Peluang Waskita

Peluang dibalik Gagalnya Divestasi Tol WSKT


Beberapa waktu lalu (tepat nya tanggal 12 Sep 2017), salah satu perusahaan BUMN pelat merah, Waskita Karya (WSKT) terkena berita negatif terkait gagalnya divestasi 10 ruas jalan tol, sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi arus kas WSKT terhadap pembiayaan proyek-proyek pembangunan di 2018 dan 2019, seperti proyek pembangunan jalan tol sepanjang 1.250 km, proyek transmisi 500 kv sepanjang 700 km, dan juga proyek LRT Palembang.

Tak pelak, harga saham WSKT kemudian terjun 11% dari 2100 an ke 1900 an (kemudian berlanjut ke 1800 an beberapa hari kemudian). Investor yang melihat gagal nya divestasi jalan tol ini melihatnya sebagai sebuah bad news, yang kemudian ramai-ramai menjual sahamnya yang membuat harga saham WSKT turun lebih dalam lagi.

 

Pergerakan saham WSKT 6 bulan terakhir. Perhatikan penurunan harga pada Sep 2017

 

Pertanyaannya sudah tentu, apakah benar gagal nya divestasi tol ini menjadi sebuah bencana? Kalau kita lihat dalam jangka pendek, maka jawabannya adalah YA! Gagal nya divestasi tol ini menjadi sebuah bencana. Namun, jika kita melihat dalam jangka yang lebih panjang, maka jawabannya adalah TIDAK! Berikut adalah kutipan dari apa yang disampaikan oleh Dirut WSKT (M. Choliq) :

 

“Dengan tertundanya divestasi tadi terkendala atau tidak? Jawabannya sangat tidak. Jangankan tahun ini, tahun depanpun seandainya tidak ada divestasi kita tidak menghadapi kendala dana,” ujar Direktur Utama Waskita Karya, M. Choliq di Hotel Fairmount, Jakarta, Senin (18/9/2017) – OKEZONE (18 Sep 2017)

 

Bagaimana mungkin gagalnya divestasi tol WSKT ini tidak menjadi kendala? Okay, pertama kita perlu tahu terlebih dahulu berapa kebutuhan dana WSKT untuk membiayai proyeknya. Kebutuhan WSKT untuk membiayai proyek-proyek adalah Rp 120 triliun. Rencananya, Rp 80 triliun akan dicari melalui pinjaman dan Rp 40 triliun akan diambil dari ekuitas.

Dari rencana Rp 80 triliun, so far total liabilitas jangka panjang perusahaan saat ini adalah sekitar Rp 15 triliun. WSKT juga diberitakan baru memperoleh fasilitas kredit dari 9 bank asing senilai Rp 5 triliun dengan tenor 5 tahun. Jadi dalam hal ini, manajemen masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar.

Di sisi lain, dari rencana Rp 40 triliun yang diambil dari ekuitas, saat ini ekuitas WSKT hanya Rp 22 triliun. Artinya perusahaan masih butuh tambahan ekuitas sebesar Rp 18 triliun. Katakanlah divestasi tol tadi berhasil, maka dana yang didapatkan oleh WSKT adalah sekitar Rp 20 triliun atau satu pekerjaan rumah sudah selesai, namun bukan berarti tidak ada jalan lain, bukan? Yang saya ingin garisbawahi di sini adalah gagalnya divestasi ini bukanlah main issue perusahaan. Lagipula di awal 2018 nanti, perusahaan bisa memperoleh pembayaran dari proyek turnkey yang telah selesai sebesar Rp 30 triliun. Jadi, perusahaan masih memiliki waktu yang cukup untuk tetap beroperasi sambil mencari pendanaan untuk menutupi kekurangan tadi.

Setelah gagalnya (saya sebenarnya lebih suka menyebutnya TERTUNDA ketimbang gagal) divestasi jalan tol ini, So what’s next? Pertama, perusahaan masih tetap akan melanjutkan skema divestasi namun kali ini dengan mekanisme yang berbeda. Jika sebelumnya divestasi berupa skema paketan (bundling), namun kali ini divestasi dilakukan dengan skema one on one. Nah mekanisme one on one ini ditargetkan selesai paling lambat akhir semester I 2018.

Kedua, kalau sampai akhir semester I 2018 skema divestasi jalan tol one on one ini tidak juga berhasil, lalu bagaimana? Nah disinilah menariknya. Jika skema divestasi jalan tol ini tidak berhasil, maka perusahaan sudah menyiapkan skema lainnya, yaitu Initial Public Offering (IPO). Untuk IPO ini pun WSKT memiliki 2 skema. Pertama, IPO dilakukan sendiri. Kedua, IPO Bersama dengan Jasa Marga (JSMR). Dengan skema IPO sendiri, WSKT akan melepas 40% kepemilikannya di PT Waskita Toll Road untuk dilepas ke public. Sementara dengan skema IPO dengan Jasa Marga, rencananya WSKT akan membentuk anak usaha baru dengan Jasa Marga. Hanya saja, dalam hal ini WSKT akan menjadi minoritas dan JSMR yang akan menjadi mayoritas.

So, di mana peluang nya? Dengan harga saham WSKT jatuh ke 1900 an akibat bad news tadi, bisa jadi itu merupakan good news untuk value investor. Perhatikan, di saat harga saham WSKT jatuh ke 1900 an, maka PER nya menjadi hanya 10X. Berdasarkan historical 2011 – 2016, WSKT lebih banyak diperdagangkan di PER 15X – 30X, dengan kata lain kita hampir tidak pernah mendapatkan WSKT di PER 10X. Jadi dalam hal ini, sepertinya kita baru mendapatkan satu saham dengan tingkat CAGR Net Profit tertinggi di BEI (yup rata-rata pertumbuhan laba bersih WSKT mencapai >50% per tahun) di harga murah! Bahkan, termurah apabila dibandingkan dengan sektor konstruksi lainnya (WIKA 16.4X, PTPP 12.7X, ADHI 27.7X)

Lalu, kapan kita bisa memetik hasil investasi di WSKT? Ingat bahwa secara historical WSKT ini lebih banyak diperdagangkan di PER 15X – 30X (kita ambil PER 10X – 15X sebagai asumsi konservatif). Ingat juga bahwa secara historical rata-rata pertumbuhan laba bersih WSKT naik di atas 50% per tahun. Dengan asumsi bahwa laba bersih perusahaan di tahun 2018 juga akan tumbuh 50%, maka EPS WSKT yang di tahun 2017 ini sebesar Rp 189 per lembar saham, maka EPS akan menjadi Rp 280 per lembar saham di tahun 2018. Maka, apabila dua asumsi di atas valid, maka harga saham nya akan menjadi Rp 280 (EPS) X 10 s/d 15 (PER) = Rp 2800 – Rp 4200, atau potensi upside 50% – 120% dalam waktu 1 tahun!

Kalau minggu depan, udah naik belum Pak harga saham WSKT? Wah kalau pertanyaannya seperti itu, jangankan saya, Dirut WSKT pun sepertinya gak bisa menjawab..

 

Disclosure : MAIN telah menjadi bagian dari portfolio Penulis pada average 1810. Perubahan posisi dana average dapat terjadi sewaktu-waktu. Pembahasan ini bukan bersifat rekomendasi beli atau jual. Do Your Own Research.

 

Info :

Dapatkan ringkasan Laporan Keuangan dari 500+ perusahaan di BEI serta kalkulator untuk mengetahui harga wajar sebuah saham dengan berlangganan Cheat Sheet. Untuk info lebih lanjut, silakan klik di sini.

Monthly Investing Plan October 2017 akan segera terbit, Anda bisa berlangganan di sini.

Jadwal Workshop Value Investing Roadshow :

  • 28 Oktober 2017 : Bandung
  • 11 November 2017 : Jakarta
  • 25 November 2017 : Surabaya

Pendaftaran dan informasi lebih lanjut :

SMS / WA : 0896-3045-2810 (Johan) 

atau

Email : rivan.investing@gmail.com

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami