Pengaruh Fed Rate

Kenaikan Fed Rate dan Pengaruhnya Terhadap IHSG


Pada tahun 2017 lalu, investor asing mencatatkan Net Sell sebanyak Rp 45 triliun di IHSG. Salah satu hal yang menyebabkan investor asing mencatatkan Net Sell adalah pada tahun 2017 kemarin The Fed beberapa kali menaikkan suku bunga Fed Rate dari 0.25% hingga ke 1.5%. Namun ketika dana investor asing berhamburan keluar, di tahun 2017 kemarin IHSG bukannya melemah namun justru menguat 19.99% sepanjang tahun. Nah pertanyaannya dengan di tahun 2018 ini The Fed kembali berencana untuk menaikkan suku bunga 3X di bulan Maret, Juni, dan September, bagaimana pengaruhnya terhadap IHSG ke depannya?

 

Sekilas Tentang The Fed dan Sejarah Fed Rate

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, Penulis coba menjelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan Fed Rate. Fed Rate adalah tingkat suku bunga yang dijadikan acuan bagi suku bunga pinjaman Bank dan lembaga keuangan di Amerika Serikat. Fed Rate ini kalau di Indonesia mungkin lebih familiar disebut dengan BI Rate. Kalau BI Rate dikeluarkan oleh Bank Indonesia, maka Fed Rate dikeluarkan oleh The Fed di Amerika.

Sedikit flashback ke belakang, sejak Desember 2008 Fed Rate telah berada di level yang sangat rendah yaitu 0.25%. Pada tahun tersebut The Fed menurunkan suku bunga karena pada tahun 2008 perekonomian Amerika Serikat sedang lesu-lesunya dan mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah. Bahkan setahun setelahnya (tahun 2009), pertumbuhan ekonomi di Amerika sempat tercatat sampai negatif 4.2%. Dan sama hal nya seperti BI Rate, The Fed mengendalikan tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan Fed Rate tadi.

Jadi, untuk kembali meningkatkan pertumbuhan ekonomi Amerika yang sedang lesu, Fed Rate kemudian menurunkan tingkat suku bunga nya dari 3.5% ke 0.25%. Tujuannya adalah “memaksa” Bank dan Lembaga keuangan untuk menyalurkan kredit ketimbang hanya memarkir dana nya di The Fed. Kalau Bank dan Lembaga keuangan di Amerika hanya mau menaruh dana di The Fed, praktis mereka hanya akan menerima bunga yang sangat kecil, yaitu 0.25%. Jadi mereka lebih baik menyalurkan dana nya dalam bentuk kredit untuk membantu usaha-usaha yang ada untuk berekspansi, sehingga akan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan, dan menumbukan perekonomian di Amerika. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa melihat data Pertumbuhan Ekonomi Amerika dan Fed Rate selama 10 tahun terakhir di bawah ini…

Pertumbuhan Ekonomi di Amerika (Atas) dan Fed Rate (Bawah).

Perhatikan ketika Pertumbuhan Ekonomi lesu, The Fed menurunkan Fed Rate

 

Lebih lanjut lagi, ketika Fed Rate diturunkan ke 0.25%, maka bukan hanya suku bunga tabungan saja yang menjadi rendah, melainkan kupon obligasi yang dikeluarkan perusahaan Amerika juga menjadi rendah, sehingga para Asset Management di Amerika pastinya mencari instrumen investasi lain yang bisa memberikan return lebih daripada yang ditawarkan oleh return obligasi tersebut. Hal tersebut yang kemudian membuat banyak Asset Management menempatkan investasi nya di negara-negara berkembang, termasuk salah satunya adalah Indonesia.

Dalam historical IHSG sendiri selama periode 2009 – 2016, terlihat bahwa komposisi investor asing lebih banyak mendominasi IHSG. Secara historical, investor asing mendominasi IHSG dengan komposisi sekitar 58% – 68%, sebelum investor domestik mulai mengambil alih di tahun 2017 kemarin karena kampanye Yuk Nabung Saham. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa baca kembali artikel tentang kepemilikan investor asing di IHSG di sini.

 

Grafik Komposisi Kepemilikan Investor periode 2007 – 2016

(Source: www.idx.co.id)

 

Kalau The Fed menurunkan Fed Rate saat perekonomian Amerika sedang lesu, bagaimana di Indonesia? Di Indonesia sendiri ceritanya kurang lebih sama. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat memburuk ketika tahun 2008 – 2009, di mana tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia jatuh ke 4%, yang membuat Bank Indonesia menurunkan BI Rate dari 9% ke 6.5%. Demikian pula pada tahun 2015, ketika Indonesia hanya mencatatkan pertumbuhan ekonomi 4.8%, membuat Bank Indonesia kembali menurunkan BI Rate secara bertahap dari 7.5 % menjadi 4.25%. Untuk lebih lanjutnya, bisa lihat data Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan BI Rate selama 10 tahun terakhir di bawah ini…

 

Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia (Atas) dan BI Rate (Bawah).

Perhatikan ketika Pertumbuhan Ekonomi lesu, Bank Indonesia menurunkan BI Rate

 

Nah kembali pada permasalahan awal, di tahun 2017 kemarin akhirnya The Fed untuk pertama kalinya menaikkan suku bunga secara bertahap dari 0.25% ke 1.5%. Salah satu penyebabnya adalah karena pertumbuhan ekonomi di  Amerika sendiri sudah cukup stabil selama beberapa tahun terakhir. Per Desember 2017, tingkat pertumbuhan ekonomi Amerika adalah sekitar 2.5%, yang artinya sudah jauh lebih baik dari tahun 2008 dan 2009 (bisa cek kembali historical pertumbuhan ekonomi di Amerika di atas). Sejauh ini, tidak ada yang tahu sampai level berapa The Fed akan menaikkan suku bunga ke depannya. Karena berdasarkan historical, Fed Rate juga pernah berada di level 19% pada awal 1980 an. Oleh karena itulah, negara-negara berkembang kemudian ikut menaikkan suku bunga acuan agar mata uang nya tidak melemah. Di Asia sendiri, beberapa negara yang sudah terlebih dulu menaikkan suku bunga acuan adalah Malaysia, Korea Selatan, sampai Malaysia.

 

Dilema yang Dihadapi Bank Indonesia

Nah bagaimana dengan Bank Indonesia? Apakah Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga BI? Saat ini Bank Indonesia hanya memiliki dua pilihan, yaitu mempertahankan BI Rate di 4.25% atau kembali menaikkan suku bunga, karena opsi menurunkan kembali BI Rate ke 4.0% jelas sudah tidak memungkinkan. Nah di sini lah letak dilema nya.

Opsi pertama adalah Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 4.25%. Hal positifnya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa semakin melaju. Pemerintah sendiri di tahun 2018 mentargetkan pertumbuhan ekonomi di angka 5.4%. Perlu dicatat bahwa 5.4% ini bukan the best performance nya negara kita. Beda dengan Amerika tadi, di mana untuk pertumbuhan ekonomi 2.5% sudah terbilang bagus untuk ukuran negara maju, namun angka 5.4% bukan prestasi terbaik Indonesia. The best performance nya Indonesia adalah di level pertumbuhan ekonomi 6.75% ketika di tahun 2011. Dengan kata lain, Indonesia sedang dalam siklus ekonomi Early Recovery. Nah dengan BI Rate tetap di 4.25% tentu akan membantu pemerintah untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Namun risikonya, yaa itu tadi akan terjadi capital outflow secara besar-besaran. Karena para Asset Management pastinya berpikir lebih baik kembali menyimpan uangnya di The Fed yang nyaris tanpa risiko, ketimbang harus menyimpan uangnya di Indonesia yang notabene baru meraih Investment Grade dari S&P di tahun 2017 kemarin.

Baca Lagi : Bagaimana Investment Grade Bisa Mempengaruhi IHSG

 

Opsi kedua adalah Bank Indonesia kembali menaikkan BI Rate mengikuti The Fed. Skenarionya berkebalikan dengan opsi pertama tadi. Di mana hal positif dengan kembali dinaikkannya BI Rate adalah dapat menahan capital outflow. Dimana Indonesia juga masih membutuhkan dana investasi dari negara luar. Namun, sebaliknya risiko nya adalah target pertumbuhan ekonomi akan lebih sulit lagi untuk tercapai, karena Bank dan Lembaga Keuangan di Indonesia praktis akan mengurangi penyaluran kredit dan memilih untuk menyimpan uangnya di Bank Indonesia. Bank Indonesia sendiri biasanya menaikkan BI Rate dengan tujuan untuk menahan inflasi agar tidak terlalu tinggi, seperti yang terjadi di tahun 2013. Sedangkan di awal 2018 ini saja inflasi masih relatif rendah yaitu 3.25%.

Penulis sendiri melihat setidaknya untuk saat ini, Bank Indonesia akan tetap mempertahankan BI Rate nya di 4.25%. Namun jika ternyata The Fed benar-benar menaikkan Fed Rate ke level di atas 2%, maka saat itulah kemungkinan Bank Indonesia akan kembali menaikkan BI Rate.

 

Bagaimana Dampak Kenaikan The Fed Terhadap Pasar Saham ?

Meskipun sejumlah analis mengatakan bahwa The Fed erat kaitannya dengan IHSG, namun Penulis tidak melihat demikian. Secara teori, ketika Fed Rate naik maka dana investor akan berhamburan keluar menuju Amerika, dan IHSG akan bergerak turun. Namun secara historical tidak selalu terjadi seperti itu. Kita sudah menyaksikan sendiri bahwa di tahun 2017 kemarin ketika investor asing mencatatkan Net Sell Rp 45 triliun, IHSG justru bergerak menguat 19.99% sepanjang tahun. Sebaliknya ketika Fed Rate masih adem ayem di level 0.25%, IHSG tercatat 2X mengalami periode bearish, yaitu ketika IHSG mengalami penurunan di tahun 2013 dan 2015.

Berkaca pada situasi di mana saat ini investor asing relatif tidak memegang barang di pasar saham Indonesia, maka Penulis melihat efek kenaikan The Fed sebanyak 3x di tahun 2018 ini tidak akan terlalu berpengaruh secara signifikan. Apakah itu artinya IHSG tidak akan turun? Enggak juga… Maksud yang ingin Penulis sampaikan adalah Fed Rate bukan faktor satu-satunya yang menentukan naik atau turunnya IHSG. Melainkan ada banyak faktor lainnya yang mempengaruhi naik atau turunnya IHSG seperti nilai tukar rupiah, valuasi IHSG itu sendiri, pertumbuhan ekonomi, dll…​ Jadi, kalau IHSG nanti memang bergerak turun, maka bukan berarti hanya dipengaruhi oleh naiknya Fed Rate, melainkan mix and match dari faktor-faktor di atas juga…

 

Info:

  • Cheat Sheet LK Q4 2017 sudah terbit, Anda dapat pre-order di sini
  • E-Book Quarter Outlook LK Q4 2017 sudah terbit, Anda dapat pre-order di sini.
  • Join Our Telegram Channel : t.me/ValueInvestingIndonesia untuk mendapatkan update tentang Value Investing. Gratis !
  • Jadwal Value Investing Bootcamp (For Beginner) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0812-9828-9288 (Afiandy)
  • Jadwal Workshop Value Investing (For Intermediate) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0896-3045-2810 (Johan)

Tags: , ,

You may also like

2 Comments

  • EventNewspk
    March 8, 2018 at 12:44 PM

    petani kopi lelah lesu

  • George
    March 8, 2018 at 2:59 PM

    Kalau ditarik jauh kebelakang, pertumbuhan Indonesi pernah diangkat 2 digit (1968/10.9%; 1969/6.8%; 1970/7.5%; 1971/7.0%).

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami