10 Kesalahan Umum Yang Sering Dilakukan Investor Saham Pemula


Disadari atau tidak, investor saham kerap kali melakukan kesalahan umum yang cukup berbahaya dalam berinvestasi.

Memang tidak semua investor saham melakukan kesalahan ini, namun kesalahan-kesalahan tersebut tidak sebaiknya dilakukan, apalagi berulang-ulang.

Apa saja kesalahan yang umum dilakukan investor saham? Berikut adalah 10 kesalahan umum yang sering dilakukan investor saham.

 

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

 

Berinvestasi saham sebetulnya adalah salah satu cara yang dapat membantu Anda mencapai tujuan keuangan Anda, apabila dilakukan secara tepat.

Sungguh sangat disayangkan apabila investor justru menelan kerugian yang sangat besar karena melakukan kesalahan-kesalahan yang cenderung konyol di pasar saham.

Ada setidaknya 10 jenis kesalahan berinvestasi yang sering dilakukan oleh investor saham, terutama oleh investor saham yang masih pemula. Kesalahan-kesalahan ini, pada ujungnya juga akan menyebabkan kerugian yang besar dalam berinvestasi. Apa saja 10 jenis kesalahan berinvestasi yang umum dilakukan oleh para investor saham tersebut?

Mari kita bahas satu per satu!

 

#1 Mencoba Menangkap Pisau Jatuh

Pisau jatuh (falling knife) merupakan sebuah istilah untuk menggambarkan fenomena turunnya harga sebuah saham dalam waktu singkat. Kejadian pisau jatuh ini bisa saja disebabkan oleh faktor fundamental seperti turunnya laba bersih, atau karena faktor emosional seperti dorongan sentimen investor yang negatif.

Biasanya, membeli saham saat harganya sedang jatuh mengandung risiko yang tinggi. Saham falling knife bisa memantul, tapi juga bisa jatuh terus menerus.

Karena itu, janganlah terlalu terburu-buru untuk menangkap pisau. Idealnya, tunggu sampai pisau tergeletak di lantai. Bagaimana maksudnya tergeletak di lantai? dalam hal ini yaitu ketika harga saham telah bergerak secara stabil. Hal lain yang tidak kalah penting, cermati penyebab kejatuhan harga sahamnya dan lakukan analisis fundamental yang mendalam sebelum memutuskan untuk membeli saham tersebut

 

#2 Takut Membeli Saham Saat Pasar Bearish

Kondisi ekonomi bergerak secara siklus, terkadang di atas, terkadang di bawah. Saat perekonomian bagus, bursa saham bergairah dan mengangkat harga saham naik (bullish). Investor pun lebih menyukai membeli saham saat pasar bullish.

Sebaliknya, saat ekonomi memburuk, bursa saham akan lesu, dan investor akan pesimis. Hal ini pun akan mempengaruhi harga saham, sehingga nilainya akan turun (bearish).

Jika kita lihat dengan seksama, pasar yang bearish menawarkan kesempatan investasi untuk membeli saham bagus dengan harga murah. Misalnya pada awal tahun 2016, saham komoditas batu bara sedang tertekan sampai nilainya jauh di bawah ekuitasnya.

Saat ekonomi membaik, dan harga batu bara kembali naik, saham-saham tersebut pun kembali naik sesuai harga wajarnya.

 

#3 Mudah Putus Asa

Memiliki saham, artinya memiliki sebagian kecil persentase dari sebuah bisnis. Investasi saham pun dapat dianalogikan dengan berbisnis. Anda pun harus siap dengan risiko yang ada, yaitu ketidakpastian. Artinya, Anda harus siap bukan hanya kalau mendapat keuntungan, tapi juga siap terhadap risiko kerugiannya.

Pengusaha yang sukses pasti pernah mengalami jatuh bangun dalam menjalankan bisnisnya. Demikian pula dengan investor saham, ketika Anda sebagai investor saham pemula membuat kesalahan dalam investasi, jangan mudah putus asa dan meninggalkan bursa.

Belajarlah dari kegagalan tersebut, dan perbaiki cara investasinya, sehingga Anda dapat menjadi investor cerdas bermental baja.

Inilah 10 Alasan Mengapa Anda Harus Berinvestasi Saham 04 - Finansialku

 

#4 Jatuh Cinta Pada Satu Saham

Ada sebuah ungkapan mengatakan “cinta itu buta”. Hal ini juga berlaku pada pasar saham. Jatuh cinta pada suatu saham sangatlah berbahaya, karena membuat investor saham menjadi tidak rasional dalam menilai sahamnya.

Saat seorang investor sudah jatuh cinta kepada sebuah saham, ia pun cenderung mengabaikan hal buruk tentang saham favoritnya, hanya ingin mendengar hal baik saja (confirmation bias).

Investor dapat jatuh cinta terhadap sebuah saham karena ada keterkaitan emosi. Misalnya, bisa saja dia mendapatkan saham warisan (legacy stockholders), atau dia adalah karyawan perusahaan tersebut (employee stockholders), atau orang yang setia dengan suatu merek (brand loyalist).

Jangan jatuh cinta terhadap sebuah saham ! Gunakanlah saham sebagai rakit yang dapat menuntun Anda ke pantai seberang yaitu tujuan keuangan Anda, tapi jangan melekatinya.

 

 

#5 Tidak Melakukan Diversifikasi

Masalah berikutnya adalah investor saham tidak melakukan diversifikasi investasi. Poin ini terkait dengan poin sebelumnya, bila seorang investor jatuh cinta pada satu saham, maka dia akan enggan untuk mendiversifikasi portofolionya.

Padahal, diversifikasi dapat menurunkan risiko investasi. Bila seorang investor menaruh uangnya hanya pada satu saham yang dipercayainya, tentunya hal ini kurang bijaksana dan sangat berisiko.

Diversifikasi portofolio ini juga dikenal dengan ungkapan: “Jangan menaruh semua telurnya ke dalam satu keranjang”. Tentunya karena kita tidak akan tahu bila keranjang ini akan jatuh dan memecahkan semua telur yang ada di dalamnya.

Diversifikasi ini pun dapat Anda lakukan dalam 2 cara:

  1. Simpanlah dana Anda pada beberapa pilihan saham dari industri yang berbeda. Semakin tidak berhubungan industrinya, semakin kecil efeknya dalam mengurangi risiko.
  2. Anda juga dapat melakukan diversifikasi waktu. Dengan membeli saham yang sama di waktu yang berbeda, nilai rata-rata harga beli Anda pun tidak akan terlalu tinggi.

 

#6 Mengikuti Kerumunan

Kebanyakan investor saham cenderung mengikuti kerumunan (follow the herd) tren pasar. Saat sebuah saham sedang tren karena harganya terus melejit, para investor akan berbondong-bondong membelinya.

Sebaiknya seorang investor bijak memilih instrumen untuk diinvestasikan. Jangan mudah tergiur hanya karena semua orang sibuk ingin membeli sebuah instrumen investasi. Lakukanlah diversifikasi investasi untuk meminimalkan risiko.

 

#7 Terbawa Panic Selling

Berkebalikan dengan poin sebelumnya. Bila dalam follow the herd para investor berbondong-bondong ingin membeli sebuah instrumen investasi yang harganya melejit (euforia), maka panic selling adalah peristiwa yang terjadi karena para investor berpanik ria akan kejatuhan harga saham.

Dalam fenomena panic selling, para investor ingin segera melepas sahamnya tanpa peduli harganya, karena takut harganya akan semakin jatuh. Tindakan ini dipicu oleh emosi dan ketakutan daripada analisis yang rasional.

Hindarilah menjual saham karena terbawa kepanikan. Analisislah saham yang ingin Anda jual, apakah secara fundamental saham tersebut masih layak Anda pegang.

Ingat! Memiliki saham yang bagus sama saja seperti memiliki seperbagian kecil dari perusahaan yang bagus dan bonafid. Mengapa Anda harus menjualnya dengan harga yang murah?

 

#8 Terlalu Banyak Melakukan Trading

Terlalu banyak melakukan trading, juga dapat meningkatkan risiko kerugian.

Menurut Prof. Barber dan Prof. Odean (Journal of Finance, 2000), semakin sering seseorang melakukan trading, semakin rendah imbal hasil yang diperolehnya.

Kedua profesor tersebut mengatakan: “Trading is hazardous for your wealth” yang artinya:Trading berbahaya untuk kekayaan Anda.

Siapa yang untung banyak jika Anda melakukan trading? Tentunya adalah broker Anda, fee yang diterima oleh broker akan semakin besar jika Anda semakin sering melakukan trading.

 

#9 Membeli Saham Gorengan

Apa itu saham gorengan? Saham gorengan adalah saham yang harganya berfluktuasi sangat tajam karena pergerakannya dimanipulasi oleh sekelompok trader yang kita sebut bandar saham.

Saham gorengan dapat Anda kenali dari kapitalisasi pasarnya yang rendah dan likuiditasnya rendah.

 

Saham ini seringkali sepi perdagangannya, namun dalam satu waktu harganya bisa melonjak seiring dengan jumlah transaksi yang besar. Pada waktu inilah saham ini sedang “digoreng”.

Seringkali fundamental perusahaan saham gorengan tidak jelas. Harganya pun sering naik turun tanpa sebab yang jelas. Karena lonjakan harganya yang tidak didukung faktor fundamental, sebaiknya Anda hindari saham jenis ini untuk menghindari risiko yang tidak diperlukan.

 

#10 Memiliki Mental Penjudi

Trader atau investor saham dengan mental penjudi tidak ada bedanya dengan penjudi yang ada di kasino. Rata-rata mereka memiliki karakter:

  • Ingin meraup untung dalam waktu singkat.
  • Tidak memiliki perencanaan dan perhitungan, bahkan tidak memahami probabilitas.
  • Tidak tahu kapan harus berhenti berjudi
  • Berjudi berdasarkan emosi atau asal nekad.

Kesalahan Umum Investor Saham

 

Seorang investor saham professional senantiasa mencermati Laporan Keuangan perusahaan dan melakukan analisis fundamental sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada saham tersebut. Selain metode teknis, seorang investor saham juga mampu mengelola keuangan (money management) dengan baik dan benar.

 

Jadilah Investor Saham yang Bijak

Ada banyak cara untuk berinvestasi saham. Dr. Alexander Elder, seorang ahli psikologi dan trader profesional, mengatakan ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam berinvestasi, yaitu MethodMoney, dan Mind.

Terutama Mind, harus dapat dikendalikan oleh seorang investor saham agar tidak melakukan 10 kesalahan konyol yang dibahas di atas.

Selain itu dengan adanya Money Management yang tepat, 10 kesalahan tersebut pun bisa Anda minimalisasi.

 

Sumber Referensi :

 

Info:

  • Cheat Sheet LK Q4 2017 sudah terbit, Anda dapat pre-order di sini
  • E-Book Quarter Outlook LK Q4 2017 sudah terbit, Anda dapat pre-order di sini.
  • Join Our Telegram Channel : t.me/ValueInvestingIndonesia untuk mendapatkan update tentang Value Investing. Gratis !
  • Jadwal Value Investing Bootcamp (For Beginner) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0812-9828-9288 (Afiandy)
  • Jadwal Workshop Value Investing (For Intermediate) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0896-3045-2810 (Johan)

 

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Saya adalah seorang Value Investor. Saya memulai investasi sejak tahun 2008 ketika saya berumur 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, saya berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Saat ini, saya memberikan jasa konsultasi kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko.

Like Us On Facebook

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami