Analisa Saham AUTO

Tertekan Kenaikan Bahan Baku, Apakah AUTO Bisa Bangkit Ke Depan?


Sebelum membahas mengenai Analisa Saham AUTO mari kita simak terlebih dahulu hirarki perusahaan Grup Astra ini.

Astra Internasional (ASII) sebagai salah satu perusahaan konglomerasi terbesar di Indonesia. Memiliki beberapa entitas anak usaha yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Seperti PT Astra Agro Lestari (AALI), PT United Tractors (UNTR), PT Astra Autoparts (AUTO), PT AstraGraphia (ASGR), dan PT Bank Permata (BNLI).

Sebagai salah satu perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia. Kinerja harga saham sebagian dari entitas anak usaha ASII yang disebutkan di atas, malahan saat ini sedang dalam posisi harga saham the lowest in five years atau terendah dalam 5 tahun terakhir. Dalam kesempatan kali ini, Penulis akan membahas mengenai salah satu entitas anak usaha PT Astra Internasional yang harga sahamnya sedang terpuruk, yaitu PT Astra Autoparts (AUTO).

 

Sekilas Tentang PT Astra Otoparts (AUTO)

PT Astra Otoparts Tbk (Astra Otoparts) merupakan grup perusahaan komponen otomotif terbesar di Indonesia. Didirikan pertama kali dengan nama PT Alfa Delta Motor pada tahun 1976. AUTO beberapa kali sempat berganti nama menjadi PT Pacific Western di tahun 1977. Kemudian di tahun 1991 berubah menjadi PT Menara Alam Teknik. Sempat beberapa kali melakukan pergantian nama lagi hingga pada 4 Desember 1997, resmi menjadi PT Astra Otoparts hingga sampai saat ini. Setahun kemudian, (tepatnya Juni 1998), AUTO melakukan penawaran saham perdana (IPO). Sebagai entitas anak dari PT Astra Internasional, ASII memegang sekitar 80% kepemilikan saham di AUTO, sementara 20% nya dimiliki oleh publik.

Bisnis utama AUTO adalah produksi dan distribusi suku cadang kendaraan roda dua dan roda empat. Segmen terbesar AUTO adalah pabrikan otomotif (OEM / Original Equipment Manufacturer) dan suku cadang pengganti (REM / Replacement Market). Produk utama AUTO adalah komponen otomotif beserta dengan rangkaiannya. Didistribusikan langsung ke pabrik otomotif maupun suku cadang pengganti di dalam dan luar negeri.

 

Beberapa produk yang diproduksi oleh AUTO

 

Banyak yang mengira bahwa AUTO ini hanya mendistribusikan komponen otomotif dan suku cadang pengganti ke produsen otomotif Grup Astra saja. Seperti Toyota, Daihatsu, Isuzu, dan UD Trucks. Padahal AUTO juga mendistribusikan komponen otomotif ke pabrikan otomotif non-Astra. Seperti Hino, Honda, Hyundai, Kia, Mazda, Mercedes-Benz, Mitsubishi, dan Suzuki. Untuk kendaraan roda dua, AUTO juga mendistribusikan komponen otomotif ke Yamaha, Suzuki, Kawasaki, dan TVS. AUTO sendiri memiliki jaringan ritel dengan nama Shop&Drive yang sampai dengan saat ini telah mencapai hampir 400 outlet di seluruh Indonesia.

 

Fluktuasi Bahan Baku Menekan Profitabilitas.

                Seperti disampaikan di awal, harga saham AUTO saat artikel ini ditulis sedang tertekan di 1400 an. Padahal di tahun 2014, harga saham AUTO sempat berada di sekitar Rp 4600. Artinya, saat ini harga saham AUTO telah terkoreksi hingga 70% dari harga di tahun 2017. Hal ini membuat nilai kapitalisasi pasar AUTO yang sempat mencapai Rp 20 triliun di tahun 2014, hanya bernilai Rp 7.0 triliun di tahun 2018 ini. Jika harga saham sampai terkoreksi sampai dengan 70%, maka ada 2 kemungkinan : Fundamental perusahaan memang sedemikian buruknya atau kemungkinan kedua, pasar sedang salah menilai harga sahamnya. Oleh karena itu, kita coba lihat bagaimana perkembangan bisnis AUTO secara fundamental.

Jika kita menarik data penjualan AUTO selama 8 tahun terakhir, kita akan melihat bahwa trend penjualan AUTO terus meningkat secara konsisten. Sebagai gambaran, omset penjualan AUTO di tahun 2011 adalah sebesar Rp 7.3 triliun sementara di tahun 2018 (Q2 2018 annualized) adalah sebesar Rp 14.8 triliun. Artinya dalam kurun waktu 8 tahun, omset penjualan AUTO telah meningkat 2x lipat, dengan rata-rata pertumbuhan omset 10.5% per tahun.

Namun jika kita lihat pencapaian laba bersih AUTO selama 8 tahun terakhir, kita akan menemukan pencapaian laba bersih AUTO cukup kontradiktif dengan pencapaian omset penjualan AUTO. Pencapaian laba bersih AUTO terus menurun. Sebagai gambaran, laba bersih AUTO di tahun 2011 – 2012 sempat mencapai Rp 1.0 triliun, sedangkan laba bersih AUTO di tahun 2018 (Q2 2018 annualized) adalah sebesar Rp 412 miliar. Artinya, kemampuan mencetak laba bersih AUTO saat ini hanya sekitar 40% dari tahun 2011 lalu. Jika di rata-rata, laba bersih AUTO bukannya naik, melainkan turun 12% per tahun.

 

Shop&Drive, jaringan ritel modern milik AUTO

 

The next question adalah mengapa pendapatan AUTO konsisten meningkat sementara laba bersih AUTO malah menurun? Salah satu penyebab menurunnya laba bersih AUTO adalah meningkatnya biaya produksi yang cukup signifikan seperti kenaikan harga material (steel, aluminium, dan plastik), pelemahan nilai tukar Rupiah, serta kenaikan upah minimum buruh yang berada di atas inflasi. Sementara di sisi lain, pertumbuhan kendaraan roda empat dan roda dua masih bisa dikatakan flat selama 3 – 4 tahun terakhir. Faktor kompetisi dengan masuknya sejumlah produsen komponen otomotif dari Tiongkok juga turut menyebabkan kompetisi di industri komponen otomotif kian ketat.

Ki : Aluminium Price 2013 – 2018 , Ka : Steel Price 2013 – 2018

(Source : TradingEconomics.com)

 

Demikian pula, kenaikan bahan baku membuat AUTO hanya mampu menghasilkan Net Profit Margin (NPM) sebesar 3 – 4% dalam empat tahun terakhir, serta Return on Equity (ROE) AUTO yang saat ini hanya sekitar 4 – 6%. Sehingga jika Anda menggunakan fasilitas stock screener di aplikasi online trading anda, mungkin nama AUTO juga tidak akan Anda temukan sebagai pilihan saham yang ideal. Singkat kata, jika Anda hanya menaruh perhatian pada profitabilitas AUTO, Anda kemungkinan besar akan cenderung menghindari saham ini.

 

What’s Special About AUTO ?

Okay pada paragraf di atas, Penulis telah menyampaikan kondisi AUTO yang kurang baik dari segi profitabilitas saat ini. Namun jika Anda menarik kembali rasio-rasio keuangan dalam jangka waktu yang lebih panjang, Anda akan menemukan bahwa sebenarnya AUTO tidaklah seburuk itu. Ketika AUTO dapat menghasilkan laba bersih Rp 1.0 triliun di tahun 2011 – 2012, AUTO mampu menghasilkan Net Profit Margin 13 – 14%. Demikian pula, sejatinya AUTO ini adalah perusahaan dengan tingkat pengembalian modal / Return on Equity (ROE) yang baik. Di tahun yang sama, AUTO mampu menghasilkan ROE sebesar 20 – 23%. Hanya saja karena tantangan yang dihadapi, Net Profit Margin (NPM) dan Return on Equity (ROE) AUTO menjadi tertekan.

Banyak yang berargumentasi menurunnya laba bersih AUTO selama beberapa tahun terakhir menjadi alasan utama untuk tidak tertarik membeli saham AUTO, namun menurut Penulis pribadi, saat ini adalah kesempatan untuk berinvestasi di saham AUTO. Mari kita lihat lebih lanjut.

Seperti yang Penulis sering bahas di artikel-artikel sebelumnya, jika kita hanya memberikan perhatian kepada angka laba rugi, maka akan memberikan gambaran yang hanya sepotong atau tidak lengkap, dan bahkan bisa memberikan gambaran yang keliru mengenai kondisi perusahaan. Sekarang coba kita lihat dari sudut pandang lainnya.

[Baca Lagi : Laba Bersih Tidak Menjamin Perusahaan Pasti Bagus, Ini Alasannya]

 

Dengan ekuitas AUTO saat ini sebesar Rp 2.0 triliun dan AUTO memiliki 4.82 miliar lembar saham beredar, maka kita akan mendapatkan Book Value AUTO sebesar Rp 2,041. Artinya, harga saham saat ini hanya sekitar 70% dari nilai bukunya. Selama hampir satu dekade terakhir, AUTO bisa dikatakan hampir selalu dihargai di atas Book Valuenya. Di tahun 2011 – 2012, bahkan harga saham AUTO dihargai sebesar 3x Book Value nya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana AUTO bisa bertahan di dalam bisnis komponen otomotif di saat laba bersihnya terus menurun? Terlepas dari AUTO sempat melakukan right issue sebesar Rp 3.1 triliun di tahun 2013. Mungkin Anda akan berpikir AUTO melakukan pinjaman dana baru dari Bank untuk bisa bertahan di bisnis ini?. Justru yang terjadi sebaliknya. Saat ini, AUTO hanya memiliki pinjaman bank jangka pendek sebesar Rp 283.5 miliar. Dan medium term notes sebesar Rp 349.7 miliar (total : Rp 633.2 miliar). Padahal di tahun 2011 lalu, AUTO memiliki pinjaman bank jangka pendek sebesar Rp 620.2 miliar. Dan pinjaman jangka panjang sebesar Rp 179.8 miliar (total :  Rp 800 miliar).

Bagaimana mungkin perusahaan yang laba bersihnya menurun hingga hanya 40% dari pencapaian terbaiknya, mampu membayarkan hutang-hutangnya. Jawabannya adalah karena AUTO bisa menghasilkan nilai tunai dari hasil operasinya. Nilai tunai ini lah yang menunjukkan apakah perusahaan bisa bangkit atau tidak. Jika Anda mengalihkan perhatian pada laporan arus kas AUTO, Anda akan menemukan bahwa selama empat tahun terakhir AUTO tetap mampu menghasilkan nilai tunai operasi sebesar Rp 800 miliar – Rp 1 triliun per tahun. Angka ini merefleksikan sekitar 2x lipat pencapaian laba bersih AUTO saat ini.

Memang, sebagai perusahaan komponen otomotif, AUTO harus terus mengeluarkan CapEx untuk perolehan aset tetap untuk terus meningkatkan produksi. Namun yang perlu digarisbawahi di sini, sebagai perusahaan yang telah mencapai economies of scale, AUTO memang tidak membutuhkan banyak hutang dan justru mampu membayar hutangnya.

Dari tahun 2015 – 2018 ini, Anda dapat melihat Financing Cash Flow (FCF) AUTO yang selalu negatif sebesar Rp 500 – 600 miliar pada 4 tahun terakhir. Hal ini (membayar hutang lama) juga membuat perusahaan tetap slim dan efisien, dan membuat beban bunga yang tadinya sempat Rp 124.2 miliar per tahun, saat ini hanya Rp 50.6 miliar atau sudah berkurang setengahnya. Demikian pula, jika kita menaruh perhatian pada neraca keuangan, kita dapat dengan mudah menemukan saat ini (LK Q2 2018) AUTO memiliki total liabilitas Rp 4.3 triliun berbanding dengan ekuitas yang diatribusikan bagi pemilik entitas induk sebesar Rp 9.8 triliun. Dengan rumus matematika sederhana, kita dapat mengetahui Debt to Equity Ratio (DER) AUTO hanya sebesar 0.44x.

Salah satu penyebab lainnya yang juga turut berkontribusi terhadap tertekannya laba bersih AUTO adalah karena komponen depresiasi atau penyusutan dari Aset Tetap yang relatif tinggi. Sebagai gambaran, depresiasi / penyusutan aset tetap AUTO di kuartal II 2018 ini adalah sebesar Rp 222.7 miliar, atau Rp 445 miliar jika disetahunkan. Angka penyusutan ini kurang lebih sama dengan nilai proyeksi laba bersih di tahun 2018, yaitu Rp 412 miliar. Bandingkan dengan nilai penyusutan aset tetap AUTO di tahun 2011 yang sebesar Rp 126.7 miliar setahun di saat AUTO memiliki laba bersih Rp 1.0 triliun. Nilai penyusutan ini, seperti yang kita ketahui hanya merupakan catatan akuntansi saja dan tidak melibatkan arus kas keluar dari perusahaan.

 

Analisa Saham AUTO, Valuasi di harga 1400 an, opportunity?

Dengan laba bersih Kuartal II 2018 AUTO yang sebesar Rp 205.8 miliar (atau Rp 411.6 miliar annualized), maka Earnings per Share (EPS) AUTO saat ini adalah Rp 85 per lembar saham. Dengan harga AUTO saat ini di 1400 an, maka saat ini AUTO diperdagangkan pada valuasi P/E Ratio sekitar 17.2x. Not a bargain price?

Namun jika kita lihat lagi penjelasan di atas. Penulis menjelaskan bahwa saat ini laba bersih AUTO saat ini memang sedang tertekan karena kenaikan bahan baku dan tidak mencerminkan situasi dari earnings power AUTO itu sendiri. Ditambah lagi dengan beban penyusutan dari Aset tetap AUTO yang mencapai Rp 445 miliar per tahun yang turut menekan pencapaian laba bersih AUTO.

Dengan demikian, kita bisa melihat valuasi AUTO dari arus kas yang dihasilkan, yang lebih menggambarkan kondisi AUTO yang lebih real. Per Kuartal II 2018, AUTO menghasilkan nilai tunai Rp 466 miliar (atau Rp 932 miliar jika disetahunkan). Dengan demikian, maka Cash Flow per Share (CFPS) AUTO saat ini adalah Rp 193 per lembar saham. Maka di harga saham 1500 an, Price to Cash Flow Ratio (PCF) AUTO adalah 7.5x atau masih dapat disebut undervalue.

Dengan jumlah cash saat ini sekitar Rp 714 miliar. Dan kemampuan AUTO menghasilkan Rp 800 miliar – Rp 1 triliun per tahun, AUTO is not going out of the business. Namun jelas, akan membutuhkan waktu bagi market untuk menyadari bahwa penurunan laba bersih AUTO hanya bersifat sementara saja. Sehingga AUTO ini mungkin tidak cocok bagi Anda yang memiliki orientasi trading jangka pendek saja. Namun bagi investor yang memiliki orientasi investasi jangka menengah dan panjang, AUTO bisa menjadi pilihan yang cukup aman dalam berinvestasi.

 

 

Info:

  • Monthly Investing Plan September 2018 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q2 2018 telah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2018 telah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop Value Investing (Jakarta, 8 September 2018), (Bali, 22 September 2018), dan (Medan. 6 Oktober 2018) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA ke 0896-3045-2810 (Johan)

 

Tags : Analisa Saham AUTO | Analisa Saham AUTO. | Analisa Saham AUTO | Analisa Saham AUTO. | Analisa Saham AUTO | Analisa Saham AUTO. | Analisa Saham AUTO | Analisa Saham AUTO.|

Tags: ,

You may also like

2 Comments

  • Syifa S
    March 6, 2019 at 11:16 AM

    Saya sendiri sampai sekarang masih pegang saham ini untuk jangka panjang.. thanks pa infonya

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami