrak baru sekitar Rp 72.6 triliun di tahun 2018 ini, hanya mampu mencapai perolehan kontrak baru sebesar Rp 9.0 triliun sampai dengan Juli 2018 (12% dari target). Jika dibandingkan dengan perolehan kontrak baru di tahun 2017 yang sebesar Rp 55.8 triliun. Maka pencapaian per Juli 2018 turun 84% dibandingkan dengan pencapaian kontrak baru di tahun 2017.

Demikian pula WIKA dan ADHI yang juga perolehan kontrak barunya cukup jauh dibandingkan dengan target 2018. Meskipun gap nya tidak sebesar WSKT. WIKA yang menargetkan kontrak baru sebesar Rp 58.1 triliun di tahun 2018 ini, baru dapat tercapai Rp 21.8 triliun (38% dari target). Angka pencapaian per Juli 2018 tersebut juga turun 49% dari pencapaian kontrak baru WIKA di tahun 2017 yang sebesar Rp 42.4 triliun. ADHI juga baru bisa mencatatkan perolehan kontrak baru sebesar Rp 7.4 triliun. Yang hanya 32% dari target kontrak baru 2018 yang sebesar Rp 23.3 triliun. Pencapaian ini turun 80% dari perolehan kontrak baru sebesar Rp 37.7 triliun di tahun 2017.

PTPP mungkin yang agak “mendingan”, di mana PTPP yang menaruh target kontrak baru sebesar Rp 49.0 Triliun di tahun 2018, telah memperoleh kontrak baru sebesar Rp 27.2 triliun per Juli 2018 (55% dari target).

Jadi, jika dilihat pada data pencapaian kontrak baru di atas, bisa dikatakan bahwa hanya PTPP yang masih inline dengan target kontrak baru nya. Sementara WSKT, WIKA, dan ADHI yang pencapaian kontrak baru nya cukup jauh di bawah target 2018 ini.

Memang apa pentingnya perolehan kontrak baru ini terhadap kinerja emiten konstruksi? Seperti dibahas pada bagian sebelumnya, perolehan kontrak baru merupakan leading indicator yang dapat mempengaruhi kinerja emiten konstruksi secara keseluruhan. Jika Anda perhatikan lagi pembahasan mengenai tumbuhnya nilai kontrak baru di atas, seiring dengan bertumbuhnya nilai kontrak baru, maka order book emiten konstruksi juga bertumbuh, yang membuat pengakuan pendapatan dan laba bersih emiten konstruksi juga menjadi bertumbuh. Sebaliknya, dengan perolehan kontrak baru yang turun drastis di tahun 2018 ini, maka order book juga akan berkurang, yang berpotensi membuat pengakuan pendapatan dan laba bersih emiten konstruksi juga ikut berkurang.

 

Menurunnya Jumlah Kontrak Baru, Pengaruh Pilpres 2019 ?

Penulis melihat bahwa menurunnya jumlah kontrak baru 2018 ini ada hubungannya dengan penyelenggaraan Pilpres 2019 nanti. Sejumlah proyek infrastruktur umumnya juga menjadi lebih sedikit ketika mulai mendekati tahun Pilpres.

Dengan berkurangnya jumlah kontrak baru di tahun 2018 ini, memang berpotensi membuat profitabilitas emiten sektor konstruksi akan mulai turun, setidaknya di tahun 2019 mendatang. Namun di sisi lain, ini menjadi kesempatan bagi emiten konstruksi untuk bisa “bernapas”. Emiten tersebut juga bisa memperbaiki kembali arus kas nya yang selama 3 – 4 tahun belakangan lebih banyak mencatatkan arus kas operasi negatif.

Sejumlah proyek besar akan selesai di tahun 2018 dan 2019 ini. Yang berarti Pemerintah akan mulai membayarkan pengerjaan proyek kepada emiten sektor konstruksi. Diharapkan akan membuat kondisi arus kas menjadi positif setelah “berdarah-darah” pada tahun-tahun sebelumnya.

Awalnya Penulis berpikir bahwa penurunan harga saham emiten konstruksi sepanjang 2018 ini adalah karena efek moratorium yang mencuat pada awal 2018 ini. Namun Penulis mulai menyadari bahwa alasan penurunan harga saham emiten konstruksi “lebih dari itu”. Salah satunya karena faktor menurun nya jumlah kontrak baru ini. Dan market sepertinya sudah mulai “menyesuaikan ekspektasi” tersebut sehingga membuat harga saham emiten konstruksi semakin terpuruk saat ini.

[Baca lagi : Moratorium dan Pengaruhnya Bagi Sektor Konstruksi]

Kesimpulan

Penulis melihat bahwa sampai menjelang Pilpres 2019 mendatang, jumlah kontrak baru masih akan menunjukkan trend menurun, yang juga berpotensi membuat pendapatan dan laba bersih emiten konstruksi juga akan menurun. Lalu bagaimana dengan setelah Pilpres 2019, apakah emiten konstruksi ini akan kembali bangkit ?

Jika ternyata Pilpres 2019 nanti dimenangkan oleh incumbent / Petahana, maka proyek-proyek pembangunan infrastruktur bisa kembali bangkit seperti yang terjadi pada tahun 2015 – 2017 ini, yang berarti emiten sektor konstruksi memiliki peluang bagus untuk kembali bangkit yang berujung pada kenaikan harga sahamnya. Sebaliknya, jika oposisi yang memenangkan Pilpres 2019, kita perlu meninjau kembali program-program yang akan dicanangkan yang berhubungan dengan infrastruktur nantinya.

Semoga kiranya artikel ini bisa memberikan pandangan bagi Anda yang saat ini sedang memegang saham emiten konstruksi.

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Oktober 2018 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q2 2018 telah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2018 telah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop Value Investing (Bali, 22 September 2018) dan (Medan. 6 Oktober 2018) dapat dilihat di sini.
    • Advance Value Investing (Jakarta, 20 Oktober 2018) dapat dilihat di sini.

 

 
Tags: , , , , ,

You may also like

4 Comments

  • tedja
    October 4, 2018 at 10:55 AM

    hmm padahal kan sekarang lg bnyak proyek dari pemerintah pak, bukanya malah bagus ya buat perusahaan konstruksi?

    • Rivan Kurniawan
      October 15, 2018 at 6:30 AM

      Betul Pak tapi proyek pemerintah yang bapak lihat saat ini, karena kontrak baru yang diperoleh di 2 – 3 tahun lalu.. Nah di tahun 2018 ini kontrak baru nya menyusut, jadi sebenarnya agak meragukan ke depannya, setidaknya sampai Pemilu menurut saya untuk bisa lihat prospek ke depannya..

  • Garren
    March 1, 2019 at 3:51 PM

    Jika yang menang saat pilpres nanti adalah oposisi apa langsung dilepas saja saham sektor kontruksi, atau sebaiknya ditunggu dulu sampai 2 kuartal berlalu?

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami