Bulan Ramadan dan Pergerakan IHSG


Selama ini kebanyakan investor menganggap bahwa periode bulan Ramadhan (bulan Puasa) juga dikaitkan dengan periode puasa dalam berinvestasi, karena katanya selama bulan puasa. IHSG biasanya juga puasa di saat bulan Ramadhan. Apakah benar demikian? Mari kita cari tahu jawabannya…

 

Return IHSG di Bulan Puasa

Stigma bahwa di saat bulan puasa IHSG ikut berpuasa memang sudah cukup melekat di kalangan investor pasar modal. Sebenarnya hal tersebut bisa dipahami secara logika dan cukup masuk di akal mengingat bagi sebagian investor / trader, pasar modal bisa membawa emosi. Oleh karena itu, sebagian investor / trader memilih untuk menahan transaksinya selama bulan Ramadhan dan tidak melakukan kegiatan jual dan beli saham. Hal tersebut kemudian berujung pada turunnya volume transaksi.

Selain menepi dari pasar modal karena takut terbawa emosi, sebagian investor juga mengalokasikan dana trading nya untuk membeli keperluan persiapan Lebaran. Di bulan puasa memang biasanya pengeluaran cenderung meningkat, sehingga uang yang tadinya dipakai untuk trading, uangnya kemudian dipakai untuk keperluan lain mulai dari membeli baju baru, parsel untuk Lebaran, dll.

Namun apakah hal tersebut lantas membuat IHSG menjadi bergerak melemah? Berikut ini adalah snapshot pergerakan IHSG antara awal bulan puasa dengan akhir bulan puasa yang Penulis coba rangkum dalam beberapa tahun terakhir :

Tahun

Periode Bulan Ramadhan IHSG Awal Ramadhan IHSG Akhir Ramadhan

Perubahan IHSG %

2011

31 Juli – 29 Agustus 4,193 3,841 -8.4%

2012

19 Juli – 18 Agustus 4,096 4,160 +1.5%

2013

8 Juli – 7 Agustus 4,433 4,640

+4.6%

2014 28 Juni – 28 Juli 4,878 5,088

+4.3%

2015 17 Juni – 16 Juli 4,945 4,869

– 1.5%

2016

6 Juni – 5 Juli 4,896 4,971 +1.5%

2017

26 Mei – 24 Juni 5,716 5,829

+1.9%

2018 13 Mei – 12 Juni ???

Historical Return IHSG di Bulan Ramadhan 2011 – 2017

Kalau Anda lihat data pergerakan di atas, selama 7 tahun terakhir pergerakan IHSG menghasilkan hasil yang bervariasi (mixed). Misalkan pada tahun 2011 dan 2015, IHSG cenderung bergerak melemah dan memberikan return negative. Namun sebaliknya pada tahun 2012, 2013, 2014, 2016, dan 2017, IHSG justru cenderung bergerak menguat dan memberikan return positive. Jadi sekarang bisa kita simpulkan bahwa mitos yang mengatakan IHSG juga cenderung puasa (baca : turun) dalam periode bulan Ramadhan, bisa dikatakan kurang begitu tepat.

 

Awal dari Pergerakan IHSG Selanjutnya

Dengan rendahnya volume transaksi selama bulan puasa, memang bisa dikatakan bulan puasa merupakan periode tenang dalam pasar modal, di mana secara historical harga saham cenderung bergerak dengan volatilitas rendah dan berkurangnya berita-berita (baik berita positif maupun negatif) yang biasanya ramai menghiasi media massa. Namun disadari atau tidak, seringkali quiet period ini justru menjadi awal momentum dari pergerakan pasar selanjutnya, baik IHSG bergerak naik atau justru sebaliknya bergerak turun.

Setidaknya hal tersebut bisa kita lihat dalam 3 tahun terakhir. Pada saat bulan puasa di tahun 2015, ketika itu IHSG mulai turun dari posisi 5,000 an ke posisi 4,800-an. Namun market hanya tenang-tenang saja menyikapi IHSG yang turun 200 poin. Demikian pula tidak ada berita yang menghebohkan pada saat tersebut. Namun setelah periode lebaran usai di bulan Juli 2015, IHSG tanpa ampun langsung longsor dari 4,800 an ke 4,100 an dalam waktu 1 bulan (Agustus 2015). Barulah pada saat itu mulai keluar berita bahwa Indonesia akan mengalami krisis, Rupiah melemah signifikan terhadap Dollar, dsb.

 

Pergerakan IHSG Ramadhan dan Pasca Ramadhan 2015

 

Hal sebaliknya terjadi saat bulan puasa di tahun 2016 di mana market juga terbilang sangat sepi meskipun IHSG naik 1.5%. Bahkan karena saat itu berbarengan dengan Euro 2016, perhatian orang lebih tertuju pada perhelatan olahraga se-Eropa tersebut. Tidak lama setelah Lebaran usai, barulah pasar saham dikejutkan cerita Brexit yang memutuskan bahwa Inggris harus keluar dari Uni Eropa yang sempat membuat bursa saham di dunia kompak memerah. Setelahnya baru dilanjutkan dengan cerita tentang Tax Amnesty yang membuat IHSG naik begitu cepat dari 5,000 an ke 5,500 an dalam waktu 1 bulan dan hampir semua saham menghasilkan profit yang cukup signifikan.

Pergerakan IHSG Ramadhan dan Pasca Ramadhan 2016

 

Berkah Bagi Emiten Consumer Goods dan Emiten Retail ?

Bulan Ramadhan dan Lebaran, juga merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan emiten consumer goods dan emiten ritel, karena secara historical permintaan akan barang konsumsi dan retail akan mencapai peak (puncak) nya pada saat Periode menjelang Lebaran. Tidak heran, saham-saham yang bergerak di sektor konsumsi dan perdagangan retail menjadi primadona di kalangan investor.

Namun di tahun 2017 kemarin, hampir semua perusahaan ritel justru mengeluhkan daya beli masyarakat pada Lebaran tahun 2017. Penjualan berbagai produk jauh menurun dibandingkan Lebaran di tahun-tahun sebelumnya. Contohnya, pertumbuhan permintaan untuk produk makanan dan minuman yang biasanya bisa melonjak hingga 50 % pada Lebaran tahun-tahun sebelumnya. Namun di tahun 2017 kemarin, permintaan atas produk serupa hanya meningkat 10 % dibanding hari biasa. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor saham-saham Retail yang biasanya langganan naik selama bulan Puasa, seperti AISA, LPPF, MPPA, RALS, justru bergerak flat atau turun di Periode bulan Ramadhan dan Lebaran tahun 2017.

 

Kesimpulan

Volume perdagangan transaksi saham selama Bulan Ramadhan memang relatif rendah secara historical, namun hal tersebut tidak serta merta membuat IHSG turun dan menghasilkan return negatif. Pergerakan IHSG selama 7 tahun terakhir selama bulan Ramadhan memberikan hasil yang bervariasi, di mana 2 tahun IHSG bergerak turun dan memberikan return negatif, dan 5 tahun IHSG bergerak naik dan memberikan return positif.

Periode tenang selama Bulan Ramadhan juga seringkali menjadi awal momentum dari pergerakan IHSG selanjutnya. Oleh karena itu, sebagai investor kita juga perlu melihat apakah ada sentiment positif ataupun sentiment negatif setelah periode Lebaran. Jika ke depannya akan lebih banyak sentiment positif, maka bisa jadi Bulan Ramadhan merupakan periode yang tepat untuk mengakumulasi saham-saham yang memiliki fundamental bagus pada harga terdiskon.

Emiten Retail secara historical memang banyak mendapatkan keuntungan dari Periode menjelang Lebaran karena naiknya transaksi. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada tahun 2017 yang lalu di mana permintaan akan barang konsumsi dan jumlah transaksi di perusahaan retail justru cenderung flat dan menurun dibandingkan dengan Periode Lebaran di tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itu, sebagai investor hendaknya Anda tidak menjadikan faktor tersebut sebagai satu-satunya faktor keputusan dalam jual dan beli saham, melainkan tetap berfokus pada kinerja laporan keuangan dan valuasi saham yang bersangkutan. Semoga bermanfaat…

 

Info:

  • Cheat Sheet LK Q1 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini
  • E-Book Quarter Outlook LK Q1 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Join Our Telegram Channel : t.me/ValueInvestingIndonesia untuk mendapatkan update tentang Value Investing. Gratis !
  • Jadwal Workshop Value Investing (For Intermediate) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0896-3045-2810 (Johan)

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Saya adalah seorang Value Investor. Saya memulai investasi sejak tahun 2008 ketika saya berumur 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, saya berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Saat ini, saya memberikan jasa konsultasi kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko.

Like Us On Facebook

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami