Fenomena January Effect

Fenomena January Effect Di Pasar Saham


Pertama-tama, saya ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru 2018 kepada seluruh investor saham di tanah air. Semoga tahun 2018 lebih memberikan kebahagiaan, kedewasaan, kebijaksanaan, serta pastinya kesuksesan bagi kita semua.

 

Pada artikel sebelumnya kita sempat membahas mengenai fenomena Window Dressing yang terjadi pada bulan Desember 2017 (Anda bisa baca kembali artikelnya di sini), dan ternyata di bulan Desember 2017 kemarin, tradisi Window Dressing masih berlanjut. IHSG bertumbuh 4.69% sepanjang Desember 2017. Kenaikan ini menambah panjang catatan positif tradisi Window Dressing yang terjadi selama ini. Nah kalau bulan Desember mengenal istilah Window Dressing, Bulan Januari juga mengenal istilah yang disebut January Effect. Pada artikel kali ini, kita akan membahas apa itu January Effect, dan bagaimana seorang Value Investor perlu menyikapi January Effect?

 

Apa itu January Effect?

January Effect pertama kali diamati oleh seorang banker bernama Sidney B. Wachtel, seorang Pakar Ekonom, Investment Banker, dan Founder Watchtel&co. Ia mencatat bahwa sejak tahun 1925, harga-harga saham cenderung meningkat juga di bulan Januari. Teori yang menjelaskan fenomena ini adalah investor cenderung melepas saham di akhir tahun untuk untuk mengamankan dana atau merealisasikan capital gain serta mengurangi beban pajak (Tax Loss Selling). Pada awal tahun (Januari), investor membeli kembali saham tersebut yang mengakibatkan harganya naik. Teori lainnya adalah investor yang bekerja mendapatkan bonus tahunan yang umumnya diperoleh pada akhir tahun, untuk kemudian dibelikan saham pada bulan Januari.

Bagaimana pengaruh January Effect terhadap pasar modal Indonesia? Dari tahun 1995 – 2017 (23 tahun), IHSG naik sebanyak 16 kali, dan turun 7 kali di bulan Januari. Probabilitas IHSG naik di bulan Januari adalah 69%. Angka ini sebenarnya masih di bawah Window Dressing Desember, di mana dalam Window Dressing selama 22 tahun terakhir (1995 – 2016), IHSG hanya pernah 1 kali memiliki kinerja negatif dalam bulan Desember (probabilitas 95%).

Sebagai catatan, jika Window Dressing Desember berlangsung sepanjang bulan, January Effect biasa terjadi hanya sampai pekan kedua – ketiga Januari, sementara pada pekan keempat Januari, para investor mulai melakukan profit taking sehingga biasanya indeks mengalami koreksi hingga pertengahan bulan Februari. Berdasarkan pengamatan, January Effect juga biasanya lebih berpengaruh pada second liner dan third liner, menyusul saham-saham big caps yang telah naik sebelumnya.

 

Bagaimana Seorang Investor Perlu Menyikapi January Effect ?

Meskipun secara probabilitas January Effect masih bekerja di pasar saham, namun Penulis perlu ingatkan bahwa January Effect bukanlah jaminan. Segala kemungkinan bisa terjadi. Oleh karena itu, January Effect ini lebih baik jangan dijadikan pedoman atas keputusan investasi. Apalagi pada bulan Desember 2017 kemarin IHSG mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan, sehingga bisa jadi January Effect akan memberikan efek sebaliknya.

Sebagai Value Investor, kita tidak perlu ambil pusing apakah January Effect akan terjadi pada Januari 2018 ini. Di Januari 2017 yang lalu, January Effect hanya memberikan impact sedikit saja dengan kenaikan IHSG 0.05% di bulan Januari 2017. Namun seperti yang Anda saksikan sendiri, IHSG naik 19.99% sepanjang tahun 2017. Hal sebaliknya terjadi di tahun 2015. Di bulan Januari 2015 silam IHSG naik 1.19% di bulan Januari, namun IHSG justru turun 12.13% sepanjang tahun 2015.

Intinya, kita cukup berinvestasi di saham-saham yang sesuai dengan kaedah value investing saja. Tetap berinvestasi di saham yang memiliki fundamental bagus pada harga yang murah, karena meskipun IHSG cenderung naik di bulan Januari, bukan berarti semua saham akan naik. Jadi, jangan juga nekat mengambil margin hanya karena secara historical IHSG lebih banyak naik di bulan Januari. Jika ternyata January effect memberikan efek negatif bagi Anda, justru kerugian Anda menjadi 2x lipat dengan mengambil margin.

Semoga dengan membaca artikel ini, dapat memberikan Anda sudut pandang yang baru mengenai January Effect dan pastinya kebijaksanaan dalam berinvestasi di pasar saham.

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Januari 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini
  • Dapatkan Ringkasan Laporan Keuangan 500+ perusahaan dalam Cheat Sheet, yang dapat Anda peroleh di sini
  • Jadwal Workshop Value Investing terdekat (Jakarta, Semarang, Bali) dapat dilihat di sini. Info lebih lanjut WA 0896-3045-2810 (Johan)

You may also like

1 Comment

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami