Laba Bersih Tidak Menjamin Perusahaan Pasti Bagus, Ini Alasannya…


Dalam membaca Laporan Keuangan, kebanyakan investor seringkali hanya terfokus memperhatikan laba bersih sebagai patokan dalam memilih saham. Seringkali pula investor menganggap bahwa apabila laba bersih mengalami kenaikan, maka fundamental perusahaan akan semakin baik. Meskipun tidak salah, namun anggapan seperti itu tidak 100% benar. Bahkan banyak investor yang hanya menjadikan informasi rekapitulasi laba bersih Emiten dari perusahaan sekuritas sebagai pegangan. Namun tahukah Anda bahwa laba bersih tidak menjamin Perusahaan benar-benar untung?

Informasi laba bersih (Net Profit) yang kita dapatkan dari Laporan Laba Rugi (Income Statement) memang memberikan informasi kepada para investor mengenai berapa besar keuntungan yang tersisa setelah Perusahaan membayarkan sejumlah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam periode tertentu. Logika nya apabila laba bersih naik maka fundamental perusahaan semakin baik dan harga sahamnya akan cenderung naik. Namun dalam kenyataannya, ada beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia yang dalam laporan keuangannya mencetak laba bersih yang positif / meningkat namun harga sahamnya tidak kunjung naik. Mengapa demikian? Ternyata, laba bersih bukanlah satu-satunya faktor yang diperhatikan oleh seorang investor yang berpengalaman.

Investor yang berpengalaman tahu, bahwa pada prakteknya, Perusahaan juga memiliki kebebasan untuk melaporkan Pendapatan dan laba bersih dalam Laporan Laba Rugi. Meskipun tidak selalu menyalahi aturan PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan), namun tidak jarang laporan laba rugi dibuat sedemikian menarik untuk menarik minat para investor. Namun ada satu hal yang tidak dapat disembunyikan atau dilebih-lebihkan oleh Perusahaan, yaitu Laporan Arus Kas. Laporan Arus Kas adalah laporan yang mendokumentasikan arus uang masuk dan uang keluar Perusahaan dalam sebuah periode tertentu. Perbedaan antara Laporan Arus Kas dengan Laporan Laba Rugi akan sedikit membingungkan untuk dipahami pada awalnya, namun mari kita bahas lebih lanjut…

Apakah Profit Sama Dengan Cash Flow ?

Hal yang perlu kita ketahui adalah profit tidak sama dengan cash flow. Sebuah perusahaan bisa saja menghasilkan profit dalam jumlah besar namun tetap tidak mampu membayar tagihan kepada supplier. Bagaimana bisa? Bayangkan Anda memiliki sebuah perusahaan jasa percetakan, di mana Anda memiliki klien customer besar yang memberikan order printing kepada Anda sebesar Rp 100 juta. Biaya yang perlu Anda keluarkan untuk menjalankan order printing tadi totalnya Rp 40 juta. Artinya Anda sebagai pemilik jasa printing dapat melaporkan laba bersih sebesar Rp 60 juta dalam Laporan Laba Rugi.

Namun Laporan Laba Rugi tidak memberikan informasi mengenai kapan kas tersebut berpindah tangan? Misalkan klien Anda membayarkan Rp 100 juta tadi tidak dalam bentuk cash, melainkan dalam bentuk kredit yang akan dibayarkan dalam jangka waktu 30 hari. Di sisi lain, Anda sebagai pemilik jasa printing tadi harus membayar supplier Anda sebesar Rp 40 juta dalam waktu 10 hari. Hal ini tentu saja akan menimbulkan masalah. Dari mana Anda akan membayar Rp 40 juta nya kepada supplier sementara klien Anda baru membayar order Rp 100 juta tadi di hari ke 30?

Ilustrasi Cash Flow Perusahaan

 

Contoh di atas mengindikasikan bahwa Profit tidak sama dengan Cash. Bahkan Perusahaan yang membukukan keuntungan / profit di dalam Laporan Laba Rugi nya, mungkin saja tidak mampu untuk membayar tagihan kepada supplier apabila Perusahaan kehabisan sejumlah Kas. Dari contoh ini, kita juga mendapatkan informasi bahwa kas masuk tidak dicatat saat terjadinya Penjualan, melainkan pada saat klien / customer tersebut benar-benar membayar tagihan yang kita keluarkan. Sebaliknya, kas keluar tidak dicatat pada saat Perusahaan melakukan pembelian, melainkan pada saat Perusahaan benar-benar membayar kepada supplier. Oleh karena itu, Laporan Arus Kas sangat penting untuk diperhatikan agar kita sebagai investor juga memiliki informasi apakah Perusahaan mampu untuk membayar tagihan nya tepat waktu.

Permasalahan yang akan terjadi apabila Perusahaan tidak mampu menjaga arus kas nya, tentu saja Supplier akan lebih berhati-hati dalam memberikan supply kepada Perusahaan, yang akan berakibat pada menurunnya Pendapatan dan juga Laba Bersih di masa yang akan datang. Atau skenario lainnya adalah apabila Perusahaan akhirnya tidak dapat membayar tagihan tepat waktu, maka Perusahaan akan terkena Penalty Fee yang berakibat pada tambahan biaya yang harus dikeluarkan, dan akan menekan laba bersih perusahaan di masa yang akan datang.

Lebih jauh lagi, Laporan Arus Kas ini sebenarnya mampu menjadi indikasi apakah Perusahaan benar-benar adalah Perusahaan yang profitable, ataukah hanya perusahaan yang hanya untung di atas kertas? Apabila Perusahaan mencatatkan Laba Bersih yang positif, namun memiliki arus kas yang bermasalah, maka bisa dikatakan bahwa Perusahaan tersebut kemungkinan hanya untung di atas kertas. Sebaliknya apabila Perusahaan memiliki laba bersih yang positif dan arus kas yang baik pula, maka bisa dikatakan perusahaan tersebut benar-benar profitable.

 

Contoh Kasus Perusahaan Profit yang Menjadi Rugi Karena Memiliki Masalah Dalam Cash Flow

Salah satu contoh kasus yang bisa kita pelajari adalah kasus Seven Eleven yang dikelola oleh PT Modern International (MDRN). Di tahun 2014, Perusahaan masih mencatatkan keuntungan sekitar Rp 39 miliar dalam Laporan Laba Rugi nya. Namun di tahun yang sama pula, MDRN mencatatkan penurunan kas dari Rp 133 miliar menjadi Rp 35 miliar. Ini menjadi tanda-tanda awal bahwa kondisi fundamental MDRN sedang bermasalah. Dan benar saja ketika memasuki tahun 2015, untuk pertama kalinya MDRN mulai mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 55 miliar, dan jumlah kas pun terus berkurang. Akhirnya, Seven Eleven pun resmi ditutup pada pertengahan tahun 2017 kemarin.

 

Seven Eleven yang sempat booming harus dinyatakan tutup di Indonesia pada tahun 2017

 

Penyebab dari terus menerus berkurangnya jumlah cash MDRN ini adalah ekspansi besar-besaran yang dilakukan (Investing Cash Flow) tidak diseimbangkan dengan pemasukan kas dari aktivitas operasionalnya (Operation Cash Flow). Sebagai gambaran, di tahun 2014 MDRN mengeluarkan investing cash flow sejumlah Rp 527 miliar, namun hanya menghasilkan kas dari aktivitas operasional sebesar Rp 21.5 miliar. Anda bisa bayangkan kalau Anda di posisi di mana Anda harus mengeluarkan uang ratusan miliar namun “hanya” menghasilkan puluhan miliar dari bisnis Anda? Ekspansi yang tidak diiringi kemampuan menghasilkan kas ini lah yang menyebabkan akhirnya MDRN harus menderita kerugian, tidak dapat membayar hutang-hutangnya, dan harus menutup operasional Seven-Eleven.

 

Kesimpulan

Sekarang Anda sudah mengetahui bahwa laba bersih bukanlah segalanya. Ada banyak faktor yang harus diperhatikan selain Laba Bersih, salah satunya adalah Arus Kas yang baru saja kita bahas dalam artikel ini. Perusahaan yang mencatatkan laba bersih positif dalam Laporan Laba Rugi, belum berarti memiliki fundamental yang baik apabila memiliki masalah dalam arus kas nya. Perusahaan yang profitable namun memiliki masalah dalam arus kas nya mengindikasikan bahwa Perusahaan hanya untung di atas kertas. Lebih jauh lagi, arus kas yang bermasalah berpotensi membuat perusahaan yang tadinya memperoleh untung menjadi perusahaan yang harus menanggung kerugian. Semoga sekarang Anda lebih peka lagi dalam menganalisa Laporan Keuangan Perusahaan.

 

Info:

  • Cheat Sheet LK Q4 2017 sudah terbit, Anda dapat pre-order di sini
  • E-Book Quarter Outlook LK Q4 2017 sudah terbit, Anda dapat pre-order di sini.
  • Join Our Telegram Channel : t.me/ValueInvestingIndonesia untuk mendapatkan update tentang Value Investing. Gratis !
  • Jadwal Value Investing Bootcamp (For Beginner) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0812-9828-9288 (Afiandy)
  • Jadwal Workshop Value Investing (For Intermediate) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0896-3045-2810 (Johan)

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Saya adalah seorang Value Investor. Saya memulai investasi sejak tahun 2008 ketika saya berumur 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, saya berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Saat ini, saya memberikan jasa konsultasi kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko.

Like Us On Facebook

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami