5 Kesalahan Investasi Saya Yang Jangan Anda Ulangi


Setelah pada artikel sebelumnya saya share mengenai tips apabila ingin menjadi Full Time Investor (kalau belum bisa baca kembali artikelnya di sini), kali ini saya ingin membagikan kepada Anda pengalaman saya pribadi ketika awal mulai berinvestasi.

Sebagai investor yang dulu juga masih baru memulai belajar berinvestasi, saya melakukan begitu banyak kesalahan yang membuat saya sempat merasakan pahit nya pasar modal. Namun demikian, saya bersyukur dengan merasakan pahit nya pasar modal saya menjadi semakin cepat belajar nya. Namun, Anda tidak perlu untuk mengulangi kesalahan yang pernah saya buat. Untuk membuat artikel ini, saya bahkan harus mengarungi lagi masa-masa kelam di dunia investasi untuk mengingat lagi kesalahan apa yang pernah saya lakukan dan semoga Anda tidak mengulangi kesalahan saya tersebut..

 

  1. Berinvestasi dengan menggunakan uang “dapur” bahkan “hutang”

Ketika saya mulai berinvestasi di 2008, awalnya saya hanya menggunakan modal kecil yaitu sebatas syarat minimum buka rekening saja sebesar Rp 10 juta. Kemudian, saya secara disiplin mulai nabung saham sekitar 30 – 40% dari gaji bulanan (jadi sebelum kampanye #yuknabungsaham digencarkan BEI, saya sudah mulai nabung saham duluan). FYI, waktu saya mulai berinvestasi di akhir 2008, IHSG baru kembali bangkit setelah dihajar habis-habisan sebelumnya. Jadi waktu tahun 2009 – 2011 itu adalah waktu keemasan bagi semua investor termasuk saya, beli saham apa saja pasti untung.

Nah, karena cepat dapat profit (terlalu cepat malahan), saya jadi semakin “bernafsu” untuk menambah modal lebih besar lagi. Bahkan, saya nekat memakai fasilitas margin trading yang diberikan sekuritas, dan bahkan gestun (gesek tunai) limit kartu kredit. Saya berpikir kalau saya bisa menggandakan modal yang saya punya, maka saya bisa dapat profit lebih besar lagi. Maklum, namanya juga investor kemarin sore, jadinya mikirin untung saja tanpa memikirkan resiko dan bahaya yang mengintai di belakangnya.

Dan hasilnya seperti yang mungkin Anda pernah lihat di postingan saya di awal membuat website ini, investasi saya jatuh akibat keserakahan saya sendiri. Oleh karena itu, saya selalu “pesan sponsor” setiap kali saya mengadakan event, agar jangan pernah menggunakan uang dapur apalagi hutang yang didapat dari fasilitas margin dan kartu kredit (apalagi hutang sama keluarga). Beban yang akan Anda pikul jauh lebih berat ketimbang kemampuan Anda untuk menanggungnya. Berapapun dana kelolaan yang Anda punya, pastikan itulah kemampuan Anda untuk memikul beban tersebut.

 

  1. Terlalu pelit terhadap diri sendiri

Ketika awal berinvestasi, saya bisa dibilang sangat jarang memberikan vitamin bagi otak saya. Salah satu alasannya seperti yang sudah dibahas di atas tadi, beginners’ luck ketika mendapatkan profit besar di awal-awal berinvestasi saham. Jadilah saya merasa jagoan dalam saham, sehingga merasa tidak perlu untuk mengikuti pelatihan ataupun membeli buku-buku tentang investasi. “Buat apa beli buku, kalau sekarang saja beli saham profit melulu”, begitulah kira-kira pemikiran saya waktu itu.

Begitu saya mengalami kejatuhan di tahun 2012, saat itulah saya mulai “disadarkan” mengenai pentingnya investasi terhadap diri sendiri. Saya ingat betul saya membeli sebuah buku yang berjudul “Secret of Self-Made Millionaires” by Adam Khoo (terbitan 2006). Buku itu yang kemudian mulai merubah mindset saya mengenai berinvestasi dengan Value Investing. Dalam buku itu juga saya baru ngeh sama prinsip yang namanya the power of compounding return, dan prinsip ini lah yang dipegang oleh Warren Buffett dalam menggandakan asetnya. Mulai dari situlah, saya membeli berbagai macam buku dan memaksa diri saya untuk membaca lebih banyak buku sampai dengan saat ini.

Lima tahun berlalu, dan ketika saya membuka kembali buku-buku tersebut, saya baru menyadari bahwa banyak hal yang I don’t know what I don’t know (saya tidak tahu apa yang saya tidak tahu) kalau saya tidak membeli buku-buku tersebut. Semakin banyak membaca, maka semakin saya menyadari kalau saya ini banyak gak tahu nya. Tapi beryukurlah habit membaca yang tadi nya sangat sulit dibentuk, lama-lama menjadi kebiasaan, dan kebiasaan tersebut saya kembangkan lagi menjadi tulisan-tulisan seperti yang sedang Anda baca di website ini.

Jadi saya ingin berpesan juga alangkah baiknya jika Anda invest in yourself, atau berinvestasi kepada diri sendiri dengan mengikuti pelatihan-pelatihan atau membaca buku, dll… Believe me, investasi yang anda keluarkan untuk diri Anda sendiri akan kembali berkali-kali lipat.

 

  1. Mengambil “jalan pintas” dengan analisa orang lain.

Sebagai seorang investor yang baru mulai berinvestasi, biasanya kita suka melihat contekan stock pick kanan dan kiri, bahkan banyak yang ikut menggunakan jasa stockpick harian. Atau Anda menggunakan hasil riset dari perusahaan sekuritas Anda. Bagi beberapa investor, laporan ini sering membantu karena meringkas dari tebalnya laporan tahunan hanya menjadi  1 – 2 lembar (plus ramalan sampai 3 tahun mendatang), serta ada “jalan pintas” nya yaitu rekomendasi buy, hold, atau sell, serta melihat berapa target price nya. Dulu pada awal berinvestasi, saya adalah orang yang termasuk kecanduan membaca rekomendasi orang lain. Tapi setelah semakin matang dalam menemukan strategi investasi saya sendiri, saya jadi lebih percaya dengan hasil riset dan analisa diri sendiri.

 

Apakah salah menggunakan rekomendasi orang lain? Sebagai orang yang awam, sebenarnya sah-sah saja untuk menggunakan hasil riset atau rekomendasi tersebut. Namun, apabila Anda menjadi ketergantungan terhadap hasil riset orang lain, barulah itu bahaya. Kita menjadi malas untuk menganalisa sendiri, dan disadari atau tidak, ketika hasil analisa tersebut salah, kita punya kecenderungan untuk menyalahkan rekomendasi orang tersebut. Padahal sebenarnya investasi Anda adalah tanggung jawab Anda pribadi.

Sewaktu saya menggunakan hasil riset dari orang lain, saya pun cenderung menyalahkan jika analisanya salah. Tapi kemudian saya berpikir, yang salah saya atau dia ya? Wong udah tahu itu uang saya kenapa saya hanya mempercayakan pada Analisa yang dibikin orang lain? Jadi yang salah itu yaa saya sendiri. Sejak saat itu, saya selalu berinvestasi hanya jika saya yakin dengan analisa saya sendiri. Sehingga ketika Analisa saya pun salah, saya tetap merasa bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri.

 

  1. Tidak peduli dengan fundamental analisis

Ini adalah kesalahan saya yang paling fatal yang membuat saya pernah merasakan pahitnya pasar modal. Saya sering sharing di website ini, bahwa saya pada awalnya adalah seorang technical trader. Namun karena saya tidak peduli dengan fundamental analysis, saya bahkan tidak bisa membaca bahwa akan terjadi commodity crash. Bahkan saya juga tidak tahu kalau saham yang saya beli hutangnya 5x lipat daripada ekuitasnya !

Memang sih, dalam keadaan market bullish biasanya fundamental analysis menjadi seolah-olah kurang relevan, karena saham gorengan atau saham yang memiliki fundamental jelek saja bisa naik, bahkan naiknya bisa lebih cepat. Jadi wajar saja banyak orang yang meremehkan analisa fundamental ini. Bahkan beberapa ada yang bilang bahwa metode value investing out of date dan cenderung membosankan. Hmm saya gak bisa comment, cuma bisa mendoakan agar dia gak perlu kejedot seperti saya.

Dalam setiap workshop value investing, ataupun seminar lain yang saya adakan, saya selalu sharing mengenai pentingnya fundamental analysis, tak terkecuali bagi para technical trader. Saya selalu berusaha “mengajak” para trader untuk juga peduli dengan fundamental analysis. Saya juga sering mengatakan bahwa fundamental analysis dan technical analysis tidak berlawanan, melainkan saling melengkapi.

 

  1. Melibatkan emosi secara berlebihan

Jika Anda pernah merasakan nikmatnya profit taking, Anda akan merasa bahagia. Sementara Anda merasa ketakutan, stress, bahkan frustasi ketika market turun dan memaksa Anda untuk cut loss. Padahal jika Anda perhatikan, angka di layar trading Anda hanyalah deretan angka merah, putih, dan hijau yang berubah-ubah setiap saat. Secara psikologis, warna merah mengirimkan pesan bahaya kepada otak kita, dan warna hijau mengirimkan pesan bahagia kepada otak kita. Jadi ketika kita melihat layar trading penuh dengan warna merah, secara tidak langsung otak Anda merespon bahwa ada semacam “bahaya” yang membuat Anda menjadi takut atau bahkan frustasi.

Saya punya kabar buruk untuk Anda : Menurut buku Psikologi Trading yang saya baca dari Pak Desmond Wira, Otak manusia pada dasarnya tidak didesain untuk investasi atau trading, melainkan untuk survival. Jika Anda memahami cara kerja otak, Anda akan terkejut bahwa otak reptile dan otak emosional kita bekerja lebih cepat ketimbang otak rasional kita, sehingga jika kita tidak bisa mengendalikan otak rasional kita, emosional lah yang akan bermain. Contohnya yaa seperti tadi, Anda merasa frustasi kalau saham Anda turun.

Ketika awal berinvestasi, saya pun demikian. Kalau profit taking rasanya seperti semua barang bisa dibeli. Namun kalau market turun dan harus cut loss rasanya seperti besok mau kiamat. Seiring berjalannya waktu, saya semakin menyadari bahwa cut loss adalah bagian dari perjalanan investasi itu sendiri. Ketika saya bisa mengontrol emosi supaya tidak berlebihan (jadi tidak terlalu euphoria saat profit taking dan tidak terlalu frustasi saat cut loss), saya tetap bisa menganalisa secara rasional. Dengan kata lain, saya mengizinkan otak rasional saya mengambil alih dan mendominasi dibandingkan otak reptile dan otak emosional saya.

 

Kira-kira itulah lima kesalahan terbesar yang saya lakukan pada awal berinvestasi, saya harap Anda tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama dengan yang saya lakukan. Apabila ada di antara Anda yang pernah melakukan kesalahan lain yang belum dishare pada artikel ini, Anda bisa menambahkan dalam kolom comment di bawah..

 

Semoga bermanfaat,

 

by : Rivan Kurniawan

 

Info :

Cheat Sheet dan E-Book Quarter Outlook untuk Laporan Keuangan Kuartal II 2017 sudah terbit hari ini, Anda dapat memperoleh nya di sini dan di sini

Monthly Investing Plan Agustus 2017 juga sudah terbit hari ini, Anda dapat memperolehnya di sini.

You may also like

1 Comment

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami