Kas VS Laba : Mana yang Lebih Penting ?


Laba dan kas merupakan hal yang penting bagi kesuksesan sebuah bisnis. Untuk menjamin keberlangsungan sebuah bisnis, pastinya sebuah perusahaan harus lah profitable / menghasilkan keuntungan. Apabila sebuah perusahaan mengalami penurunan laba bersih, apalagi sampai mencatatkan rugi bersih, pastinya investor akan menjadi tidak puas dengan kinerja perusahaan tersebut. Maka, tidak heran kebanyakan investor menaruh perhatian terbesarnya pada laba bersih yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan. Tidak heran pula, banyak sekuritas yang memberikan rekapitulasi laba bersih antara periode saat ini dengan periode sebelumnya bagi para nasabah nya.

Namun jika kita sebagai investor hanya menaruh perhatian pada laba bersih, seringkali kita akan mengalami misleading. Contoh yang sering dibahas oleh akademisi dan praktisi mengenai hal ini adalah tentang Amazon (AMZN) yang diperdagangkan di US Stock Market. Amazon, sebelum akhirnya menjadi perusahaan yang profitable, pernah mengalami kerugian selama delapan tahun berturut-turut. Amazon, yang didirikan pada tahun 1995 mengalami kerugian terus-menerus sampai akhirnya mendapatkan keuntungan delapan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2003. Adapun hal yang membuat Amazon bisa bertahan meskipun mengalami kerugian selama delapan tahun adalah memiliki arus kas yang cukup untuk operasional perusahaan.

 

Perbedaaan Arus Kas dan Laba / Penjualan

Jika informasi laba bersih bisa kita dapatkan dalam Laporan Laba Rugi, pergerakan arus kas dapat kita pelajari pada Laporan Keuangan bagian Laporan Arus Kas. Laporan arus kas menggambarkan hal yang tidak terdapat pada laporan laba rugi, yaitu pergerakan uang masuk dan keluar dari perusahaan. Jadi apa sih bedanya laba bersih dan arus kas? Untuk lebih mudah memahami, Penulis akan memberikan sebuah contoh.

Ketika sebuah perusahaan telah mengirimkan barang atau jasa kepada pelanggan, maka Perusahaan akan mengakui Penjualan tersebut ke dalam Laporan Laba Rugi, beserta dengan Biaya yang dikeluarkannya. Selisih dari harga penjualan dan biaya yang dikeluarkan, atau yang disebut sebagai Profit juga akan diakui dalam Laporan Laba Rugi. Namun, selama pembayaran atas penjualan barang atau jasa tersebut belum diterima, maka catatan arus kas masuk dalam laporan arus kas belum akan diakui. Bisa saja si pelanggan akan membayar secara kredit, dan dalam beberapa kasus, pembayaran atas penjualan barang atau jasa tersebut mungkin saja diterima dalam periode akuntansi yang berbeda.

 

[Baca Lagi : Laba Bersih Tidak Menjamin Perusahaan Pasti Bagus, Ini Alasannya]

 

Demikian pula dalam hal biaya. Bisa saja sebuah Perusahaan telah menerima barang atau jasa dari supplier atau pemasok, namun belum melakukan pembayaran. Dalam kasus seperti itu, Perusahaan akan mengakui biaya dalam laporan laba rugi, namun belum ada catatan arus kas keluar dalam laporan arus kas keluar. Beberapa hal di atas inilah yang akan membuat selisih angka dalam Laporan Laba Rugi dan Laporan Arus Kas. Singkatnya, laporan arus kas membantu kita dalam mengetahui kapan sebuah transaksi yang dilaporkan dalam laporan laba rugi benar-benar akan mempengaruhi kas. Dengan kata lain, kapan sebuah penjualan benar-benar menghasilkan pemasukan dan biaya benar-benar telah dibayarkan.

 

Pentingnya Arus Kas Bagi Perusahaan

Kelangsungan hidup perusahaan menjadi tidak terjamin pada bisnis yang kehabisan kas. Dalam contoh di atas, kita sudah mengetahui bahwa Penjualan maupun Biaya yang diakui dalam laporan laba rugi, belum tentu dibayarkan pada waktu yang bersamaan, melainkan bisa dalam periode yang berbeda. Nah untuk lebih memperjelas lagi, Penulis akan melanjutkan contoh di atas.

Bayangkan apabila Perusahaan memberikan kelonggaran termin pembayaran untuk Penjualan selama 60 hari kepada Pelanggan. Namun Perusahaan hanya mendapatkan kelonggaran termin pembayaran untuk Pembelian selama 30 hari kepada Supplier. Artinya, Perusahaan harus melakukan pembayaran kepada Supplier SEBELUM Perusahaan dapat menerima pembayaran dari Pelanggan. Jika perusahaan memiliki jumlah kas yang sangat terbatas, maka akan ada risiko Perusahaan akan kesulitan membayar tagihan kepada Supplier. Itupun kalau asumsinya seluruh piutang dari Pelanggan dapat ditagih dengan lancar. Tidak jarang terjadi, Piutang dari Pelanggan sulit untuk ditagih dan ujung-ujungnya Piutang menjadi Piutang Tidak Tertagih (Bad Debt Expense).

Intinya, posisi kas yang mencukupi perlu dimiliki oleh sebuah Perusahaan. Kelangsungan hidup perusahaan menjadi tidak terjamin pada bisnis yang kehabisan kas. Ketika hal ini terjadi, perusahaan tidak mampu membayarkan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan penjualan berikutnya. Cash is King. Begitulah ungkapan yang sering kita dengar dalam dunia bisnis. Tidak memiliki kas yang cukup bukanlah hal yang baik bagi sebuah bisnis, namun sebaliknya menyimpan terlalu banyak kas juga kurang baik. Kas yang tidak diputar dalam sebuah operasi tidak memberikan tingkat pengembalian / return yang diharapkan. Jika hanya mengharapkan return dari kas yang ditaruh pada deposito, hasilnya akan sangat kecil. Kebanyakan bisnis akan menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih besar dari modal yang digunakan. Oleh karena itu, sudah selayaknya seorang investor juga menaruh perhatian yang besar terhadap arus kas dari sebuah perusahaan yang diinvestasikan.

 

Opsi Perusahaan Menambah Jumlah Kas.

Terdapat beberapa opsi untuk menambah kas ke dalam sebuah Perusahaan. Cara Pertama, dan juga cara yang paling diharapkan investor tentu saja adalah bertambahnya kas dari aktivitas operasinya. Arus kas dari aktivitas operasi (setelah dikurangi arus kas keluar untuk perolehan aset tetap, pembayaran dividend, dan pembayaran hutang) akan menjadi tambahan kas bagi Perusahaan. Bagi Perusahaan yang telah mencapai Economies of Scale, aktivitas operasi dapat menghasilkan kas yang lebih dari cukup dibandingkan dengan kebutuhan perusahaan untuk investasi dan pembayaran hutang. Namun bagi perusahaan yang masih dalam tahap growth, biasanya jumlah arus kas dari aktivitas operasinya masih belum mengcover kebutuhan investasi nya (karena kebutuhan investasinya masih besar untuk ekspansi dll).

Cara kedua adalah dengan mempercepat penagihan piutang dari pelanggan. Hal ini dapat dilakukan apabila pelanggan kooperatif dan bersedia bekerja sama dengan Perusahaan. Cara ini juga bisa dilakukan apabila Perusahaan memiliki piutang dagang yang cukup. Namun terdapat risiko dari cara ini, yaitu Pelanggan menjadi akan berkurang kepercayaan kepada Perusahaan, apabila tidak disertai dengan pendekatan yang tepat.

Selain kedua cara di atas, ada cara lain yang lebih “instant” bagi Perusahaan untuk menyuntikkan kas ke dalam Perusahaan. Salah satunya adalah dengan meminjam lebih banyak dana dari bank. Namun, apabila Perusahaan sedang bermasalah, besar kemungkinan bank tidak akan bersedia membantu bisnis yang sedang mengalami permasalahan keuangan. Alternatifnya, Perusahaan juga bisa menerbitkan obligasi, atau melakukan right issue.

 

Permasalahan Apabila Arus Kas Tidak Memadai.

Selisih antara angka pada laporan arus kas dan laporan laba rugi merupakan hal yang wajar terjadi dalam sebuah bisnis. Karena untuk mendorong penjualan, Perusahaan terkadang perlu melonggarkan kebijakan pembayaran (misalkan memberlakukan term payment, atau kredit yang lebih ringan, dll). Ini merupakan strategi bisnis yang wajar untuk dilakukan. Namun yang akan menjadi kurang wajar adalah apabila ternyata selisih antara Penjualan dengan Arus Kas masuk memiliki perbedaan yang terlalu besar. Kita sebagai investor akan sulit untuk menilai apakah ini benar-benar penjualan yang real ataukah digunakan untuk memanipulasi laporan keuangan (bahasa kerennya cooking the book) dengan mengalihkan pengeluaran atau pendapatan dari satu periode ke periode lainnya.

[Baca Lagi : Apakah Laporan Keuangan Bisa Dimanipulasi ?]

 

Contoh Kasus BKSL : Laba Bertumbuh Namun Tidak Memberikan Arus Kas Masuk

Untuk lebih memahami konsep Laba VS Kas ini, Penulis akan menggunakan sebuah contoh kasus perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Contoh yang Penulis ambil adalah Bukit Sentul (BKSL). Dalam Laporan Keuangan BKSL selama 3 tahun terakhir (2015 – 2017), kita bisa melihat bagaimana peningkatan Penjualan dan Laba Bersih, belum tentu disertai dengan peningkatan Arus Kas bagi Perusahaan. Berikut adalah table perbandingan nya :

  2015 2016 2017
Penjualan Rp 559.8 miliar Rp 1.21 Triliun Rp 1.62 triliun
Laba Bersih Rp 49.6 miliar Rp 564.3 miliar Rp 464.9 miliar
Operating Cash Flow ( Rp 451.1 miliar) (Rp 460.4 miliar) (Rp 106.7 miliar)
Kas dan Setara Kas Rp 567.9 miliar Rp 306.6 miliar Rp 587.6 miliar
Piutang Usaha Rp 551.5 miliar Rp 953.2 miliar Rp 1.24 triliun

Laporan Keuangan BKSL 2015 – 2017

 

Dari table di atas, kita bisa melihat bahwa BKSL mengakui Penjualan yang bisa dikatakan meningkat cukup signifikan selama 3 tahun terakhir, dari Rp 559.8 miliar di tahun 2015, menjadi Rp 1.62 triliun di tahun 2017 (meningkat hampir 3x lipat). Demikian pula dengan Laba Bersih BKSL meningkat signifikan dari Rp 49.6 miliar di tahun 2015 menjadi Rp 464.9 miliar di tahun 2017 (naik 9x lipat). Seperti statement yang Penulis sampaikan di awal, jika investor hanya menaruh perhatian pada Laba Bersih saja, maka bisa jadi investor akan mengalami mislead.

Jika kita bandingkan trend Penjualan dan Laba Bersih dengan Arus Kas BKSL, kita akan menemukan hal yang cukup mengejutkan. Meskipun dalam 3 tahun terakhir BKSL mencatatkan kinerja laba bersih yang sangat mengesankan, namun tidak demikian dengan arus kas nya. Meskipun Penjualan dan Laba Bersih yang diakui BKSL naik secara signifikan, ternyata dalam 3 tahun terakhir itu pula, kinerja BKSL bisa dikatakan tidak mendatangkan arus kas bagi Perusahaan. Hal ini dapat dilihat pada Operating Cash Flow yang tercatat negatif selama 3 tahun berturut-turut (negatif sekitar Rp 460 miliar per tahun). Demikian pula jika kita melihat posisi kas dan setara kas BKSL selama 3 tahun terakhir, posisinya justru bisa dikatakan flat-flat saja (di posisi sekitar Rp 580 miliar).

Lalu, ke mana perginya Penjualan dan Laba Bersih BKSL ini jika tidak mendatangkan kas bagi Perusahaan? Besar kemungkinan, seperti telah dijelaskan pada awal artikel, BKSL melakukan penjualan secara kredit. Hal ini dapat kita lihat dengan membengkak nya piutang usaha BKSL dari Rp 400.4 miliar di tahun 2015 menjadi Rp 1.08 triliun di tahun 2017 (naik hampir 3x lipat juga). Loh tapi bukannya piutang ini toh nanti ujung-ujungnya akan diterima juga oleh BKSL ? Jadi gak masalah donk ? Yup, jika piutang nya dapat ditagih dengan lancar, maka tidak akan menjadi masalah. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka justru itu akan menjadi masalah besar. Untuk mengetahuinya, kita bisa melihat profile piutang berdasarkan umur piutang sebagai referensi :


Profile Piutang BKSL per 31 Desember 2017

 

Seperti yang bisa kita lihat, ternyata hampir 50% dari total piutang BKSL telah jatuh tempo lebih dari 1 tahun. Per akhir tahun 2017, ada sekitar Rp 619.5 miliar piutang BKSL yang telah jatuh tempo dan berusia lebih dari 1 tahun. Angka Rp 619.5 miliar ini tentu saja bukan angka yang sedikit, karena berkisar sekitar 40% dari total Penjualan BKSL di tahun 2017. JIka tidak tertagih, maka piutang tersebut akan dicatatkan sebagai Piutang Tidak Tertagih (Bad Debt Expense).

 

Notes : Penulis tidak dalam posisi memegang saham BKSL dan contoh di atas tidak untuk mendiskreditkan emiten tertentu melainkan untuk proses pembelajaran.

 

Kesimpulan

                Laba dan Kas merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Betuk bahwa tujuan daripada keberadaan sebuah Perusahaan adalah untuk menghasilkan laba / profit. Namun, jika kita sebagai investor hanya memperhatikan laba bersih saja, ada kemungkinan kita akan mengalami mislead. Di samping Perusahaan menghasilkan laba secara akuntansi, investor juga menginginkan Perusahaan untuk menghasilkan kas melalui aktivitas operasinya ke dalam perusahaan.

Kelangsungan hidup perusahaan menjadi tidak terjamin pada bisnis yang kehabisan kas. Sebuah Perusahaan bisa saja menghasilkan kenaikan Penjualan dan Laba Bersih, namun selama Perusahaan belum menerima kas dari Pelanggan, maka akan tetap ada risiko Perusahaan tidak bisa mengcollect Piutang dari Pelanggan. Salah satu cara untuk bisa mendeteksinya adalah dengan memperhatikan Profile Piutang berdasarkan Umur.

Semoga dengan memahami perbedaan serta peran masing-masing antara laba di laporan laba rugi dan arus kas pada Laporan Arus Kas, dapat lebih membantu kita untuk memahami apakah sebuah perusahaan benar-benar menghasilkan laba secara real, atau baru pengakuan secara accounting saja.

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Juli 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q2 2018 akan segera terbit, Anda dapat memperolehnya di sini
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop Value Investing (Surabaya. 21 Juli 2018) dapat dilihat di sini.
    • Advance Value Investing (Jakarta, 11 Agustus 2018) dapat dilihat di sini.

Info lebih lanjut WA 0896-3045-2810 (Johan)

You may also like

4 Comments

  • ejri
    July 10, 2018 at 11:37 PM

    terimakasih banyak atas ilmunya pak rivan, perbanyak materi yang seperti ini dong saya suka sekali

    • Rivan Kurniawan
      July 12, 2018 at 9:09 PM

      Terima kasih apresiasinya Pak Ejri.. Ditunggu artikel-artikel selanjutnya ya… Semoga bermanfaat..

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami