Tips Membeli Saham yang Kurang Likuid


Banyak emiten di BEI yang sempat memiliki tingkat likuiditas yang rendah namun sebenarnya memiliki Value jauh di atas harga pasarnya saat ini. Sebaliknya, banyak juga emiten yang sangat likuid namun sulit bagi kita untuk mendapatkan saham seperti UNVR dkk pada harga yang benar-benar undervalue (meskipun secara historical harga sahamnya juga tengah turun).

Sayangnya, saham-saham yang memiliki tingkat likuiditas rendah seringkali tidak dilirik oleh para investor / trader (tanpa menganalisa lebih dalam laporan keuangannya). Padahal berdasarkan pengalaman Penulis, saham-saham yang undervalue dan berpotensi menghasilkan profit yang signifikan justru biasanya ditemukan pada saham yang sedang kurang likuid.

Pertanyaannya, apakah seorang Value Investor perlu memperhatikan faktor likuiditas sebagai pertimbangan dalam membeli sebuah saham? Dan bagaimana jika misalkan saham ini nantinya bisa dibeli namun tidak bisa dijual? Dalam artikel kali ini, kita akan membahas mengenai saham yang kurang likuid.

 

Analogi Likuiditas dengan Tamu Undangan Dalam Sebuah Pesta.

Untuk memberikan gambaran yang lebih mudah tentang likuiditas, Penulis akan mencoba menganalogikannya dengan sebuah pesta. Bayangkan Anda diundang dalam sebuah acara pesta yang diselenggarakan oleh kerabat bisnis Anda. Tuan rumah pesta tersebut mengundang 1000 orang untuk menghadiri pesta tersebut.

Tipikal tamu pertama adalah tamu yang lebih suka datang lebih awal pada sebuah pesta. Ada beberapa keuntungan ketika datang lebih awal pada sebuah pesta. Pertama, tidak terlalu terburu-buru dalam perjalanan ke tempat pesta tersebut diadakan, mudah mencari tempat parkir, dan setibanya di lokasi tamu tersebut memiliki kesempatan untuk menikmati suasana pesta lebih awal dan bercengkerama lebih lama dengan tuan rumah di mana belum banyak orang yang datang, dan tentunya memiliki kesempatan untuk menikmati hidangan lebih awal dengan varian yang lebih banyak.

Tipikal tamu kedua adalah tamu yang lebih suka datang di tengah pesta. Tamu yang datang di tengah pesta berlangsung mungkin masih bisa berkendara agak santai menuju tempat pesta tersebut diadakan, meskipun mungkin setibanya di lokasi harus berjuang mendapatkan tempat parkir. Demikian pula ketika masuk ke dalam lokasi pesta, tipikal tamu kedua ini mungkin agak sulit bercengkerama dengan tuan rumah karena sudah cukup banyak orang yang hadir lebih awal pada pesta tersebut. Ketika gilirannya untuk makan tiba, tipikal tamu kedua ini juga masih bisa menikmati beberapa hidangan namun harus rela kehabisan dan tidak kebagian hidangan yang menjadi favorit dalam pesta tersebut, karena sudah keduluan oleh tamu lain yang datang lebih awal.

Tipikal tamu ketiga adalah tamu yang lebih suka datang di akhir pesta. Tamu yang datang di akhir pesta ini biasanya lebih suka hadir kalau dia melihat bahwa ternyata memang di pesta tersebut sudah banyak rekan-rekannya yang hadir terlebih dahulu dan pesta sudah menjelang akhir. Dan seperti yang bisa dibayangkan, tipikal tamu ketiga ini kemungkinan besar akan mengalami kemacetan di jalan, lebih sulit mendapatkan tempat parkir, tidak bisa bercengkerama dengan tuan rumah karena sudah banyak orang yang ingin bercengkerama dengan si tuan rumah, dan pastinya hidangan-hidangan yang ada tersisa hanya sedikit saja.

Analogi ketiga tipikal tamu dalam sebuah pesta di atas, merupakan analogi sederhana dalam melihat opportunity dalam sebuah saham jika dilihat dari likuiditas nya. Value Investor biasanya merupakan tamu tipikal pertama yang lebih suka hadir lebih awal dalam sebuah pesta (perlu menunggu terlebih dahulu namun berpeluang mendapatkan profit yang paling besar). Sementara trader biasanya merupakan tamu tipikal kedua yang lebih suka hadir di tengah pesta (dengan melihat price chart yang sudah mulai uptrend dan juga volume yang mulai meningkat). Sementara Scalper biasanya adalah tipikal tamu ketiga yang ingin mencicipi sedikit keuntungan di saham tersebut (atau analoginya mencicipi sedikit hidangan di pesta tersebut).

 

Apakah Saham yang Kurang Likuid = Saham Berkinerja Buruk ?

Jawabannya adalah tidak selalu. Penulis mengambil sebuah contoh, di mana pada tahun 2013, Peneliti Roger G. Ibbotson, Zhiwu Chen, Daniel Y. J. Kim dan Wendy Y. Hu menerbitkan sebuah penelitian di Jurnal Analis Keuangan yang disebut “Likuiditas sebagai Gaya Investasi.” Fokus dari penelitian ini adalah likuiditas saham dan dampaknya terhadap pengembalian dalam jangka panjang. Para peneliti melakukan penelitian terhadap 3,500 saham di US Stock Market berdasarkan volume transaksi dan kapitalisasi pasar dari 1972 hingga 2011.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa selama periode tersebut, saham-saham yang memiliki likuiditas terkecil menghasilkan pengembalian rata-rata 16.4% per tahun, dibandingkan dengan 11% untuk saham yang paling banyak diperdagangkan (kinerja nya 5.4% lebih baik). Dan bertentangan dengan kepercayaan umum, temuan penelitian menunjukkan bahwa selama periode tersebut, likuiditas berbanding terbalik dengan risiko. Semakin rendah likuiditas, justru semakin tinggi tingkat pengembalian dan semakin rendah risikonya.

 

Studi Kasus Saham Value yang Memiliki Sempat Kurang Likuid.

INDY (Indika Energy). Saham yang pernah kita bahas di tahun 2017 kemarin menjadi salah satu pencetak high gainers ratusan persen di tahun 2017 – 2018 (Anda bisa baca kembali artikelnya di sini). INDY ini awalnya juga merupakan saham yang kurang likuid. Penulis juga masih ingat bagaimana ketika awal-awal kita mengakumulasi INDY di harga 700 an sekitar Kuartal II 2017 ini perlu beberapa minggu karena memang agak sulit mendapatkan barang ini. Secara teknikal INDY yang waktu itu memperlihatkan pola sideways yang cukup panjang hingga beberapa bulan, jelas tidak menarik bagi seorang trader yang menaruh perhatian pada chart. Namun bagi seorang investor, INDY menawarkan nilai intrinsik yang sangat menarik. Emiten yang nilai kapitalisasi pasarnya sekitar Rp 11 triliun di tahun 2011 ini, hanya diperdagangkan pada nilai kapitalisasi pasar sekitar Rp 3.5 triliun sewaktu itu. Sebagai gambaran juga, nilai transaksi harian INDY sewaktu itu hanya sekitar < Rp 5 miliar per harinya. Namun, seiring dengan INDY merilis Laporan Keuangan Kuartal II 2017 yang kembali mencetak keuntungan, volume transaksi INDY kemudian mulai meningkat. Ditambah lagi dengan berita-berita positif dan juga rekomendasi dari beberapa analis, membuat nilai transaksi INDY semakin meningkat dan juga membuat harga sahamnya meningkat signifikan dalam waktu hanya beberapa bulan saja.

KBLI (KMI Wire and Cable). Sama hal nya dengan INDY, KBLI ini merupakan salah satu saham yang sempat mencetak profit ratusan persen di tahun 2017 kemarin (Anda bisa baca lagi artikel KBLI di sini). Ketika Penulis juga mulai mengakumulasi saham ini di tahun 2016, KBLI ini juga sedang menunjukkan pola sideways sehingga jelas tidak menarik bagi para trader. Bahkan bisa dibilang, KBLI ini ketika harganya masih di 280 an lebih tidak likuid lagi ketimbang INDY karena ada kalanya volume transaksi di saham KBLI ini hanya beberapa ratus juta rupiah saja. Dan Penulis juga ingat ketika itu, nobody talks about KBLI. Namun Penulis melihat value opportunity bagi KBLI ketika itu dan tetap memilih untuk berinvestasi pada saham tersebut. Tidak lama setelah cerita pembangunan infrastruktur, salah satunya megaproyek pembangunan pembangkit listrik 10,000 MW mulai bergaung lagi di awal 2017, maka ketika itu juga, volume transaksi mulai naik yang juga kemudian mendorong harga sahamnya naik lebih tinggi lagi. Dan ketika harga saham nya sudah mencapai 600 an, muncullah proyeksi dan rekomendasi dari para analis yang mulai gila-gilaan. Harga sahamnya pun meningkat ratusan persen juga dalam waktu beberapa bulan saja.

 

Tips Membeli Saham Yang Kurang Likuid.

Ketika Anda menemukan saham yang kurang likuid, jangan buru-buru mengalihkan perhatian dari saham tersebut. Siapa tahu Anda justru sedang menemukan berlian yang belum banyak diketahui oleh orang lain. Namun kembali lagi, Anda perlu membedakan mana saham yang murah VS saham murahan

 

[Baca Lagi : Cara Membedakan Saham Murah dengan Saham Murahan]

 

Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan dalam membeli saham yang kurang likuid :

1.Cari tahu mengapa saham tersebut kurang likuid.

Ada beberapa kemungkinan mengapa sebuah saham kurang likuid. Bisa jadi karena perusahaan sedang melalui periode yang sulit sehingga semua orang menghindari saham tersebut. Jika memang demikian, Anda perlu menganalisa lebih dalam apakah prospek perusahaan akan kembali cerah ke depannya (misalkan dengan kenaikan harga komoditas, atau faktor lain yang bisa membuat prospek perusahaan kembali cerah). Kemungkinan lain adalah perusahaan tersebut Market Cap size nya masih kecil sehingga belum dilirik oleh para institusi besar. Dalam kasus tersebut, Anda bisa memproyeksikan pertumbuhan bisnis nya dalam beberapa tahun ke depan apakah akan terus meningkat. Dalam kasus perusahaan yang sedang dalam tahap growth, tingkat pertumbuhannya bisa lebih cepat ketimbang perusahaan yang sudah masuk dalam tahap mature.

2. Perhatikan kinerja fundamental nya dan prospek ke depannya.

Bisa jadi saham tersebut kurang likuid karena memang saham tersebut merupakan saham yang fundamental nya sedemikian buruknya sehingga semua orang akan menghindarinya, atau justru merupakan berlian yang belum banyak diketahui orang lain. Tahu nya dari mana? Dari laporan keuangannya. Perhatikan kinerja nya selama 3 – 5 tahun terakhir apakah menghasilkan pertumbuhan laba bersih dan ekuitas yang konsisten. Jika laba bersih perusahaan turun pun, apakah disebabkan faktor internal atau eksternal? Dan yang tidak kalah penting, perhatian juga tingkat hutangnya. Perusahaan yang memiliki tingkat hutang yang terkendali cenderung lebih stabil dan tidak terbebani dengan beban bunga yang muncul dari hutang tersebut.

3. Masuklah secara bertahap.

Jika Anda telah menemukan jawaban yang positif pada poin no 1 dan 2 di atas, barulah Anda bisa masuk dan mulai mengakumulasi saham yang kurang likuid tersebut. Namun, jangan terburu-buru dalam mengalokasikan dana anda ke saham tersebut, karena bisa jadi seiring berjalannya waktu, Perusahaan tersebut berubah fundamental nya (misalkan ternyata Laporan Keuangan nya ternyata menjadi jelek, atau ada regulasi pemerintah yang memberatkan). Jika memang terjadi hal demikian, Anda masih bisa keluar dari saham tersebut dengan risiko yang terukur. Sebaliknya, jika kinerja nya ternyata masih konsisten dan fundamentalnya tetap baik, maka Anda bisa membeli lebih banyak lagi saham tersebut.

 

Kesimpulan

Dalam artikel kali ini, kita telah bahwa memahami bahwa likuiditas sebuah saham tidak selalu berbanding lurus dengan value opportunity dari sebuah saham. Ada kalanya saham-saham yang likuid justru tidak menawarkan value opportunity yang menarik, dan ada kalanya saham-saham yang kurang likuid justru menawarkan value opportunity yang menarik. Seringkali, saham yang memiliki fundamental dan value opportunity yang menarik justru tidak atau belum dilirik oleh pasar.

Jika Anda menemukan saham yang memiliki value opportunity yang menarik namun saat ini sahamnya kurang likuid, Anda perlu memperhatikan 3 hal penting : time frame, tingkat penerimaan risiko, serta besarnya dana yang Anda alokasikan dalam sebuah saham. Karena pastinya time frame, tingkat penerimaan risiko, dan besarnya alokasi dana antara seorang investor / trader akan berbeda dengan investor / trader lainnya. Jika Anda merupakan investor dengan time frame jangka panjang, dengan tingkat penerimaan risiko yang terukur, maka Anda tetap bisa masuk ke dalam saham-saham yang kurang likuid namun menawarkan value opportunity yang menarik ini.

Semoga dengan membaca artikel ini, dapat memberikan pemahaman yang lebih baik dalam memperhatikan saham yang kurang likuid.

 

Info:

  • Cheat Sheet LK Q2 2018 akan segera terbit, Anda dapat memperolehnya di sini
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2018 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop Value Investing (Surabaya. 21 Juli 2018) dapat dilihat di sini.
    • Advance Value Investing (Jakarta, 11 Agustus 2018) dapat dilihat di sini.

Info lebih lanjut WA 0896-3045-2810 (Johan)

 

You may also like

1 Comment

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami