Prospek Saham PGHS

Kemarin Naik 25%, Apakah Saham PGAS masih layak beli ?


Kemarin (17 Jan 2018), salah satu saham yang sedang menjadi bahan perbincangan adalah Perusahaan Gas Negara (PGAS), di mana PGAS ini harga sahamnya naik 25% alias ARA (Auto Reject Atas). Ada apa gerangan dan apakah harga sahamnya masih layak untuk dikoleksi? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, pertengahan tahun lalu kita sempat membahas mengenai fundamental PGAS yang artikel nya dapat Anda baca kembali di sini.

Baca Kembali : Ada Apa Di Balik Turunnya Saham PGAS ?

 

Sudah? Oke, dalam artikel tersebut kita membahas bahwa sejak tahun 2015, fundamental PGAS tidaklah sebaik 2006 – 2014 yang lalu. Salah satu indikator nya adalah PGAS yang biasanya konsisten mencetak laba bersih  di atas US$ 700 juta, per tahun 2015 hanya mampu mencetak laba bersih US$ 401.2 juta, tahun 2016 mencetak laba bersih US$ 304.3 juta, dan per Kuartal III 2017 laba bersih nya hanya US$ 97.9 juta. Dari segi tingkat pengembalian modal (Return on Equity), PGAS yang biasanya mencapai ROE 30%, per tahun 2017 ini ROE nya hanya 3 – 4% ! Jadi jelas bahwa saat ini kondisi PGAS tidak sama dengan PGAS sebelum tahun 2015. Namun, bukan berarti PGAS adalah perusahaan jelek, karena meskipun indikator laba bersih dan ROE menurun signifikan, PGAS tetap mampu mencetak arus kas operasional yang positif US$ 546.4 juta.

Historical ROE PGAS 2011 – 2017, perhatikan ROE PGAS menurun drastis beberapa tahun terakhir

(Source : idx.co.id diolah dalam cheat sheet)

 

Loh kalau begitu apa yang menyebabkan harga saham PGAS naik sampai Auto Reject Atas (ARA) 25%? Kemarin kembali muncul berita bahwa Holding Migas antara PGAS dan Pertagas segera terbentuk akhir bulan Januari 2018, yang beritanya dapat Anda baca di sini . Dalam bursa saham, sudah biasa terjadi ketika muncul sebuah berita yang menjadi sentiment positif, maka pasar menjadi overreaction, dan dalam kasus kali ini adalah panic buying, yang membuat harga sahamnya juga kemudian naik dengan sangat cepat.

Perlu diketahui, rencana PGN akuisisi Pertagas ini sebenarnya sudah muncul dari tahun 2016 silam, yang beritanya juga dapat Anda baca kembali di sini. Situasinya sama seperti kemarin, ketika muncul berita tersebut, harga sahamnya kemudian naik signifikan dari 2300 an ke 3350 an (naik hampir 50%) dengan sangat cepat. Namun ketika beritanya mulai dilupakan orang (karena pembentukan holding tersebut tak kunjung terjadi), harga sahamnya kembali turun melebihi level harga sebelum naik tadi. Untuk lebih jelasnya Anda bisa lihat historical chart PGAS di bawah.

Harga Saham PGAS 2016 – 2018, perhatikan pergerakan harga saham ketika muncul berita pembentukan holding migas.

(Source : YahooFinance)

 

Tapi Pak, kali ini kan beneran akan terjadi pembentukan holding nya?” Yup, saya setuju dengan Anda. Saya pun termasuk pihak yang berpendapat bahwa apabila holding migas ini benar-benar terjadi, maka akan memberikan keuntungan untuk kedua belah pihak. Penyatuan Pertagas ke PGN ini akan menjadi entitas yang solid, mempercepat pembangunan infrastruktur gas, serta distribusi gas yang lebih merata ke masyarakat, dan yang pasti aset PGAS akan menjadi lebih besar. Hanya saja, keuntungan tersebut tidak akan dinikmati secara instan. Sekedar gambaran, ketika dua entitas menjadi satu, akan ada banyak halangan terlebih dahulu misalkan seputar corporate culture. Kemudian, akan ada efisiensi pegawai, pembentukan sinergi, dsb. Bahkan, bisa jadi pembentukan holding migas tersebut justru berefek negatif karena bisa jadi berpotensi terjadi monopoli. Sehingga, yang tadinya diharapkan harga gas bisa menjadi lebih murah, bisa jadi yang terjadi justru sebaliknya.

Penulis pribadi masih pesimis kinerja keuangan PGAS akan membaik setidaknya sampai rilis Q4 2017 nanti. Masih banyak Pekerjaan Rumah yang perlu diselesaikan oleh PGAS. Jangan lupakan juga beban bunga yang masih perlu dibayarkan oleh PGAS. Per Laporan Keuangan yang terakhir, masih ada beban bunga sebesar $ 106.9 juta turut membebani laba bersih PGAS. 2015 PGAS mulai banyak menerbitkan hutang, yang terbaru adalah PGAS menerbitkan pinjaman US$ 250 juta di Agustus lalu. Debt to Equity Ratio PGAS yang tadinya konsisten di bawah 1.0, dalam 3 tahun terakhir juga menjadi di atas 1.0.

So, kesimpulannya apakah setelah ARA kemarin boleh masuk atau tidak ? Jika tujuan Anda adalah untuk trading atau scalping, maka mungkin saja harga nya masih bisa naik lebih lanjut. Namun dilihat dari kacamata Value Investing, di harga sekarang PGAS belum bisa dikatakan menarik. Di harga 2360, PER PGAS berdasarkan kinerja yang terakhir adalah 32.5x alias tergolong mahal. Jadi, stand point kami masih tetap sama. Kita akan menunggu kinerja nya PGAS mulai membaik yang terlihat di Laporan Keuangannya. Tidak usah takut ketinggalan kereta karena masih banyak kereta bagus lainnya. Untuk minggu depan, kita akan membahas satu emiten yang bisa dikatakan sedang “salah harga”.

 

Update Juli 2018 : PGAS telah resmi mengakuisisi Pertagas dan skema pembayaran juga sudah jelas.. Laporan Keuangan PGAS yang terakhir juga banyak mengalami perbaikan.. Maka dengan demikian PGAS ini layak untuk dipertimbangkan sebagai bagian investasi..

 

Disclosure : PGAS telah menjadi bagian dari portfolio Penulis pada average 1760. Perubahan posisi dana average dapat terjadi sewaktu-waktu. Pembahasan ini bukan bersifat rekomendasi beli atau jual. Do Your Own Research.

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Januari 2018 sudah terbit, Anda bisa memperoleh nya di sini
  • Join Our Telegram Channel untuk menerima update tips berinvestasi dengan Value Investing di sini
  • New Program : Value Investing Bootcamp (For Beginner) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0812-9828-9288 (Afiandy)
  • Jadwal Workshop Value Investing terdekat (Jakarta, Semarang, Bali) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0896-3045-2810 (Johan)

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami