Priming Effect dan Pengaruhnya Terhadap Harga Saham


Pada artikel sebelumnya, kita sempat membahas mengenai disparitas informasi yang mempengaruhi kualitas investasi atau trading kita. Jika Anda belum sempat membaca nya, bisa baca terlebih dahulu di sini. Nah sehubungan dengan disparitas informasi tersebut, ada satu efek yang seringkali ditimbulkan oleh media, yang biasa disebut dengan Priming Effect. Apa yang dimaksud dengan Priming Effect ?

 

Definisi Priming Effect menurut Wikipedia adalah suatu keadaan di mana sebuah stimulus atau kejadian tertentu mempengaruhi persepsi kita terhadap stimulus atau kejadian kita berikutnya. (Source : https://en.wikipedia.org/wiki/Priming_(psychology)). Misalkan ketika kita baru saja selesai menonton film hantu, tiba-tiba saja membuat kita jadi takut ke kamar mandi sendirian (karena stimulus yang dihasilkan dari film hantu tersebut). Padahal, sebelumnya kita berani-berani saja kalau ke kamar mandi sendirian. Contoh lainnya, ketika kita membaca koran tentang seseorang yang dirampok dan kemudian dibunuh saat mengambil uang di ATM, membuat kita menjadi lebih waspada ketika mengambil uang di ATM.

 

Dalam bisnis, Priming Effect banyak dimanfaatkan oleh pihak pengiklan agar pesan yang ingin disampaikan dalam iklan dapat efektif masuk ke alam bawah sadar konsumen, yaitu dengan cara mengasosiasikan produk nya dengan suatu karakter. Misalkan, apakah Anda memperhatikan bahwa iklan produk makanan ringan banyak beredar di sela-sela acara kartun di TV? Dan banyak iklan produk makanan ringan menggunakan karakter kartun favorit untuk menstimulasi anak-anak membeli produk makanan ringan tersebut.

 

Secara tidak disadari, Priming Effect ini juga banyak kita jumpai dalam keseharian kita berinvestasi atau trading. Informasi yang sama dan terus-menerus membuat kita secara tidak sadar menjadi terpengaruh dan cenderung berpikir bahwa informasi tersebut adalah benar (padahal belum tentu demikian). Misalkan : teman kita bercerita bahwa toko nya sedang sepi, kemudian ketika baca koran diberitakan saham regional berguguran, demikian pula ketika mendengarkan radio Anda mendengar ekonomi sedang lesu dibayangi melemahnya daya beli masyarakat, dan akhirnya secara tidak langsung, rangkaian stimulus negatif tersebut membuat kita menjadi berpikir dan percaya bahwa harga-harga saham akan turun.

 

Dewasa ini ada pula beberapa berita yang sengaja dipublish untuk mempengaruhi perilaku pasar, atau istilah yang sering kita dengar adalah menggoreng berita. Di mana berita buruk dipublish agar publik ramai-ramai menjual saham tersebut, atau sebaliknya berita baik dipublish agar publik ramai-ramai membeli saham tersebut. Actually, kalau anda amati, banyak pemberitaan yang menggunakan teknik seperti ini, dan alhasil cara media mengemas suatu berita pun dapat mempengaruhi opini yang berkembang di masyarakat terkait sebuah saham, yang menyebabkan harga saham nya naik atau pun turun.

 

Contohnya ketika di bulan November 2016 Donald Trump memenangkan Pemilihan Presiden Amerika Serikat, muncul berita yang “mengingatkan” masyarakat bahwa Donald Trump pernah memiliki hubungan bisnis dengan pengusaha tanah air Hary Tanoe, dan alhasil saham MNC Investama (BHIT), yang merupakan perusahaan investasi milik Hary Tanoe, langsung terbang saat itu. Namun tak lama setelah beritanya mulai dilupakan, maka saham tersebut akan kembali lagi ke posisi harganya semula. Jadi, yang ingin saya coba sampaikan di sini adalah jangan membeli saham hanya karena Anda terbuai dengan berita.

 

Lalu, bagaimana cara untuk mengurangi priming effect ini dalam berinvestasi atau trading ?

  1. Kurangi memasukkan berita yang bersifat RUMOR atau OPINI, atau berita lainnya yang kurang relevan kepada otak Anda.
  2. Melakukan trading atau investasi secara mandiri tanpa terlalu dipengaruhi oleh noise yang tidak perlu
  3. Jadikan laporan keuangan yang resmi dirilis oleh perusahaan (atau dari website IDX) sebagai sumber informasi utama bagi pengambilan keputusan jual dan beli saham.
  4. Pilihlah saham-saham yang fundamental nya bagus, sehingga jika penurunan karena berita itu terjadi, kita tahu bahwa penurunan saham itu adalah opportunity, sehingga kita tidak perlu ikutan panik.

 

So, sekarang Anda tahu bahwa Priming Effect ini bisa membuat kualitas trading atau investasi Anda menjadi kurang baik. Dan sekarang Anda juga sudah tahu bagaimana mengantisipasinya. Buatlah sistem trading atau investasi Anda sendiri, dan konsisten untuk menjalankan nya, tanpa harus terpengaruh oleh noise di sekitar Anda.

 

Info : 

Jadwal Workshop Value Investing di Kota Jakarta 9 & 16 September 2017. Pendaftaran via online di : http://ticmi.co.id/rivan-kurniawan. Untuk informasi lebih lanjut, Anda  dapat menghubungi via SMS / WA ke 0896-3045-2810 (Johan) atau email : info@ticmi.co.id.

 

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami