Fundamental Saham

Fundamental Saham Mengalami Perubahan


Fundamental Saham Mengalami Perubahan

Ketika saya sedang mengisi acara dalam suatu event Investment Club di Jakarta, ada sebuah pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh seorang peserta. Pertanyaannya kurang lebih adalah apabila kita sudah menganalisis sebuah saham dengan metode Value Investing, dan menemukan sebuah saham yang memiliki fundamental bagus dengan murah, apakah mungkin perusahaan tersebut bisa berubah fundamental nya? (Maksudnya dari yang tadinya fundamental nya bagus menjadi kurang bagus).. Dan kalau fundamentalnya bisa berubah, Bagaimana kita bisa mengetahuinya?

 

Sebagai seorang Value Investor, seringkali orang menyalahartikan bahwa setelah membeli saham yang dinilai memiliki fundamental bagus dan undervalue, maka tugas kita sebagai seorang investor telah selesai. Well nyatanya tidak demikian. Tugas kita sebagai investor baru SETENGAH selesai. Lho memang masih ada lagi tugas nya? Tentu saja ada.. Sebagai seorang investor, Anda wajib untuk “mengawal” perusahaan tersebut. Karena, perusahaan yang Anda beli sahamnya tersebut bisa saja berubah fundamental nya.

 

Saya coba ambil beberapa contoh :

Kita ambil contoh misalkan CPIN dan JPFA, sepanjang 2016 sampai awal 2017 ini memang mencatatkan kinerja yang cemerlang, namun karena regulasi pemerintah yang menstop impor jagung (di mana membuat harga jagung menjadi meningkat), sehingga membuat cost menjadi naik dan sebaliknya membuat laba bersih nya menjadi tertekan. Meskipun sejatinya CPIN dan JPFA adalah perusahaan yang bagus, di sini kita bisa mengatakan bahwa fundamental sebuah perusahaan bisa berubah karena adanya regulasi dari pemerintah.

 

Contoh lain saya ambil contoh yang baru-baru ini masih hangat dibicarakan, yaitu AISA. AISA ini secara fundamental juga bisa dibilang bagus. Pendapatan dan laba bersih meningkat secara konsisten, ekuitas meningkat, secara valuasi harga sahamnya juga masih di bawah harga wajarnya. Namun, ketika kemarin diberitakan mengenai tuduhan praktik bisnis menjual beras subsidi menjadi beras premium, tentu saja fundamentalnya bisa berubah. Dengan catatan kalau memang itu benar terjadi, fundamental nya bisa menjadi berubah karena faktor business issues.

 

Perusahaan big caps seperti ASII pun bukannya tidak pernah berubah fundamental nya. Ketika tahun 2015, di mana Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi, industry otomotif menjadi salah satu yang terkena dampaknya. Penjualan mobil dan sepeda motor turun drastis di tahun 2015, membuat laba bersih ASII juga merosot dari Rp 19.2 T menjadi Rp 14.4 T. Harga sahamnya pun merosot dari 8500 an ke 5100 an. Untuk case ASII ini, kita bisa mengatakan bahwa fundamental berubah karena kondisi sektoral.

 

Nah dari ketiga contoh di atas, Anda bisa melihat bahwa penting bagi seorang investor untuk tetap mengawasi perkembangan dari perusahaan yang kita beli sahamnya. Dengan membeli saham, kita sudah menjadi bagian dari pemilik perusahaan, maka dari itu, selayaknya kita juga turut mengawasi kinerja perusahaan. Perusahaan yang “dulu bagus” belum tentu sekarang juga masih bagus. Sebaliknya, perusahaan yang “sempat tidak bagus” belum tentu ke depannya tidak bagus juga. Oleh karena itu, Anda wajib memiliki pengetahuan setidaknya kondisi terakhir perusahaan dan sektor industri perusahaan.

 

Khusus di market Indonesia sendiri, saya melihat hanya sedikit perusahaan yang senantiasa selalu bagus. Hal tersebut bukan hal yang mengejutkan, karena sebagai negara berkembang, Indonesia masih sensitif terhadap perubahan dari internal maupun eksternal. Investor lokal pun belum bisa menjadi tuan rumah dari pasar modal Indonesia. Investor asing yang notabene masih memegang porsi yang lebih besar, tentu lebih waspada terhadap perubahan-perubahan ini. Itulah yang menyebabkan kondisi perusahaan di Indonesia terkadang bisa bagus dan terkadang bisa turun.

 

Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita bisa mengetahui apakah perusahaan yang kita beli ini memiliki fundamental yang bagus SAAT INI? Well, sebagai investor Anda memiliki senjata yang namanya laporan keuangan. Di laporan keuangan itulah Anda bisa melihat bagaimana kondisi terakhir perusahaan. Lihat rasio-rasio yang penting seperti ROE, NPM, DER, dll untuk melihat apakah perusahaan sedang dalam kondisi sehat atau sakit. Perhitungkan juga harga wajar saham tersebut. Apabila Anda mendapatkan perusahaan yang sedang mengalami pertumbuhan yang sehat, harga nya masih undervalue, dan secara bisnis sedang tidak dalam kondisi yang kurang menguntungkan (seperti tiga contoh di atas), maka Anda bisa lebih aman dalam berinvestasi. Namun tetap saja, Anda harus selalu memperhatikan perkembangan terakhir mengenai kinerja perusahaan.

 

Info :

Cheat Sheet dan E-Book Quarter Outlook untuk Laporan Keuangan Kuartal II 2017 sudah terbit hari ini, Anda dapat memperoleh nya di sini dan di sini

Monthly Investing Plan Agustus 2017 juga sudah terbit hari ini, Anda dapat memperolehnya di sini.

 

Tags :  Fundamental Saham |  Fundamental Saham |  Fundamental Saham |  Fundamental Saham |  Fundamental Saham |  Fundamental Saham |  Fundamental Saham |  Fundamental Saham |  Fundamental Saham | Fundamental Saham |  Fundamental Saham |  Fundamental Saham |  Fundamental Saham |  Fundamental Saham |  Fundamental Saham

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami