Perusahaan Spin Off

Investing Ideas : Berinvestasi Pada Perusahaan Spin Off ?


Dalam salah satu bagian dalam buku One Up On Wall Street, Peter Lynch mengemukakan salah satu ciri The Perfect Stock menurutnya adalah membeli Entitas Anak Perusahaan (Spin-Off). Lynch lebih lanjut mengemukakan bahwa berinvestasi pada entitas anak perusahaan, seringkali merupakan keputusan investasi yang sukses. Logikanya, Perusahaan induk (parent company) tidak ingin melakukan IPO terhadap anak usahanya, namun ternyata anak usahanya tersebut malah bermasalah. Oleh karena itu, perusahaan induk biasanya telah mempersiapkan agar anak perusahaan memiliki neraca keuangan yang kuat dan juga dipersiapkan oleh perusahaan induk agar dapat sukses sebagai entitas perusahaan yang independen. Ketika anak perusahaan perusahaan tersebut telah independent, maka manajemen anak perusahaan tersebut bisa bebas untuk menjalankan operasional perusahaan sendiri.

 

Apa Yang Dimaksud dengan Perusahaan Spin Off ?

Pada dasarnya, Perusahaan Spin-Off adalah perusahaan yang dipecah dari perusahaan induk dan menjadi entitas yang terpisah dan independen. Bagi Perusahaan induk, salah satu alasan untuk melakukan spin off pada anak perusahaan adalah untuk mengurangi hutang dan biaya, namun alasan lainnya adalah keputusan spin off akan menghasilkan dua perusahaan yang dapat lebih memusatkan usaha bisnis mereka di bidang keahlian masing-masing. Ketika sebuah perusahaan induk memiliki divisi yang menguntungkan namun memiliki kompetensi yang berbeda dengan bisnis inti perusahaan induk, keputusan untuk melakukan spin-off atau pemisahan adalah salah satu langkah terbaik. Baik perusahaan induk maupun anak perusahaan dapat memfokuskan diri untuk hal terbaik yang mereka lakukan.

Spin off berbeda dengan divestasi bisnis. Jika perusahaan induk mendivestasi anak perusahaan, maka artinya perusahaan menjual divisi atau anak perusahaan tersebut secara seutuhnya. Dan pihak yang membeli anak perusahaan tersebut membayarkan sejumlah uang kepada perusahaan induk sesuai dengan nilai pasarnya. Sementara dalam spin-off, sebuah divisi / anak perusahaan menjadi entitas bisnis yang terpisah namun tetap membagikan saham entitas tersebut kepada perusahaan induk. Dengan kata lain, perusahaan induk masih menjadi pemegang saham entitas anak perusahaan tersebut. Umumnya pemegang saham perusahaan induk juga mempertahankan kepemilikan mayoritas di entitas baru tersebut. Spin off juga berbeda dari divestasi karena perusahaan induk tidak memperoleh dana tunai dari spin-off.

[Baca Lagi : Value Chain Indofood Group]

 

Banyak pula yang berpikir bahwa Perusahaan Spin-Off adalah sama dengan perusahaan Start-Up. Padahal Perusahaan Spin-Off berbeda dengan Perusahaan Start-Up. Perusahaan Start-Up adalah perusahaan yang baru berdiri, dan membuat model bisnis yang inovatif dengan hipotesa baru nya, seperti Go-Jek yang changing the game dengan mengubah ojek offline menjadi ojek online, atau Tokopedia yang mendigitalisasi toko fisik (offline stores) menjadi dalam format online stores. Karena model bisnis Perusahaan Start Up adalah membuat model bisnis baru, lebih banyak perusahaan start up yang akhirnya justru harus menemui kegagalan.

Berbeda dengan perusahaan start-up, Perusahaan spin-off sering berhasil karena perusahaan spin off memiliki model bisnis yang telah terbukti, dengan basis pelanggan yang matang dan jajaran manajemen yang berpengalaman. Bahkan seringkali manajemen puncak perusahaan spin-off diberikan opsi saham agar lebih terpacu untuk membuat perusahaan tersebut berkembang dan berhasil. Perusahaan spin off pada umumnya lebih fokus dalam alokasi modal karena jenis usahanya yang juga terfokus ketimbang perusahaan induknya.

 

Apakah Lebih Baik Berinvestasi di Perusahaan Induk Atau Perusahaan Spin-Off?

Pertanyaan nya, apakah kita lebih baik berinvestasi di perusahaan induk atau di anak perusahaan (spin off) nya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus kembali mengenali karakteristik profile risiko kita masing-masing.

Investor agresif yang memiliki tingkat penerimaan risiko yang lebih tinggi biasanya lebih cenderung tertarik berinvestasi di anak perusahaan. Sebagai perusahaan dengan skala bisnis yang lebih kecil, anak perusahaan memiliki potensi pertumbuhan (growth) yang lebih besar ketimbang perusahaan induk yang sudah lebih mapan (mature). Demikian pula, fluktuasi harga saham anak perusahaan biasanya lebih berfluktuasi karena juga lebih sensitif terhadap sentiment pasar.

Sebaliknya investor defensif yang memiliki tingkat penerimaan risiko yang lebih rendah biasanya lebih cenderung tertarik berinvestasi di perusahaan induk. Sebagai perusahaan yang sudah lebih mapan, perusahaan induk memiliki kinerja yang lebih stabil dibandingkan anak perusahaan. Demikian pula, fluktuasi harga saham perusahaan induk biasanya lebih rendah karena kapitalisasi pasar yang juga lebih besar.

 

Perusahaan Spin-Off di Bursa Efek Indonesia

Di tahun 2016 – 2018, ada cukup banyak perusahaan induk yang melakukan spin-off dan meng-IPO-kan anak perusahaannya. Berikut adalah list perusahaan induk yang melakukan spin-off anak perusahaan, serta pergerakan harga sahamnya dibandingkan pada saat IPO.

Seperti yang bisa Anda lihat pada table di bawah ini, rata-rata masih mencatatkan harga saham di bawah harga IPO nya. Sayangnya, kita belum punya data historical yang cukup panjang melihat kinerja harga sahamnya.

 

Parent Company

Spin Off Tahun IPO Harga IPO Harga Saat Ini
PT Garuda Indonesia (GIAA) PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMFI) 2017 400

212

PT Waskita Karya (WSKT)

PT Waskita Beton Precast (WSBP) 2016 490

358

PT Wijaya Karya (WIKA)

PT Wika Gedung (WEGE) 2017 290 220
PT Wijaya Karya Beton (WTON) 2014 590

378

PT PP Persero (PTPP)

PT PP Properti (PPRO) 2015 46.25 (after Stock Split 1 : 4) 109
PT PP Presisi (PPRE) 2017 430

376

PT Mitra Adiperkasa (MAPI)

PT MAP Aktif Adiperkasa (MAPA) 2018 2,100 4,040
PT MAP Boga Adiperkasa (MAPB) 2017 1,680

1,725

PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI)

PT Bank BRI Syariah (BRIS) 2018 510 610
PT Indofood Sukses Makmur (INDF) PT Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) 2010 5,395

8,900

 

Kesimpulan

Langkah spin-off merupakan langkah yang dilakukan perusahaan induk untuk memisahkan divisi atau anak perusahaan menjadi entitas yang terpisah dan independen. Biasanya memiliki kinerja neraca keuangan yang baik karena telah dipersiapkan oleh perusahaan induk agar dapat menjalani operasional secara independen.

Perusahaan spin-off juga memiliki potensi pertumbuhan (growth) yang lebih besar dibandingkan perusahaan induk yang sudah lebih mature. Meskipun sejauh ini, kita belum memiliki data yang cukup untuk melihat pergerakan harga saham perusahaan-perusahaan spin off di atas. Tetap perhatikan faktor-faktor fundamental dari perusahaan-perusahaan spin-off.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda lebih memilih berinvestasi pada perusahaan induk atau pada entitas anak perusahaan (spin-off)? Silakan sampaikan pada kolom comment di bawah..

 

Info:

  • Cheat Sheet LK Q2 2018 telah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2018 telah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop Value Investing (Bali, 22 September 2018) dan (Medan. 6 Oktober 2018) dapat dilihat di sini.
    • Advance Value Investing (Jakarta, 20 Oktober 2018) dapat dilihat di sini.

You may also like

3 Comments

  • One More Trade
    September 11, 2018 at 5:12 PM

    Selain Peter Lynch, Joel Greenblatt juga sangat bullish soal spin-offs. Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa spin-off di US cenderung outperform S&P 500, namun saya ngga tahu apakah hubungan ini juga berlaku di Indonesia. Rasanya profit potential lebih besar kalau berinvestasi pada anak perushaannya, namun karena sudah tidak megang status bluechip lagi (market cap-nya jauh lebih kecil dibandingkan perushaan induk) kita harus siap-siap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi.

    • Rivan Kurniawan
      September 19, 2018 at 9:23 AM

      Memang belum bisa dibuktikan secara empiris di Indonesia, mengingat selama ini yang IPO baru induk perusahaan sementara kebanyakan anak perusahaan baru IPO 3 tahun terakhir.. Namun apa yang dikatakan Peter Lynch dan Joel Greenblatt tersebut sangat make sense… So it’s worth to copy their hypothesis…

  • Adi
    March 5, 2019 at 3:00 PM

    Saya pribadi akan memilih untuk perusahaan induk, karena saya belum memiliki keberanian untuk invest di perusahaan spin off. apalagi dengan status mahasiswa saya heheh,, tapi nanti saya akan memberanikan diri dan mempelajari lebih lanjut laporan keuangan perusahaan spin off

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami