Saham Batubara Indika Energy

Indika Energy (INDY) dan Update Saham Batubara


Saham Batubara Indika Energy

Jika Anda perhatikan belakangan ini (dari April 2017). Saham-saham di sektor mining banyak mengalami koreksi setelah rally dari pertengahan 2016, di mana misalkan HRUM yang naik dari 1080 ke 2800, kemudian belakangan turun ke 2080; PTBA yang rally dari 6375 ke 13750, belakangan turun ke 10850; dan ADRO rally dari 720 ke 1930, belakangan turun ke 1495. Ada apa sebenarnya?

Well, jika Anda perhatikan saham-saham batubara ini naik sejak pertengahan 2016 saat harga batubara mulai beranjak naik. Bahkan untuk beberapa emiten, dampaknya bahkan belum tercermin di laporan keuangan (alias laporan keuangan saham-saham batubara masih jelek). Namun investor sudah hapal rumus saham batubara : kalau harga batubara naik, laba PASTI naik, dan investor ramai-ramai membeli saham batubara (termasuk yang penulis share di member juga bahwa sepanjang 2016, portfolio penulis hanya terfokus di saham batubara).

Nah hasil dari kenaikan harga batubara tersebut mulai tercermin di laporan keuangan perusahaan Kuartal I 2017 ini, di mana as predicted laporan keuangan emiten batu bara Kuartal I 2017 rata-rata menunjukkan kenaikan laba bersih dibandingkan 2016. Namun kembali ke pertanyaan awal, kenapa sahamnya malah turun? Hal tersebut karena market menyesuaikan dengan harga wajar sahamnya.

Ingat, bahwa kenaikan harga saham batubara naik dari pertengahan 2016 di saat laporan keuangan BELUM mencerminkan hasilnya (which is harga saham-saham batu bara bisa dibilang unbelievably undervalue. Dan ketika hasilnya tercermin di Kuartal I 2017, maka harga saham tersebut menjadi priced-in, atau tidak bisa dibilang undervalue lagi melainkan sudah sesuai dengan harga wajarnya.

Namun, setelah saya menganalisa lagi, ada satu saham yang secara tidak langsung berhubungan dengan saham batubara, dan valuasinya masih murah yaitu INDY. INDY ini memang sedang hangat diperbincangkan karena harga sahamnya naik dari 700 ke 1260 hanya dalam waktu 2 minggu, meskipun belakangan turun ke bawah 1000.

INDY sempat mengalami kerugian selama 4 tahun berturut-turut sejak 2013 – 2016, yang mengakibatkan harga sahamnya turun ke Rp 100-an. Baru di Kuartal I 2017 , INDY memperoleh laba bersih. Di kuartal I 2017, laba bersih nya adalah $ 22.1 juta (setara dengan Rp 293.9 miliar atau Rp 1.17 triliun jika disetahunkan), naik 229% ketimbang rugi bersih Rp 908 miliar yang dicatatkan pada tahun 2016 kemarin.

FYI, Salah satu strategi yang dilakukan INDY sehingga bisa membalikkan keadaan dari rugi menjadi profit adalah peningkatan produktivitas, pengurangan biaya dan efisiensi operasional selama dua tahun belakangan sehingga hasilnya mulai terasa saat ini. Efisiensi pertama dengan pengurangan direksi yang dilakukan April 2016 lalu. Jumlah direksi dikurangi dari 7 menjadi hanya 3 orang pada 2016 kemarin. Efisiensi kedua adalah menurunkan beban umum dan beban administrasi hampir 28% dari $ 27.3 juta pada kuartal I 2016 menjadi $ 19.7 juta pada kuartal I 2017. Efisiensi ketiga adalah realisasi belanja modal tahun lalu yang hanya sebesar $ 22 juta. Jauh di bawah anggaran belanja modal 2016 yang senilai $ 58.7 juta.

Pendapatan INDY di 2017 ini pun meningkat sekitar 14% (annualized). Faktor utama di balik peningkatan pendapatan perseroan ini yakni karena meningkatnya pendapatan anak usaha perseroan, yakni Petrosea sebesar 39%. Petrosea menyumbang 26.3% dari total pendapatan perseroan, atau setara $ 58.5 juta. Meningkatnya pendatapan Petrosea disebabkan karena bertambahnya volume pengupasan lapisan tanah atau overburden removal dari proyek baru dan penambahan volume dari proyek yang sudah berjalan. Di sisi lain, nilai bisnis perdagangan batu bara juga meningkat karena harga jual yang lebih baik. Hal ini turut menopang perbaikan kinerja perseroan awal tahun ini. INDY juga mencatatkan peningkatan drastis dari bagian laba bersih entitas asosiasi dan pengendalian bersama entitas meningkat 113% menjadi $ 35.6 juta berkat kontribusi produsen batu bara Kideco Jaya Agung yang mencatatkan perbaikan harga jual rata-rata.

INDY mengganggarkan dana belanja modal tahun 2017 kembali normal sebesar $ 88.1 juta. Karena memang normalnya anggaran belanja modal INDY per tahun adalah sekitar $70-an juta hingga $80-an juta. Hanya memang beberapa tahun terakhir INDY mengetatkan pengeluaran capex di saat INDY masih mencatatkan kerugian. Mayoritas belanja modal INDY adalah dari anak usahanya yakni PT Petrosea Tbk. sebesar $ 68.3 juta. Sekitar 60% – 70% dari anggaran belanja modal Petrosea adalah untuk pengadaan peralatan. Kebutuhan belanja modal lainnya yakni untuk PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. sebesar $11.5 juta, IE Holding $ 600 ribu, dan resources $7.7 juta.

Kemarin ini banyak yang bertanya kenapa saya tidak ikut ngejar INDY ketika harganya naik dari 700 an ke 1200 an? Well, saya lebih suka masuk di saat market panic selling. Beruntung, ketika artikel ini ditulis. INDY baru saja kembali menapak ke bumi. Di mana harganya turun dari 1260 menjadi Rp 855 (turun 32%) hanya dalam 3 hari perdagangan. Beberapa hari ke depan, secara teknikal mungkin INDY masih akan turun beberapa poin di 750 an. Namun harusnya gak akan nyampe 700 seperti di tahun 2016 kemarin ketika masih rugi. Strateginya, Anda bisa beli sebagian di range 800 – 850, namun jika besok-besok INDY dikasih di bawah harga 800. Anda bisa beli sebagian lagi. Karena, di harga 855 saja, PER nya masih tercatat sebesar 4.0x dengan PBV 0.5x. Market cap nya pun tercatat masih di angka Rp 4.7 triliun. Masih jauh di bawah ekuitas perusahaan sebesar Rp 10.18 triliun.

 

Info : Monthly Investing Plan Mei 2017 dan Quarter Outlook Laporan Keuangan Q1 2017 sudah terbit !!!. Anda bisa mendapatkannya di sini dan sini 

 

Tags : Saham Batubara Indika Energy | Saham Batubara Indika Energy | Saham Barubara Indika Energy | Saham Barubara Indika Energy | Saham Barubara Indika Energy | Saham Barubara Indika Energy | Saham Barubara Indika Energy

You may also like

2 Comments

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami