Memahami Divestasi Bisnis dan Bagaimana Menghadapinya


Beberapa waktu yang lalu kita sempat membahas mengenai efek positif dan efek negatif pada hutang (kalau belum baca artikel nya Anda bisa baca kembali artikel nya di sini), pada artikel kali ini kita akan membahas sebuah istilah yang mungkin baru pertama kali Anda dengar, yaitu Divestasi. Pada artikel kali ini, kita akan membahas apa itu divestasi? Apa dampak dari Divestasi yang dilakukan perusahaan? Serta bagaimana seorang Investor harus menyikapi Divestasi?

 

Memahami Pengertian dan Definisi Divestasi.

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata divestasi? Bagi Anda yang baru pertama kali mengenal kata divestasi, berikut adalah pengertian divestasi..

 

Definisi Divestasi menurut Wikipedia adalah :

“Pengurangan jenis aset baik dalam bentuk finansial atau barang dari bisnis yang dimiliki oleh sebuah perusahaan”.

 

Setelah membaca definisi di atas, Divestasi berkebalikan dengan Investasi, di mana Investasi terjadi ketika Perusahaan membeli sejumlah aset yang diharapkan dapat memberikan keuntungan yang lebih besar di masa yang akan datang, sementara Divestasi adalah pengurangan jenis aset yang dimiliki oleh perusahaan. Dari definisi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa divestasi memiliki konotasi yang cenderung negatif karena kata kunci nya adalah pengurangan jenis aset.

Misalkan ada seseorang memiliki sejumlah aset saat ini, namun karena satu dan lain hal orang tersebut memutuskan untuk menjual rumah nya. Terlepas dari apapun alasan orang tersebut menjual rumahnya, namun kemungkinan besar kita akan berpikir bahwa orang tersebut sedang mengalami kesulitan finansial (meskipun belum tentu demikian).

Apa yang Ada di pikiran Anda jika seseorang menjual rumah?

 

Dalam skala yang lebih besar sebuah Perusahaan juga memiliki sejumlah aset. Aset tersebut dapat berupa aset lancar maupun aset yang tidak lancar. Jika seseorang bisa mendivestasi aset, apakah perusahaan juga bisa melakukan divestasi? Jawabannya adalah Ya, perusahaan juga bisa melakukan divestasi Aset. Jika dalam contoh di atas seseorang mendivestasi aset berupa rumah, bagaimana dengan perusahaan? Perusahaan dapat mendivestasi Aset seperti mesin, pabrik, atau pun lini bisnis usaha.

 

Perusahaan yang Pernah Melakukan Divestasi Aset

Penulis akan memberikan beberapa contoh divestasi Aset yang pernah dilakukan perusahaan agar Anda mendapatkan gambaran. Misal di tahun 2016, XL Axiata (EXCL) menjual 2500 tower ke Protelindo (Link Berita : https://inet.detik.com/telecommunication/d-3174773/xl-jual-2500-menara-rp-36-triliun-ke-protelindo). Awalnya XL memiliki (own) sendiri tower pemancar sinyal, namun dilihat dari revenue-cost ratio, perusahaan melihat cost yang dikeluarkan sejumlah tower di daerah-daerah tertentu ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan yang diterima. Kenapa tidak dipindahkan saja (dismantle) tower nya ke tempat lain? Nah permasalahannya tidak semudah dan semurah itu memindahkan tower. Tetap saja, XL perlu mengeluarkan sejumlah biaya untuk dismantle tower pemancar sinyal tersebut. Oleh karena itu, perusahaan memutuskan untuk mendivestasi dan mengalihkan kepemilikan ke Protelindo.

Contoh lainnya adalah artikel yang kita bahas minggu lalu di mana belum lama ini PT Tiga Pilar Sejahtera (AISA) juga mendivestasi bisnis beras , yang analisanya bisa Anda baca kembali di sini. Sejumlah kasus yang menyerang lini bisnis beras AISA (mulai dari tuduhan beras oplosan hingga kebijakan pemerintah terkait Harga Eceran Tertinggi), serta sejumlah hutang yang cukup memberatkan kinerja keuangan AISA, membuat perusahaan memutuskan untuk mendivestasi lini bisnis beras. Divestasi lini bisnis beras sendiri diperkirakan akan berlangsung di tahun 2018 karena due diligence yang butuh waktu sekitar 3 – 4 bulan.

Satu lagi contoh yang terbaru di penghujung tahun 2017 adalah Unilever Indonesia (UNVR) yang menjual lini bisnis olesan makanan (Blue Band) ke Kohlberg Kravis Roberts (KKR). (Link Berita : http://investasi.kontan.co.id/news/bisnis-margarin-dijual-penjualan-unvr-terkoreksi).

 

Blue Band dijual Unilever ke Kohlberg Kravis Roberts (KKR)

 

Dampak Divestasi Aset Terhadap Kinerja Perusahaan

Setelah kita mengetahui beberapa contoh divestasi yang dilakukan oleh beberapa perusahaan, lalu bagaimana dampaknya terhadap kinerja perusahaan? Nah di sinilah seorang investor perlu jeli untuk melihat alasan perusahaan mendivestasi aset serta bagaimana dampaknya ke depan?

Dalam kasus EXCL, jika kita melihat penjelasan yang disampaikan manajemen, XL ingin menerapkan konsep asset light management dan ingin fokus kepada bisnis utamanya sebagai provider telekomunikasi (SIM Card dan Reload Pulsa), sehingga perusahaan merasa akan lebih menguntungkan jika XL menyewa tower ketimbang XL memiliki sendiri tower tersebut namun harus melakukan perawatan. Dampak positif nya, XL tidak perlu lagi mengeluarkan sejumlah biaya untuk perawatan tower, mengurangi beban biaya gaji karena Sumber Daya Manusia yang terkait dengan perawatan tower kemudian dialihkan statusnya, serta bisa lebih fokus kepada core business nya sebagai provider telekomunikasi. Dampak negatif nya, XL perlu mengeluarkan sejumlah uang untuk menyewa kembali tower tersebut kepada Protelindo.

Dalam kasus AISA, manajemen juga melihat prospek yang cukup berat di bisnis beras dengan diberlakukannya Harga Eceran Tertinggi (HET) Beras yang berlaku sejak September 2017 mulai dari pasar tradisional hingga ritel modern, ditambah dengan jumlah hutang sekitar Rp 2.2 triliun di bisnis beras yang cukup memberatkan neraca keuangan AISA, membuat manajemen AISA memutuskan untuk mendivestasi bisnis beras nya. Dampak positifnya, dengan divestasi bisnis beras ini hutang di bisnis beras juga akan dialihkan sehingga membuat neraca keuangan menjadi lebih sehat. Dampak negatifnya, perusahaan tidak bisa lagi menikmati pendapatan sekitar Rp 4 triliun per tahun dari penjualan bisnis berasnya.

 

             Baca Lagi : Pasca Divestasi Bisnis Beras, Inilah Valuasi AISA

 

Hal yang kurang lebih sama juga terjadi pada UNVR. Alasan yang dikemukakan manajemen terkait divestasi bisnis olesan makanan ini adalah karena Unilever ingin lebih fokus dan bertumbuh lebih cepat di lini bisnis yang lain. Dampak positifnya, perusahaan mendapatkan Kas US$ 8 miliar dari KKR. Namun dampak negatif nya, perusahaan tidak bisa lagi menikmati penjualan dari BlueBand.

Dari ketiga contoh di atas, setidaknya ada 3 hal yang secara umum terjadi ketika perusahaan melakukan divestasi :

  1. Dalam jangka pendek, perusahaan akan menerima sejumlah Kas hasil dari divestasi tersebut.

Perusahaan yang melakukan divestasi aset akan menerima sejumlah uang dari perusahaan yang membeli aset tersebut. Uang hasil dari penjualan aset tersebut kemudian akan dibukukan ke dalam Laporan Keuangan. Dalam Laporan Laba Rugi, penjualan aset biasanya masuk ke dalam pos Penjualan Lainnya (Other Income), sehingga akan meningkatkan Laba Bersih. Demikian pula, Arus Kas dari Kegiatan Investasi menjadi positif dengan masuknya Kas dari hasil divestasi. (Namun hati-hati pada contoh AISA, Perusahaan sampai saat ini belum mendapatkan pembayaran dari divestasi lini bisnis GOLL di tahun 2016 silam)

 

  1. Rebalancing Pada Neraca Keuangan

Ketika perusahaan melakukan divestasi lini bisnis usaha, perusahaan juga akan “menyerahkan” sejumlah nilai aset kepada perusahaan yang membeli lini bisnis usaha nya, sehingga aset akan berkurang. Namun di sisi lain, hutang yang dibawa perusahaan juga akan “diserahkan” kepada perusahaan yang melakukan take over, kecuali dinyatakan berbeda dalam kontrak antara kedua belah pihak.

 

  1. Dalam jangka lebih panjang, Perusahaan akan kehilangan potensi pendapatan di masa yang akan datang

Meskipun perusahaan menerima sejumlah uang di depan dan hutangnya menjadi berkurang, namun perusahaan yang melakukan divestasi akan kehilangan potensi pendapatan di masa yang akan datang. Misalkan EXCL tidak lagi bisa menikmati pendapatan dari sewa tower ke operator lain, AISA tidak lagi bisa menikmati pendapatan dari bisnis beras, ataupun UNVR tidak bisa lagi menikmati pendapatan dari penjualan Blue Band nya.

 

Bagaimana Investor Perlu Menyikapi Divestasi?

Setelah mengetahui dampak yang terjadi ketika perusahaan melakukan divestasi dalam jangka pendek maupun jangka yang lebih panjang, maka berikut ini adalah beberapa tips yang bisa dijadikan pertimbangan bagi seorang investor dalam menyikapi divestasi aset / lini usaha :

  1. Lihat Apa Alasan Perusahaan Mendivestasi Aset / Lini Usaha nya.

Seorang investor perlu memahami apa alasan perusahaan mendivestasi Aset atau lini usaha nya. Meskipun kebanyakan perusahaan hanya akan menggambarkan langkah divestasi ini dari sisi positif nya, namun sebagai investor kita juga perlu mencari tahu apa sisi negatif nya. Memang hal ini tidak mudah, namun seiring dengan semakin sering Anda membaca Annual Report perusahaan, maka Anda akan mendapatkan business sense yang lebih baik. Salah satu tips: lihat arus kas dan hutang perusahaan. Jika arus kas operasional perusahaan terus-menerus negatif, dan hutang perusahaan semakin besar, maka kemungkinan besar keputusan divestasi adalah karena perusahaan sedang kesulitan keuangan. Meskipun untuk mencapai kesimpulan, harus dilakukan studi yang lebih mendalam.

 

  1. Pelajari Kontribusi Bisnis Perusahaan

Seorang investor juga perlu melihat seberapa besar dampak opportunity loss dari divestasi usaha. Pada kasus AISA, kontribusi pendapatan dari lini bisnis beras ternyata lebih dari 60% dari total pendapatan (lini bisnis snack berkontribusi hanya sekitar 40%). Artinya, apabila AISA benar-benar mendivestasi lini bisnis beras, maka perusahaan akan kehilangan lebih dari 60% dari total pendapatan dari lini bisnis beras. Sementara dalam kasus UNVR, kontribusi pendapatan dari lini bisnis margarin hanya 1.5%, sehingga bisa kita katakan divestasi bisnis margarin ini tidak signifikan terhadap total pendapatan UNVR. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang investor untuk mengetahui kontribusi pendapatan dari perusahaan yang sahamnya sedang dipegang.

 

  1. Jika Anda tidak yakin, lepas terlebih dahulu sahamnya.

Terlepas dari apapun alasan perusahaan melakukan divestasi, jika Anda memang tidak yakin dengan dampak dari divestasi tersebut, lebih baik lepas dahulu sahamnya (kecuali Anda yakin bahwa divestasi tersebut tidak berdampak signifikan). Karena seperti contoh seseorang menjual rumah nya, terlepas dari alasan apapun orang tersebut menjual rumahnya, kemungkinan besar kita melihatnya dari sisi yang negatif terlebih dahulu yaitu orang tersebut sedang kesulitan keuangan (meskipun bisa jadi orang tersebut menjual rumah untuk membeli rumah yang lebih besar atau untuk ekspansi usaha). Dalam hal ini, biasanya harga sahamnya akan terkoreksi terlebih dahulu sebelum investor kemudian mendapatkan kepastian mengenai dampak dari divestasi dalam jangka yang lebih Panjang.

 

Info:

  • Cheat Sheet LK Q4 2017 akan segera terbit, Anda dapat pre-order di sini
  • E-Book Quarter Outlook LK Q4 2017 akan segera terbit, Anda dapat pre-order di sini.
  • Join Our Telegram Channel : t.me/ValueInvestingIndonesia untuk mendapatkan update tentang Value Investing. Gratis !
  • Jadwal Value Investing Bootcamp selanjutnya (Jakarta) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA  0812-9828-9288 (Afiandy)
  • Jadwal Workshop Value Investing terdekat (Semarang, Bali) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0896-3045-2810 (Johan)

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Saya adalah seorang Value Investor. Saya memulai investasi sejak tahun 2008 ketika saya berumur 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, saya berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Saat ini, saya memberikan jasa konsultasi kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko.

Like Us On Facebook

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami