Di Balik Lesunya Daya Beli Masyarakat dan Pertumbuhan Ekonomi yang Stagnan


Beberapa minggu lalu, tepat nya tanggal 8 Agustus 2017, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal II 2017 sebesar 5.01%. Pencapaian tersebut sama persis dengan pencapaian pertumbuhan ekonomi kuartal I 2017, namun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2016 yang mencapai 5.18%. Meskipun tidak jelek-jelek amat, namun angka 5.01% bisa dibilang cukup mengecewakan. Padahal pemerintah telah berupaya mendorong proyek infrastruktur secara masif. Pertanyaannya tentu mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia belum juga bertumbuh ke arah yang lebih baik? Hingga saat ini, hal ini masih menjadi perdebatan dan mencari tahu apa yang salah dengan perekonomian Indonesia.

Di saat pertumbuhan ekonomi tergolong stagnan, ada satu fakta yang cukup menarik, yaitu jumlah tabungan masyarakat yang tersimpan di perbankan justru meningkat signifikan. Dana masyarakat di perbankan menurut data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) naik dari Rp 184.1 triliun di Juni 2016 menjadi Rp 216.7 triliun di Juni 2017, atau tumbuh 17.6 %. Kemudian kalau kita hubungkan data ini dengan data dari OJK, di mana penyaluran kredit baru sepanjang Januari – Mei 2017 “hanya” sebesar Rp 46.6 triliun, artinya ada sejumlah dana yang menumpuk di perbankan. Kenaikan jumlah dana masyarakat ini dapat kita lihat pada Laporan Keuangan Q2 2017 emiten-emiten perbankan di BEI, yang dapat Anda download di www.idx.co.id.

Saya coba summary kan kenaikan kas emiten perbankan di BEI dari End of Year 2016 VS Q2 2017. Jika kita perhatikan, kecuali AGRO, jumlah kas emiten Perbankan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Silakan lihat tabel di bawah ini untuk lebih lengkap nya..

*jumlah kas dalam miliar Rupiah

Posisi Kas Q2 2017 VS Q4 2016 Emiten Perbankan (Source : www.idx.co.id)

 

Kenaikan jumlah tabungan masyarakat ini agak tidak wajar, mengingat sampai dengan saat ini BI Rate berada di titik terendah 4.75%. Padahal seperti kita ketahui pada teori ekonomi mengatakan bahwa ketika BI menurunkan suku bunga, maka diharapkan hal tersebut akan mentrigger masyarakat untuk tidak menaruh uang di bank, melainkan untuk berinvestasi yang ujungnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Namun yang terjadi sekarang ini justru tidak demikian. Malahan dana tabungan di perbankan meningkat signifikan, namun pertumbuhan ekonomi masih stagnan.

Dari beberapa opini para ekonom dan analis yang saya baca, beberapa hal yang dapat menjelaskan mengapa dana pihak ketiga meningkat cukup signifikan di perbankan adalah : Pertama, terdapat kemungkinan bahwa masyarakat sedang berjaga-jaga dari kondisi terburuk karena ekspektasi kondisi ekonomi yang kurang baik. Berkaitan dengan hal tersebut, berbagai berita menyebutkan bahwa kondisi retail sales sedang lesu, banyak usaha yang kemudian gulung tikar, dan yang paling terbaru adalah perusahaan jamu sekelas Nyonya Meneer yang disinyalir gulung tikar karena menurun nya daya beli (selain terbelit oleh hutang). Kedua, terdapat kemungkinan juga masyarakat mengantisipasi instabilitas dalam politik dalam negeri. Faktor politik ini lebih kepada arah pilkada serentak dan juga pilpres 2019 yang menyebabkan masyarakat menjadi lebih berjaga-jaga.

However, ini menjelaskan perdebatan mengenai turun nya daya beli masyarakat. Jika melihat fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa bukan daya beli masyarakat yang menurun (karena toh jumlah pengangguran terus menurun dan jumlah GDP per capita terus meningkat), melainkan masyarakat bersikap berjaga-jaga dari ekspektasi ekonomi yang kurang baik dan mengantisipasi instabilitas dalam politik dalam negeri.

Setelah memahami fenomena yang terjadi di atas, selanjutnya kita pasti bertanya apa hubungannya dengan pasar saham? Saat ekonomi tengah lesu (atau stagnan seperti saat ini), biasanya saham defensif menjadi andalan investor saham, karena sifatnya yang lebih tahan banting dari situasi ekonomi. Kinerja emiten consumer goods biasanya mengalahkan kinerja saham cyclical di saat ekonomi sedang kurang baik. Namun, seperti Anda lihat di atas, situasinya kali ini agak sedikit berbeda. Hal ini juga tercermin dari kinerja saham retail trade dan consumer goods yang kurang baik di semester II 2017 ini. Emiten Consumer Goods hanya mencatatkan kenaikan tipis dari segi laba bersih. Misalkan ICBP yang laba bersih nya hanya naik tipis dari Rp 1.9 triliun di Q2 2016 menjadi Rp 2.1 triliun di Q2 2017 (+5.7% YoY), laba bersih MYOR turun dari Rp 591.2 miliar menjadi Rp 547.8 miliar (-7.3% YoY). Di sisi lain, emiten retail trade bahkan lebih berdarah-darah. MPPA mencatatkan rugi bersih Rp 169.8 miliar per Q2 2017, AMRT laba bersih nya turun dari Rp 90.3 miliar menjadi Rp 75.5 miliar (-16.3%), DNET turun dari Rp 105.4 miliar menjadi Rp 30.5 miliar (-71%), dll.

Oleh karena itu, dapat pula kita simpulkan bahwa kinerja emiten sektor consumer goods dan retail trade ini membuat investor khawatir terhadap lesunya perekonomian Indonesia. Dan investor tentunya tidak bisa mengandalkan strategi memilih saham defensif di Semester II 2017 ini. Lalu strategi apa yang sebaiknya diterapkan di Semester II 2017?

Akan lebih bijak, apabila investor memilih sektor lain yang lebih menarik ketimbang consumer goods dan retail trade (setidaknya untuk saat ini). Investor dapat memilih saham-saham yang bersifat cyclical seperti saham komoditas, saham perbankan, atau sektor yang menunjukkan recovery seperti sektor property (analisanya sudah kita bahas di sini). Saham komoditas umumnya masih menarik meskipun sudah naik cukup banyak selama 1 tahun terakhir, dikarena harga batubara yang kembali meningkat di atas $ 90 per ton, serta kinerja saham emiten batubara yang terbaru juga masih positif. Saham perbankan juga diuntungkan dengan meningkatnya jumlah dana masyarakat dan juga pemberian status investment grade beberapa waktu yang lalu. Sektor property menunjukkan early recovery di mana emiten property mulai menunjukkan laporan keuangan yang positif di Q2 2017. Namun tentu saja, tidak semua saham dari sektor tersebut bisa dijadikan pilihan, kita tetap harus memperhatikan fundamental perusahaannya masing-masing. Ada yang punya pandangan lain ?

 

By : Rivan Kurniawan

 

Info :

Jadwal Workshop Value Investing hadir di Kota Pangkal Pinang tanggal 26 – 27 Agustus 2017, dan Kota Jakarta 9 & 16 September 2017. Untuk pendaftaran dan info lebih lanjut dapat dilihat di sini, Anda juga dapat menghubungi via SMS / WA ke 0896-3045-2810 (Johan) atau email : rivan.investing@gmail.com.

Workshop Value Investing – 26-27 Agustus 2017 @Pangkal Pinang

 

Workshop Value Investing – 9 & 16 September 2017 @ Jakarta

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Saya adalah seorang Value Investor. Saya memulai investasi sejak tahun 2008 ketika saya berumur 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, saya berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Saat ini, saya memberikan jasa konsultasi kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko.

Like Us On Facebook

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami