Momentum Kebangkitan Sektor Poultry di tahun 2018


Tahun 2017 merupakan tahun yang berat dan menantang bagi sektor Poultry (Perunggasan). Padahal, setahun sebelumnya (2016) industri poultry merupakan salah satu sektor yang bullish selain sektor batubara. DI Bursa Efek Indonesia sendiri, saat ini ada sekitar 4 emiten yang bergerak di dalam industry ini, yaitu  Charoen Phokpand (CPIN), Japfa Comfeed (JPFA), Malindo Feedmill (MAIN), dan Sierad Produce (SIPD). Meskipun kinerja sektor poultry di tahun 2017 tidak seburuk di tahun 2015, namun sejumlah faktor seperti naiknya biaya bahan baku seperti jagung turut mempengaruhi kinerja emiten sektor poultry secara negatif.

Misalkan saja CPIN, sebagai market leader, mengalami penurunan Rasio Marjin Laba Kotor (Gross Profit Margin) dari 19.1% di 2016 menjadi 18.8% di 2017. Penurunan rasio marjin laba kotor pemain lain di industry ini seperti JPFA, MAIN, dan SIPD bahkan lebih besar lagi. JPFA mengalami penurunan marjin laba kotor dari 20.2% di tahun 2016 menjadi 17.0% di tahun 2017, MAIN mengalami penurunan margin laba kotor dari 16.9% menjadi 10.4% di 2017, serta SIPD yang mengalami penurunan margin laba kotor dari 18.2% di 2016 menjadi 10.0% di 2017.

Kenaikan beban pokok penjualan ini turut membuat laba bersih masing-masing emiten juga tergerus. Laba bersih JPFA menurun 52% dari Rp 2.1 triliun menjadi Rp 997 miliar, sementara Laba bersih MAIN menurun dari Rp 212 miliar menjadi Rp 49 miliar (turun 77%). SIPD malahan langsung mencatatkan rugi bersih Rp 355 miliar dari yang sebelumnya mencatatkan laba bersih Rp 13 miliar di 2016. Dari emiten sektor Poultry yang terdaftar di BEI, hanya CPIN yang berhasil mempertahankan laba bersih nya yang meningkat tipis dari Rp 2.2 triliun menjadi Rp 2.5 triliun.

Penurunan kinerja para emiten sektor poultry ini, kemudian direspons negatif oleh para investor sepanjang tahun. Rata-rata emiten sektor poultry mencatatkan penurunan harga saham. Harga saham JPFA menurun dari 1960 an ke 1120 an, harga saham CPIN juga menurun dari 3500 an ke 2700 an. Harga saham SIPD turun dari 960 an ke 630 an, dan harga saham MAIN yang paling terpengaruh yaitu turun dari 1300 an ke 700 an.

 

Problem : Ketidakstabilan Supply membuat Harga Bahan Baku Meningkat.

Segmen pakan ternak menjadi kontributor terbesar penjualan emiten sektor poultry, dan jagung merupakan bahan baku utama untuk menghasilkan pakan ternak. Sehingga kenaikan harga jagung sendiri cukup memukul kinerja emiten. Kenaikan harga bahan baku seperti jagung tidak terlepas dari kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Di tahun 2017 kemarin Pemerintah menerapkan larangan impor jagung. Hal ini sebagai bagian dari kebijakan untuk meningkatkan produksi jagung lokal dan menuju swasembada. Akibatnya, beban pokok penjualan emiten Poultry masing-masing meningkat dan menekan tingkat profitabilitas Perusahaan.

Padahal di tahun sebelumnya (2016), industri Poultry sebenarnya sudah mulai menunjukkan perbaikan seiring dengan keterlibatan pemerintah dalam mengatur keseimbangan permintaan dan pasokan bahan baku jagung. Demikian pula keseimbangan antara permintaan dan pasokan untuk Day Old Chick (DOC). Namun, memasuki tahun 2017, seiring dengan kebijakan pemerintah untuk melarang impor jagung, membuat distribusi dan ketersediaan jagung menjadi tidak merata. Dengan supply yang lebih sedikit, maka harga jagung menjadi meningkat. Demikian pula harga DOC dan ayam broiler yang juga belum stabil.

[Baca Lagi : Mengintip Lesunya Sektor Poultry Di 2017]

 

Untuk mengantisipasi dan memastikan ketersediaan bahan baku tersebut, umumnya emiten-emiten tersebut melakukan strategi jemput bola. Seperti JPFA misalkan yang membangun fasilitas pengeringan jagung di setiap pabrik yang dimilikinya. Hal tersebut (distribusi bahan baku yang tidak merata)  juga membuat para emiten memilih untuk tidak melakukan ekspansi pada kapasitas produksi pakan ternak. CPIN juga meminimalkan dampak penurunan ketersediaan jagung dengan pemakaian formula yang memungkinkan penggunaan bahan baku pengganti namun tetap mempertahankan kualitas.

Meskipun tertekan sepanjang tahun 2017, sejatinya kita masih bisa mengatakan bahwa industry ini memiliki potensi yang sangat besar sejalan dengan pertumbuhan konsumsi daging. Salah satu fakta yang bisa cukup menguatkan bahwa potensi sektor poultry ini masih cerah ke depannya adalah masih rendahnya tingkat konsumsi per kapita terhadap daging di Indonesia. Di tahun 2017 sendiri, produksi daging unggas mancapai 2.1 juta ton atau 66.3% dari total produksi daging. Sementara itu, produksi telur mencapai 1.9 juta ton. Dengan pertumbuhan produksi tersebut, maka masih banyak ruang untuk industry ini untuk berkembang.

 

Tahun 2018 : Recovery Sektor Poultry ?

Memasuki tahun 2018, Kementerian Pertanian (Kemtan) telah menyatakan optimisme nya terhadap swasembada hasil pertanian termasuk di antaranya jagung. Kemtan mengklaim produksi jagung sudah surplus sehingga supply jagung sudah lebih merata di tahun 2018 ini. Bahkan Kemtan sendiri optimis bahwa di tahun ini Pemerintah menargetkan bisa melakukan ekspor jagung sebanyak 300.000 ton.  Asosisasi Pakan Ternak yang tergabung dalam Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) pun menyatakan optimisme bahwa tahun 2018 ini akan lebih baik dibandingkan dengan tahun 2017. Langkah pemerintah untuk ekspor jagung pun tidak akan mengganggu industry pakan ternak karena ekspor dilakukan dari sentra produksi jagung yang jauh dari industry pakan ternak seperti di Makassar.

Dengan kebutuhan industry pakan ternak akan jagung sebesar 8.5 juta ton per tahun, ditambah kebutuhan untuk pangan sekitar 5 juta ton per tahun, maka total kebutuhan jagung diperkirakan mencapai 13 juta ton per tahun. Dengan jumlah itu, pada tahun 2016 Indonesia masih mengimpor 2.4 juta ton jagung. Kebijakan pemerintah untuk mengeluarkan larangan impor di tahun 2017, sepertinya mulai membuahkan hasil. Menurut hasil riset yang Penulis pelajari, diperkirakan pada tahun 2018 ini target produksi swasembada jagung sebesar 24 juta ton akan tercapai, termasuk panen raya jagung di bulan April 2018 sebesar 14 juta ton. Momentum panen raya ini menjadi kesempatan bagi para emiten Poultry untuk mengumpulkan bahan baku dengan harga yang tentunya akan lebih murah.

Berdasarkan Laporan Keuangan Q1 2018, indikasi perbaikan juga sudah mulai terlihat. Secara rata-rata, emiten Poultry mencatatkan kenaikan trend laba bersih yang cukup signifikan dibandingkan dengan Q1 2017. Bisa kita katakan, kondisinya sudah kembali normal seperti saat tahun 2016 kemarin. Ketersediaan bahan baku yang lebih merata, membuat harga bahan pokok juga menjadi cenderung turun, yang membuat emiten Poultry bisa menikmati keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan tahun 2017 kemarin (kecuali SIPD yang masih mencatatkan rugi bersih).  Untuk lebih jelasnya, Anda bisa melihat kinerja Penjualan dan Laba Bersih emiten Poultry di Q1 2018 sebagai berikut :

Q1 2018 CPIN JPFA MAIN SIPD
Revenue Growth Rp 12.0 T –> Rp 11.8 T (-1.3%) Rp 6.6 T –> Rp 7.8 T (+18.6%) Rp 1.2 T –> Rp 1.5 T (+16.5%) Rp 599.1 M –> Rp 676.1 M (+12.9%)
Net Profit Growth Rp 625.6 M –> Rp 995.8 M (+59.2%) Rp 73.4 M –> Rp 433.4 M (+490.6%) Rp 24.8 M –> Rp 20.3 M (+102.2%) – Rp 206.7 miliar –> – Rp 8.2 miliar

Ringkasan Pertumbuhan Pendapatan dan Laba bersih Emiten Poultry

 

Apakah Emiten Poultry Layak Dijadikan Investasi Jangka Panjang?

Melirik kinerja emiten Poultry selama 7 – 8 tahun ke belakang, total Penjualan keempat emiten Poultry yang terdaftar di BEI tersebut sebenarnya tergolong stabil. Jika ditotal, keempat emiten poultry tersebut menghasilkan Penjualan sebesar Rp 40.2 triliun (combined) di tahun 2011, dan di tahun 2017 kemarin menghasilkan Penjualan sebesar Rp 86.8 triliun (combined) di tahun 2017. Jika dirata-rata, emiten Poultry mencatatkan kenaikan Penjualan sekitar 12 – 15% per tahun. Ini sejalan dengan statement yang Penulis tuliskan sebelumnya bahwa prospek sektor poultry ini masih cerah ke depannya mengingat masih rendahnya tingkat konsumsi per kapita terhadap daging di Indonesia.

Hanya saja, karena tingkat ketergantungan emiten Poultry ini terhadap fluktuasi harga bahan baku seperti jagung dan harga DOC masih sangat tinggi, serta intervensi pemerintah yang cukup besar di industry ini, sepertinya emiten Poultry ini tidak bisa dijadikan investasi jangka Panjang, karena masih tergolong cyclical company. Penulis sendiri mencatat setidaknya ada 3 tahun (2014, 2015, 2017) di mana emiten Poultry ini mengalami tekanan yang cukup besar baik dari internal maupun eksternal Perusahaan.

Hanya saja dengan kondisi di tahun 2018 ini situasi sudah lebih baik, maka kita bisa berharap selama faktor-faktor yang disebutkan diatas masih terjaga dalam koridor nya, maka kita bisa menjadikan emiten Poultry ini sebagai salah satu alternatif investasi jangka menengah (+- 1 tahun ke depan). Sebagai gambaran Anda bisa menggunakan beberapa indikator di bawah ini sebagai referensi, meskipun tentu saja Anda tetap harus memperhatikan lebih detail lagi kondisi terakhir perusahaan.

 

Q1 2018

CPIN JPFA MAIN SIPD

PER

14.9x 10.3x 7.9x -43.7x

PBV

3.6x 2.1x 0.9x

1.8x

DER 0.54x 1.41x 1.34x

1.68x

ROE 24% 20% 12%

-4%

 

Kesimpulan

Setelah melewati tahun 2017 yang penuh dengan tantangan termasuk salah satunya adalah tingginya harga bahan pokok akibat kebijakan pemerintah yang melarang impor jagung, di tahun 2018 ini industry poultry mulai menunjukkan tanda-tanda recovery. Dengan swasembada pangan yang mulai digalakkan pemerintah sejak 2017, mulai menunjukkan hasil positif di tahun 2018 ini. Kebutuhan akan supply jagung sudah bisa terpenuhi dengan hasil swasembada ini.

Hasil positif ini mulai tercermin di Laporan Keuangan Kuartal I 2018, di mana emiten Poultry rata-rata menunjukkan kinerja yang positif baik dari segi Penjualan yang masih meningkat, serta laba bersih yang “kembali” seperti di tahun 2016 kemarin.

Satu hal lagi, dengan berkurangnya tingkat ketergantungan emiten Poultry terhadap bahan baku jagung impor ini sudah banyak berkurang, maka pelemahan Rupiah yang terjadi belakangan ini juga tidak akan terlalu memberikan dampak negatif yang signifikan kepada emiten Poultry.

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Juli 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q2 2018 akan segera terbit, Anda dapat memperolehnya di sini
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2018 akan segera terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Join Our Telegram Channel : t.me/ValueInvestingIndonesia untuk mendapatkan update tentang Value Investing. Gratis !
  • Jadwal Workshop Value Investing dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0896-3045-2810 (Johan)
Tags: , , , , , ,

You may also like

1 Comment

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami