Ada Apa di Balik Turunnya Harga Saham PGAS?


PGAS merupakan market leader untuk bisnis distribusi gas di Indonesia. Karena dominasi inilah yang membuat PGAS bisa mencetak Return on Equity (ROE) lebih dari 30% sejak 2006 – 2014. Net Profit dan pendapatannya juga selalu meningkat konsisten setiap tahunnya, alias bisa dibilang salah satu wonderful company yang ada di Indonesia.

Namun sejak 2015 (sampai dengan saat ini), kondisi yang dialami PGAS sedikit berubah. PGAS yang biasanya konsisten mencetak net profit di atas US$ 700 juta setiap tahunnya, per tahun 2015 hanya mampu mencetak profit US$ 401.2 juta, bahkan di tahun 2016 kemarin, PGAS “hanya” mencetak profit US$ 304.3 juta. Karena penurunan Net Profit ini pula, ROE pun menjadi turun cukup drastis. Di mana PGAS biasanya mampu mencatatkan ROE di atas 30%, di tahun 2015 PGAS hanya mencatatkan ROE 15%, bahkan di tahun 2017 ini ROE tercatat hanya 3% ! Sebuah catatan yang kurang baik sebenarnya untuk seukuran perusahaan yang menguasai pangsa pasar distribusi gas di Indonesia > 80%. Harga sahamnya pun turun dari 5700 an ke posisi saat artikel ini ditulis, yaitu 1885, posisi terendah sejak tahun 2013. Anda dapat melihat grafik di bawah ini untuk lebih jelasnya.

Pergerakan Harga Saham PGAS 2003 – 2017, Source : Yahoo Finance

Ada apa dengan PGAS? Itulah pertanyaan banyak investor saham. Ternyata sejak tahun 2015, pemerintah banyak mengintervensi harga gas, sehingga profit margin perusahaan menjadi terpengaruh. Meski pendapatan tidak terlalu menurun pada kuartal II 2017, laba kotor PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) turun sampai 67%. Penurunan pendapatan distribusi gas memicu turunnya laba kotor. Memang, PGAS punya kontrak business-to-business (B2B) dengan para pelanggannya sehingga belum tentu harga gas PGAS ikut turun sesuai ketentuan pemerintah.

Tekanan harga minyak mentah yang berkepanjangan juga terus menghadirkan tantangan besar bagi Perusahaan. Tekanan berkepanjangan pada harga minyak mentah yang masih belum kembali stabil sejak menurun tajam dari kisaran US$ 100 – 120 / barrel pada 2014 menjadi rata-rata sebesar US$ 40 / barrel di tahun 2016. Karena itulah konsumen energi beranggapan bahwa keunggulan kompetitif gas bumi terhadap minyak melemah secara drastis, dan dampaknya mereka memiliki ekspektasi untuk mendapatkan harga gas dengan harga murah, namun di saat yang bersamaan biaya yang menjadi beban PGAS belum dapat mengikuti proporsi murahnya harga yang diharapkan. Namun demikian, PGAS berhasil mengelola dan mengimbangi sebagian ekspektasi pelanggan antara lain dengan memanfaatkan fasilitas LNG, mengingat sebagaimana berlaku umum di industri minyak dan gas, harga LNG dibentuk berdasarkan harga minyak mentah.

Pergerakan Harga Minyak Mentah Dunia 2012 – 2017, Source : Trading Economics

Bagi pelanggan utama PGN di sektor listrik dan industri, kondisi ekonomi yang tumbuh terbatas memperpanjang kondisi pelemahan permintaan terhadap hasil produksi. Alhasil, permintaan pembangkit dan industri terhadap gas bumi pun menjadi menurun.  Namun harapan muncul berkat tindak lanjut dari program amnesti pajak yang dilakukan pada tahun 2016, yang memberi pemerintah kelonggaran fiskal untuk kembali membiayai pengeluaran infrastruktur. Kegiatan ini akan mendorong munculnya kebutuhan akan listrik ke depannya, dan tentu saja hal ini akan membuka kesempatan bagi PGN untuk terus meningkatkan peran gas dalam sektor listrik.

However, di tengah kondisi pasar yang kurang menguntungkan, PGAS tetap menunjukkan ketangguhannya dengan kondisi Free Cash Flow (FCF) positif, dimana per Kuartal II 2017, Free cash flow (FCF) PGAS masih positif $ 162.6 juta. Hal tersebut merefleksikan kondisi fundamental perusahaan yang kokoh. Sebagai tambahan, Pemerintah masih tetap memercayakan program perluasan akses pelanggan rumah tangga terhadap energi murah dan aman kepada PGAS, dengan mengamanatkan PGAS untuk membangun dan mengoperasikan infrastruktur. Program ini dilaksanakan bersamaan dengan program “PGN Sayang Ibu’, di mana program ini berhasil menambah 57 ribu sambungan rumah tangga pada tahun 2016.

Jadi, kesimpulannya apakah PGAS ini layak invest atau tidak? Well, jika melihat kondisi saat ini, sepertinya sekarang belum saat yang tepat buat masuk ke PGAS mempertimbangkan faktor-faktor di atas tadi. Namun, sebagai perusahaan dengan fundamental yang kuat, saya dapat katakan PGAS pasti dapat melalui keadaan yang kurang menguntungkan ini dengan baik. Lalu kapan saat yang tepat? Pertama, saat harga minyak mentah mulai naik, yang itu berarti ekspektasi terhadap harga gas juga akan meningkat. Kedua, saat laporan keuangannya nanti sudah mulai mencerminkan kenaikan kinerja. Patokannya adalah laba bersih yang meningkat, Net Profit Margin yang membaik, dan juga Return on Equity nya kembali seperti tahun 2014 ke bawah yaitu di sekitar 30%. When the time is right, PGAS ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk investasi jangka panjang, seperti hal nya kinerja PGAS yang sangat konsisten bertumbuh di tahun 2006 – 2014.

 

Info : 

Monthly Investing Plan September 2017 sudah terbit, Anda bisa berlangganan di sini.

Jadwal Workshop Value Investing di Kota Jakarta 9 & 16 September 2017 jam 09.00 – 16.00. Pendaftaran via online di : http://ticmi.co.id/rivan-kurniawan. Untuk informasi lebih lanjut, Anda  dapat menghubungi via SMS / WA ke 0896-3045-2810 (Johan) atau email : info@ticmi.co.id.

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami