Harga Saham Murah

Bagaimana Mengetahui Harga Saham Sudah Murah ?


Periode bearish IHSG yang terjadi selama 3 – 4 bulan kemarin ini, membuat sebagian besar harga saham mengalami penurunan harga. Bahkan banyak yang penurunannya di atas penurunan IHSG itu sendiri. Dan tidak sedikit pula harga saham yang turun hingga ke posisi terendah dalam 5 tahun terakhir (the lowest in five years). Penurunan harga saham ini cukup banyak memunculkan kesempatan-kesempatan untuk memperoleh harga saham pada harga yang lebih murah. Namun Penulis ingin memberi informasi kepada Anda, bahwa tidak semua saham yang harganya sedang turun merupakan opportunity. Banyak saham yang turun karena memang sudah selayaknya dia turun. Namun ada saham yang turun dan menjadikannya salah harga alias opportunity.

Demikian pula ketika Penulis mengadakan Workshop. Banyak peserta workshop yang bertanya “bagaimana Pak Rivan bisa tahu bahwa harga saham nya sudah murah? Bukankah dalam technical analysis kita tidak dianjurkan membeli saham yang sedang dalam trend turun, karena harga saham yang sedang turun, bisa turun lebih dalam lagi.” Well apa yang disampaikan salah satu peserta workshop tadi tidak salah. Penulis juga awalnya sering merasa “tertipu”. Dimana penulis mengambil posisi saham yang sedang turun karena merasa bahwa harga tersebut sudah “bottom”. Namun ternyata harganya masih terus turun. Namun seiring berjalannya waktu, Penulis mempelajari banyak hal. Inilah yang akan kita bahas pada artikel kali ini.

 

[Baca Lagi : Wait for The Right Pitch]

 

Harga Saham Murah ? Don’t Catch The Falling Knife

Istilah don’t catch the falling knife mungkin sudah sering Anda dengan pada artikel atau buku-buku lain yang membahas mengenai analisa teknikal. Penulis setuju dengan statement ini, meskipun tidak seutuhnya. Penulis setuju bahwa ketika harga saham turun signifikan menunjukkan bahwa sentimen jual jauh lebih besar dibandingkan dengan sentiment beli, betul?. Sehingga jika kita agak nekad menangkap “pisau jatuh” ini. Bukannya kita bisa menangkap pisau tersebut dengan baik, justru kita akan melukai tangan kita sendiri karena tangan kita yang akan berdarah.

Namun Penulis juga tidak seutuhnya setuju dengan statement ini. Pernyataan ini dibuat hanya melihat pada satu perspektif: pergerakan harga saham beserta dengan volume analysis. Namun pernyataan ini tidak dibuat dengan melihat perspektif lain : Mengapa harga sahamnya turun sedemikian kuat?.

Ada saham-saham yang turun sedemikian kuatnya karena memang ada perubahan fundamental perusahaan yang mempengaruhi penurunan harga sahamnya. Misalkan harga saham turun signifikan karena rilisnya laporan keuangan yang di bawah ekspektasi pasar (tertundanya rilis laporan keuangan juga bisa membuat harga sahamnya turun signifikan). Atau faktor lain seperti ada kebijakan pemerintah yang memberatkan. Seperti penetapan Harga Eceran Tertinggi (e.g beras). Penetapan kebijakan DMO batubara. Pengetatan bahan baku (e.g impor jagung tahun 2017). Yang membuat future earnings menjadi berpotensi menurun. Jika harga saham turun signifikan karena hal tersebut, maka bisa jadi itu bukanlah opportunity.

Sebaliknya jika harga saham turun karena faktor panic selling. Yang biasanya disebabkan karena IHSG nya lagi jelek, atau karena faktor investor asing jualan dalam jumlah besar, atau karena sentiment negatif sesaat seperti berita miring tentang perusahaan / industri, Contohnya : sewaktu Industri Perbankan (BBCA, BMRI, BBNI, BBRI, dkk) diterpa sentiment negatif penurunan NIM Perbankan di tahun 2016, atau sentiment negative moratorium yang melanda sektor konstruksi (WSKT, WIKA, dkk) di tahun 2017. Ataupun hal-hal lain yang tidak mempengaruhi dan tidak berhubungan dengan fundamental sebuah perusahaan, maka bisa jadi itu merupakan opportunity.

 

[Baca Lagi : Moratorium dan Pengaruhnya Bagi Sektor Konstruksi]

 

Never Timing The Market

Seperti Penulis sampaikan di awal. Awalnya Penulis sering berusaha untuk melakukan market timing. Penulis beberapa kali masuk dalam jumlah sekaligus “lump sum”. Karena mencoba menebak bahwa harga saham tersebut sudah merupakan harga “bottom”. Percayalah, we can never do that.

Oleh karena kita tidak akan pernah bisa melakukan market timing. Maka kita bisa menyiasatinya dengan money management. Ketika mulai mengkoleksi harga saham, alangkah lebih baik jika Anda tidak masuk sekaligus dalam satu harga saja. Melainkan dalam beberapa kali (dan tentunya juga dalam beberapa waktu ke depan). Misalkan ketika Anda sudah yakin bahwa harga saham saat ini sudah cukup murah secara nilai (akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian selanjutnya). Maka Anda boleh untuk mulai mengakumulasi. Namun tidak ada yang bisa menjamin bahwa harga sahamnya akan segera naik. Dan tidak ada jaminan pula bahwa harga saham yang Anda beli adalah harga “bottom”.

Ketika harga saham turun dari Rp 1000 ke Rp 500, Anda mungkin berpikir bahwa “harga saham sudah turun 50%, tidak mungkin bisa turun lebih dalam lagi”. Tidak ada yang bisa memprediksi bahwa ternyata harga sahamnya akan turun lagi ke 400, bukan?. Jika Anda masuk sekaligus di harga 500 tadi, maka meskipun Anda sudah membeli harga saham yang sudah diskon 50% dari titik tertingginya, maka Anda akan tetap menanggung floating loss 20%.

 

[Baca Lagi : Harga Saham Sempat Terpuruk di Harga 700 an, Mampukah MAIN Bangkit Kembali?]

 

 

Harga Saham Murah ? Focus on Intrinsic Value

Jika dalam analisa teknikal, biasanya seorang trader memperhatikan harga saham saat ini dengan historical di masa lalu (di mana muncul analisa seperti Simple Moving Average, Bollinger Band, dll). Maka seorang value investor akan fokus terhadap nilai intrinsiknya.

Please note this : Penurunan harga saham tidak selalu artinya perusahaan sudah undervalue. Analisa yang paling sederhana adalah dengan melihat valuasi P/E Ratio dan P/BV Ratio nya. Jika katakanlah ada sebuah saham yang turun 30% dari titik tertingginya, namun saat ini masih mencerminkan P/E Ratio 30x, atau P/BV 3x, maka jelas perusahaan tersebut belum dapat dikatakan undervalue. Bisa jadi harga saham tersebut turun karena memang market menyadari bahwa selama ini harga saham tersebut memang dihargai terlalu mahal / overvalue karena optimism pasar yang berlebihan. Inilah yang terjadi pada booming saham property di tahun 2011 – 2012 lalu, di mana saham banyak saham emiten property dihargai pada P/E 20 – 30x pada saat itu. Demikian pula yang terjadi pada saham-saham perkebunan kelapa sawit di tahun 2013 – 2014 lalu.

Sebaliknya, pesimisme pasar yang berlebihan juga bisa membuat harga saham menjadi seolah-olah tidak berharga sama sekali. Anda bisa melihat bagaimana saham-saham sektor batubara di tahun 2015 – 2016 benar-benar seperti tidak berharga sama sekali (INDY sempat dihargai di 100, HRUM dihargai di 900, ADRO dihargai di 450, dan PTBA dihargai di 850). Sehingga membuat penurunan harga saham tersebut membuat P/E Ratio kemudian turun menjadi di < 10.0, maka bisa jadi itu merupakan opportunity.

[Baca lagi : Indika Energy dan Update Saham Batubara]

 

Kesimpulan

Ketika ada sebuah saham yang telah terdiskon cukup besar secara historical, kita perlu mengidentifikasi terlebih dahulu apakah penurunan harga saham tersebut dipengaruhi faktor fundamental atau tidak. Jika penurunan harga saham adalah karena perubahan pada faktor fundamental, maka penurunan harga saham tersebut belum tentu merupakan opportunity. Demikian pula apabila penurunan harga saham tidak serta merta membuat valuasinya menjadi murah (valuasi sederhana dengan melihat P/E Ratio dan P/BV Ratio), maka penurunan harga saham juga belum tentu merupakan opportunity.

Sebaliknya, apabila penurunan harga saham tidak disertai dengan perubahan fundamental dan lebih disebabkan karena faktor panic selling atau sentiment negatif sesaat saja, dan di sisi lain penurunan harga sahamnya membuat valuasinya menjadi lebih menarik, maka bisa penurunan harga saham tersebut merupakan potential opportunity.

Dan yang terpenting adalah fokus terhadap nilai intrinsiknya, bukan hanya terhadap historical harga sahamnya. Jika penurunan harga saham kemudian memberikan margin of safety yang cukup besar bagi Anda, maka Anda bisa mulai mengkoleksi saham tersebut. Never timing the market, karena memang tidak mungkin seseorang bisa memprediksi pergerakan harga saham. Dan mungkin saja harga sahamnya masih akan turun beberapa saat ke depan. Oleh karena itu, dibutuhkan pula money management yang baik dalam proses mengakumulasi jumlah lembar saham sesuai dengan target size yang Anda inginkan.

Semoga dengan artikel ini, kita bisa lebih memahami mana penurunan harga saham yang merupakan opportunity, dan mana penurunan harga saham yang bukan merupakan opportunity.

 

Info:

  • Monthly Investing Plan September 2018 telah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q2 2018 telah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2018 telah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop Value Investing (Jakarta, 8 September 2018), (Bali, 22 September 2018), dan (Medan. 6 Oktober 2018) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA ke 0896-3045-2810 (Johan)

 

Tags : Harga Saham Murah | Harga Saham Murah | Harga Saham Murah

Tags: , , , , , , , ,

You may also like

2 Comments

  • Marcel
    March 5, 2019 at 4:38 PM

    Pak saya baru belajar saham. dan yang saya dapat dari artikel ini harga saham itu terpengaruhi juga dengan hukum penawaran dan permintaan ya.. Thanks infonya Pak,, sangat bermanfaat walau tetap harga saham tidak dapat diprediksi, namun saya bisa mengetahui faktor yg mempengaruhi harga saham

    • Rivan Kurniawan
      March 14, 2019 at 5:16 AM

      Harga saham terbentuk dari penawaran dan permintaan. Namun penawaran dan permintaan juga terbentuk dari fear and greed investor di dalamnya… Tetap fokus pada fundamental perusahaan dan abaikan pergerakan harga saham jangka pendek..

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami