mitos dalam pasar modal

Apakah Mitos Dalam Pasar Modal Benar Terjadi?


Mitos dalam pasar modal ?. Dalam era modern seperti saat ini, ternyata faktor mitos, takhayul, ataupun kepercayaan-kepercayaan lainnya masih banyak timbul dalam masyarakat secara luas. Tidak terkecuali dalam hal berinvestasi di pasar saham pun. Masih banyak juga yang mempercayai mitos-mitos yang mungkin secara logika tidak bisa diterima menggunakan akal sehat. Oleh karena itu, artikel kali ini akan membahas beberapa mitos yang percaya atau tidak, masih ada di sekeliling investor saham.

 

Chinese Numerology Effect

Dalam budaya masyarakat Chinese, angka memiliki arti yang spesial dan beberapa angka memiliki makna tertentu. Angka 6,8,9 diasosiasikan sebagai angka keberuntungan. Karena secara fonetik mirip dengan kata kemakmuran (angka 8), panjang umur (angka 9), dan lancar (angka 6). Sementara angka 4 diasosiasikan sebagai angka sial. Karena terdengar seperti kata “mati”. Misalkan saja Olimpiade Beijing dibuka pada tanggal 8 bulan 8 tahun 2008 jam 8.

 

Chinese Numerology Effect

Sebuah artikel dari David Hirshleifer dan Jian Zhang (Nanyang University). Meneliti apakah takhayul angka hoki berpengaruh pada pembentukan harga saham di bursa saham China. Penelitian dilakukan dengan menggunakan 1300 an sample perusahaan yang IPO di Shanghai Stock Exchange selama periode 1991 – 2005. Penelitian ini dimungkinkan karena Bursa Saham China menggunakan system 6 angka dalam ticker code mereka (jadi bukan menggunakan 4 abjad seperti di Bursa Saham Indonesia). Semua saham yang terdaftar di Shanghai Stock Exchange diawali dengan angka 6 (yang bisa jadi karena kepercayaan agar usahanya lancar).

Dalam penelitian tersebut, Hirshleifer dkk menemukan beberapa hal yang menarik. Sebagian besar investor di China ternyata percaya dengan angka hoki. Sehingga calon emiten juga berusaha untuk mendapatkan angka hoki dalam ticker code nya.

Hirshleifer dkk membagi saham-saham yang masuk ke dalam sample penelitian ke dalam 3 kategori :. Lucky (memiliki minimal 1 angka hoki tanpa angka 4). Unlucky (memiliki angka 4 dan tidak ada angka hoki). Serta Mixed (campuran antara memiliki angka 4 dan memiliki angka hoki). Hasilnya? 60% saham IPO dikategorikan sebagai “lucky stock”. 33% saham yang termasuk mixed stock. Dan hanya 7% emiten yang diketagorikan sebagai “unlucky”. Mayoritas emiten yang ticker code nya memiliki angka hoki adalah emiten besar. Hal ini mengindikasikan bahwa ada kemungkinan otoritas bursa di China juga “menjual” angka hoki tersebut kepada calon emiten.

Kepercayaan terhadap angka keberuntungan ternyata juga menjadi pertimbangan bagi investor saham di China. Saat IPO, investor yang menghargai “lucky stock” cenderung berani membayar dengan harga lebih tinggi ketimbang saham yang tidak memiliki angka hoki di dalam ticker code nya. Tingginya permintaan akan saham-saham dengan ticker code yang memiliki angka hoki akan membuat harga saham melambung tanpa bisa dijelaskan secara fundamental. Akibatnya selama beberapa tahun pasca IPO. Harga sahamnya menjadi overvalued (karena banyak juga kenaikan harga saham yang tidak dibarengi dengan kinerja yang lebih baik).

Salah satu kejadian yang cukup dikenal adalah ketika Yan Caigen. Seorang investor di Shanghai Stock Exchange, membeli 30.000 lembar saham perusahaan semen Jilin Yatai (Group) Co Ltd. Hanya karena ticker code / kode saham nya memiliki dua angka 8 di dalamnya (ticker code : 600881). Harga saham tersebut kemudian naik tiga kali lipat dan Yan Caigen meraih profit sekitar US$ 50.000.

 

Friday the 13th Effect

Jika tadi kita sudah melihat salah satu kepercayaan dari budaya timur. Maka budaya barat memiliki kepercayaan tersendiri. Dalam budaya barat, angka 13 merupakan angka yang membawa kesialan. Apalagi jika ternyata tanggal 13 jatuh pada hari Jumat. Jumat tanggal 13 diyakini sebagai hari yang membawa kesialan.

Apa hubungannya dengan pasar saham?. Kolb and Rodriguez (1987) melakukan penelitian bahwa Standard & Poor’s 500 stock index pada hari perdagangan yang jatuh pada Friday 13th lebih rendah dibandingkan return yang didapatkan pada hari Jumat biasa. Pada report berbeda yang dirilis oleh Ryan Detrick. Sejak tahun 1928 di mana sudah lebih dari 150 kali terjadi Friday the 13th. Dan selama itu pula, S&P 500 rata-rata mencetak return harian +0.02%. Angka ini lebih rendah ketimbang return harian +0.05% dari 4,467 hari Jumat biasa dari tahun 1928 sampai 2017. Jika diannualized atau disetahunkan, Friday 13th mencatatkan return tahunan +4.2%, jauh lebih rendah dibandingkan return tahunan +12.8% dari seluruh hari Jumat.

 

Bagaimana dengan di Indonesia?

Di Indonesia sendiri belum ada penelitian seperti fenomena Chinese Numerology Effect yang terjadi di China ataupun Friday The 13th yang terjadi di Amerika. Namun, kita sering mendengar beberapa fenomena seperti Window Dressing December, January Effect, Sell in May and Go Away. Misalkan January Effect yang terjadi di Indonesia dari tahun 1995 – 2017, IHSG naik sebanyak 16 kali, dan turun 7 kali di bulan Januari. Atau fenomena Window Dressing Desember yang terjadi di Indonesia selama 22 tahun terakhir (1995 – 2017), IHSG hanya pernah 1 kali memiliki kinerja negatif dalam bulan Desember (probabilitas 95%).

 

[Baca Lagi : Fenomena January Effect di Pasar Saham]

 

Selain fenomena di atas, bahkan ada juga yang menerapkan memprediksi arah pasar modal dari posisi planet dan gerak matahari (What ?!). Metode tersebut percaya bahwa posisi planet mempengaruhi psikologis seseorang. Jika posisi matahari dan bulan bertemu pada sudut 180 derajat maka akan membentuk bulan purnama, dan saat bulan purnama tersebut dipercaya pelaku pasar lebih banyak melakukan akumulasi saham.

 

Kesimpulan mitos dalam pasar modal

Berbagai fenomena dan mitos memang masih ada dan dipercayai oleh sebagian investor saham. Bagi investor saham yang mempercayai hal-hal yang bersifat takhayul atau mitos tersebut biasanya melakukan keputusan beli dan jual saham bukan berdasarkan analisa fundamental sebuah perusahaan. Hal ini turut serta membuat pasar modal jauh dari kondisi efisien. Aspek psikologis yang lebih banyak berpengaruh terhadap harga saham. Hal tersebut lah yang secara tidak langsung menghambat harga saham menyentuh harga wajarnya.

Meskipun di atas, kita melihat ada korelasi antara beberapa mitos dan kepercayaan dengan harga saham, namun sebagai value investor sebaiknya Anda tidak 100% mempercayai hal tersebut. Singkat katanya, cukup tahu saja… Namun tidak perlu sampai menjadikan hal tersebut 100% dalam membuat keputusan membeli dan menjual saham. Dalam membuat keputusan membeli dan menjual saham, hendaknya investor lebih memperhatikan aspek fundamental dan kinerja perusahaan itu sendiri.

 

Info:

  • Cheat Sheet LK Q1 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini
  • E-Book Quarter Outlook LK Q1 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Join Our Telegram Channel : t.me/ValueInvestingIndonesia untuk mendapatkan update tentang Value Investing. Gratis !
  • Jadwal Workshop Value Investing  dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0896-3045-2810 (Johan)

Tags : | mitos dalam pasar modal | mitos dalam pasar modal | mitos dalam pasar modal | mitos dalam pasar modal |

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami