Tips Pengambilan Keputusan Untuk Investor


Sewaktu Penulis masih bekerja pada sebuah perusahaan telekomunikasi di Indonesia, Perusahaan memiliki sebuah program yang disebut dengan Uncommon Friday, di mana pada setiap hari Jumat pagi, masing-masing divisi dapat melakukan sesi coaching dengan atasan masing-masing. Kebetulan waktu itu Penulis memiliki seorang atasan yang sangat bijaksana terhadap team. Penulis teringat satu momen, ketika beliau menceritakan sebuah kisah kepada team nya, termasuk Penulis.

Ceritanya kurang lebih seperti ini :

Ada seorang pemuda yang ingin pergi dari desa A ke desa B. Karena desa tersebut belum memiliki infrastruktur yang baik, satu-satunya penghubung antara desa A dan desa B adalah sebuah jembatan. Ketika hendak menyeberangi jembatan tersebut, ia ragu karena jembatan tersebut tampak sudah cukup usang dan kurang terawat.

Kebetulan di dekat situ, melintas seorang kakek yang sedang berjalan. Pemuda tersebut bertanya kepada kakek tersebut apakah jembatan itu aman untuk diseberangi? “Seingat Kakek sudah lebih dari 2 tahun tidak ada petugas yang datang untuk mengecek jembatan ini”, kata si Kakek. Pemuda ini kemudian mulai ragu untuk menyeberang di jembatan tersebut.

Kemudian, melintas lagi seorang ibu paruh baya di daerah tersebut, dan pemuda itu juga bertanya hal yang sama kepada ibu tersebut. Ibu itu kemudian berkata “Yang ibu tahu, aliran sungai cukup deras dan ada buaya di dekat sungai”. Pemuda itu makin ragu untuk menyeberang.

Agar lebih yakin, Pemuda itu juga bertanya sekali lagi hal yang sama kepada seorang bapak yang sedang berada di dekat situ juga. “Tahun lalu ada berita, ada orang yang jatuh dari jembatan, hanya Bapak tidak tahu benar atau tidak.”

Setelah bertanya kepada 3 orang, ketiganya memberikan informasi negatif kepada pemuda tersebut. Informasi yang didapat mengenai jembatan tersebut adalah : sudah 2 tahun tidak dirawat, di bawahnya ada aliran sungai cukup deras dan ada buaya, serta ada berita orang yang terjatuh di tahun lalu. Karena takut, akhirnya Pemuda tersebut memutuskan untuk tidak jadi menyeberang menggunakan jembatan tersebut.

Ketika hendak meninggalkan jembatan tersebut, tiba-tiba Pemuda tersebut melihat sekelompok anak kecil yang baru saja pulang sekolah, menyeberangi jembatan tersebut dengan wajah tanpa khawatir sama sekali. Ternyata anak-anak tersebut setiap hari menyeberangi jembatan tersebut untuk berangkat sekolah dan pulang sekolah. Pemuda tersebut hanya terdiam menyaksikan sekelompok anak kecil yang menyeberang tanpa rasa khawatir tersebut.

 

Semakin Banyak Informasi = Mengambil Keputusan Yang Tepat ?

Pemuda tersebut, seperti layaknya kita seorang investor, memang mencari informasi terlebih dahulu sebelum mengambil sebuah keputusan. Hanya saja, dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini, informasi bukannya sulit didapat, melainkan justru terlalu mudah dan terlalu banyak informasi yang masuk ke kepala kita, yang seringkali justru menyebabkan overload information.

Dalam beberapa kesempatan, Penulis sering menemukan seorang investor saham yang bergabung di banyak group saham. Harapannya, dengan bergabung di banyak group saham, ia akan lebih cepat mendapatkan informasi terbaru tentang perkembangan pasar saham.

Tidak hanya itu, ada juga tipikal investor / trader yang memiliki ruang kerja dengan 10 layar monitor, yang menampilkan informasi yang berbeda juga. Sama seperti di atas, harapannya adalah dengan memasang 10 layar monitor yang berbeda, ia akan menerima informasi lebih cepat dan dapat mengambil keputusan lebih cepat.

 

Kenal seseorang yang punya ruang kerja seperti ini?

 

Dengan bergabung di banyak group saham, atau memiliki ruang kerja dengan 10 layar monitor, kita berpikir bahwa kita akan selangkah lebih maju ketimbang investor lainnya dalam mendapatkan informasi, sehingga kita bisa menghasilkan profit lebih cepat ketimbang yang lain. Percayalah, dulu Penulis juga mempercayai hal tersebut, sampai Penulis membuktikan sendiri bahwa anggapan tersebut tidaklah benar.

Setidaknya inilah yang bisa Penulis sharing kepada Anda : Ketika kita menerima sebuah informasi yang positif, otak kita akan memproses informasi tersebut dan mengirimkan sinyal gembira dan antusias (Hype). Apabila informasi positif tersebut diulang berkali-kali, maka otak kita akan mengirimkan sinyal yang lebih kuat, sehingga kita akan merasa lebih percaya diri dan pada tahap tertentu akan mulai muncul rasa serakah (Greed).

Sebaliknya ketika kita menerima sebuah informasi yang negatif, otak kita akan memproses informasi tersebut dan mengirimkan sinyal negatif (pessimism). Apabila informasi negatif tersebut diulang berkali-kali, maka otak kita akan mengirimkan sinyal yang lebih kuat, sehingga kita akan merasa takut dan terancam (Fear).

Fear dan Greed yang ditimbulkan dari rangkaian informasi positif dan negatif tadi kemudian menguasai diri kita. Permasalahannya adalah apabila kita tidak bisa mengendalikan Fear dan Greed tersebut, kita cenderung mengambil keputusan yang tidak rasional (irrational decision). Seringkali keputusan yang tidak rasional tersebut membuat keputusan kita menjadi salah dan memberikan kita return yang lebih rendah

Efek yang Ditimbulkan dari Banyaknya Informasi yang Beredar

 

Nah kembali lagi kepada cerita Pemuda yang ingin menyeberang di atas, sebenarnya apa pesan moral yang ingin disampaikan? Cerita di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa banyaknya informasi yang kita terima tidak selalu berbanding lurus dengan pengambilan keputusan yang tepat.

 

Tips Meminimalisir Pengambilan Keputusan yang Irasional

Penulis sendiri dalam proses pengambilan keputusan lebih banyak menjadikan Laporan Keuangan (Financial Statement) dan Laporan Tahunan (Annual Report) dari Perusahaan sebagai patokan. Adapun berita-berita terkait tentang perusahaan, tidak Penulis telan mentah-mentah, melainkan diproses dan difilter terlebih dahulu.

Seringkali ketika kita memegang sebuah saham yang memiliki fundamental bagus pun, ketika terkena sentiment negatif, harga sahamnya akan ikut terpengaruh. Di saat itulah mentalitas kita sebagai seorang investor sedang diuji. Apakah kita mampu mengabaikan fluktuasi harga saham jangka pendek dan tetap berpegang pada fundamental perusahaan?

Terkait dengan hal tersebut, berikut adalah beberapa tips yang bisa Penulis berikan kepada Anda agar bisa meminimalisir pengambilan keputusan yang tidak rasional :

  1. Batasi jumlah berita dan informasi yang masuk ke kepala kita. Ingat bahwa tidak ada korelasi positif antara jumlah informasi yang masuk dengan ketepatan pengambilan keputusan.
  2. Hindari noise dari Rumor yang belum jelas kebenarannya. Kita juga perlu membedakan mana informasi yang bersifat rumor dan mana informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan kita. Jika sebuah informasi belum jelas kebenarannya (apalagi dari sumber yang tidak jelas) lebih baik abaikan saja.
  3. Jadikan Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan sebagai sumber utama informasi. Sebagai seorang investor, senjata utama kita adalah laporan keuangan dan laporan tahunan. Dalam laporan tahunan, kita bisa mengetahui A – Z kondisi perusahaan, karena sebagai perusahaan Go Public, perusahaan juga wajib transparan terhadap kondisi perusahaan kepada pemegang saham.

Semoga dengan memahami cara untuk memilih informasi yang masuk ke kepala kita, kita terhindar dari hal-hal yang membuat kita mengambil keputusan secara tidak rasional, dan tetap mampu berpikir secara jernih untuk mengambil keputusan investasi yang lebih tepat.

 

Info:

  • Monthly Investing Plan April 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q4 2017 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini
  • Join Our Telegram Channel : t.me/ValueInvestingIndonesia untuk mendapatkan update tentang Value Investing. Gratis !
  • Jadwal Value Investing Bootcamp (For Beginner) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0812-9828-9288 (Afiandy)
  • Jadwal Workshop Value Investing (For Intermediate) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0896-3045-2810 (Johan)

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Saya adalah seorang Value Investor. Saya memulai investasi sejak tahun 2008 ketika saya berumur 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, saya berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Saat ini, saya memberikan jasa konsultasi kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko.

Like Us On Facebook

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami