Posisi IHSG

Benarkah Posisi IHSG Sudah Terlalu Tinggi?


Posisi IHSG

Kenaikan IHSG di ke titik tertinggi sepanjang sejarah di level 5726 pada bulan April 2017 kemarin mengundang sejumlah optimisme namun juga kekhawatiran di saat yang bersamaan. Banyak investor mengkhawatirkan bahwa IHSG sekarang sudah terlalu tinggi dan berpotensi untuk bubble (baca : IHSG rontok). Well, mungkin Anda perlu mengetahui terlebih yang namanya Economic Business Cycle, seperti pada gambar di bawah ini.

Economic Business Cycle

 

Indonesia in 2015 : Contraction Period

Anda ingat, di tahun 2015 di mana pertumbuhan ekonomi mencapai titik terendah yaitu 4.8% selama satu dasawarsa terakhir, yang menyebabkan IHSG turun ke level terendah nya di 4,207 ( turun 23% dari posisi nya di bulan April 2015 yaitu 5,491). Di masa itulah Indonesia sedang mengalami masa yang disebut masa kontraksi (Contraction Period), di mana biasanya ditandai penurunan ekonomi, penurunan harga saham, dan penurunan harga komoditas. Ya, jika Anda ingat semua indikator ekonomi menunjukkan hal yang kurang menggembirakan. Salah satunya adalah melemahnya mata uang Rupiah terhadap dollar, di mana saya ingat betul nilai tukar rupiah di tahun 2015 menembus sampai level angka delivery nya McDonalds, yaitu 14,045. Di tahun 2015 pula dan Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi terendah selama 6 tahun terakhir, yaitu hanya 4.8% (benchmark Indonesia selalu mencatatkan rata-rata pertumbuhan ekonomi di atas 5% setiap tahun selama 6 tahun terakhir)

 

Sebagaimana sebagian besar dari kita mengetahui dan bahkan merasakan berat nya pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2015, di mana tidak hanya bursa saham melainkan juga usaha-usaha di sektor riil juga rata-rata mengalami penurunan dalam segi pendapatan dan laba. Di bursa saham, dari 516 emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia saja, 153 nya mengalami kerugian bersih, 195 nya mencatatkan penurunan laba bersih, dan hanya 168 emiten saja yang mencatatkan kenaikan laba bersih. Dampaknya terhadap harga saham? Tentu saja harga-harga saham menjadi turun. Tercatat 344 saham mengalami penurunan harga saham, dan hanya 172 saham saja yang mengalami kenaikan harga saham.

 

Indonesia in 2016 : Recovery Time

Memasuki tahun 2016, pemerintah menerapkan berbagai kebijakan ekonomi, di antaranya dengan menurunkan BI Rate secara bertahap dari 7.25% di awal tahun 2016 ke 4.75% di bulan Oktober 2016. Langkah ini dilakukan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Selain itu, pemerintah juga mengatur jumlah uang yang beredar dan mendorong neraca perdagangan surplus, di mana Indonesia mampu menjual produk-produk yang dihasilkan dengan nilai total lebih banyak dari nilai total yang dibelinya dari negara-negara lain. Hal ini dilakukan agar nilai tukar mata uang negara tersebut cenderung menguat terhadap negara partner dagang. Terbukti, Rupiah menguat dan stabil di level 13,300 an. Hal ini lah yang kemudian, membuat ekonomi mulai bertumbuh, dan membuat kinerja perusahaan menjadi lebih baik.

 

Secara overall, kita bisa melihat bahwa rata-rata emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia juga mencatatkan kinerja 2016 yang lebih baik dibandingkan dengan 2015. Hal paling mendasar yang menyebabkan kinerja yang lebih baik ini adalah karena faktor pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2016.  Sementara di tahun 2016, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, yaitu 5.02%. Angka 5.02% ini lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2014 sebesar 5.01%, namun masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2013 sebesar 5.6%

 

 

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 F 2018 F 2019 F
Real GDP Growth 6.2 6.0 5.6 5.0 4.8 5.0 5.3 5.5

5.8

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

 

Faktor Apa yang mendorong pertumbuhan ekonomi di 2016?

Setidaknya ada 6 faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi di 2016. Faktor pertama adalah kondisi perekonomian global yang juga meningkat, terutama di Kuartal IV 2016, demikian pula dengan ekonomi beberapa mitra perdagangan Indonesia yang pada umumnya juga membaik. China sedikit menguat dari 6.7% menjadi 6.9%, AS meskipun sedikit gaduh dengan terpilihnya Presiden Donald Trump juga menguat dari 1.7% menjadi 1.9%, serta negara tetangga Singapura menguat dari 1.1% menjadi 1.8%.

 

Faktor kedua yang adalah meningkatnya konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah, terutama di kuartal IV 2016. Tren suku bunga yang menurun dari 6.25% menjadi 4.75% serta terjaga nya inflasi di sekitaran 3% sepanjang tahun lalu juga turut mendorong konsumsi masyarakat.

 

Faktor ketiga adalah tax amnesty, yang diluncurkan oleh pemerintah di Bulan Juli 2016 untuk membawa masuk kembali sejumlah asset yang berada di luar negeri, di mana hingga pertengahan Februari 2017 kemarin, program Amnesti Pajak telah mengumpulkan Rp 111 Triliun (dari target Rp 165 Triliun) yang diperoleh dari uang tebusan, pembayaran tunggakan, dan pembayaran hasil bukti permulaan yang telah diikuti lebih dari 650 ribu Wajib Pajak.

 

Faktor keempat adalah terjaga nya tingkat inflasi. Sepanjang 2016, Inflasi tetap berada di bagian bawah pada kisaran target BI sebesar 3-5 persen, yang didukung oleh perlambatan pertumbuhan harga beras dan bahan bakar, Inflasi yang rendah juga berkontribusi terhadap kuatnya pertumbuhan dalam pengeluaran konsumsi swasta di kuartal tiga

 

Faktor kelima adalah kredibilitas kebijakan fiskal, yang telah ditingkatkan melalui pemotongan pengeluaran pada APBN tahun 2016 dan target penerimaan yang lebih dapat dicapai di dalam APBN Perubahan tahun 2016 dan APBN tahun 2017 yang sudah disetujui.

 

Faktor keenam, masuknya arus Penanaman Modal Asing yang kuat di kuartal tiga dan reformasi yang terus berjalan untuk perbaikan iklim investasi, tercermin dalam peningkatan peringkat Indonesia di dalam survei Kegiatan Usaha (Doing Business Survey) Bank Dunia, yang mendukung prospek investasi swasta.

 

Indonesia in 2017 : Tahun akselerasi ?

Ekonomi Indonesia telah berhasil melewati gejolak finansial global dan berada dalam posisi yang baik untuk mengatasi tantangan di masa depan yang bisa berdampak pada pertumbuhan. Ini semua berkat fondasi ekonomi yang kuat serta reformasi kebijakan pemerintah. Di tahun 2017, pemerintah optimis bahwa pertumbuhan ekonomi 2017 akan lebih baik dibandingkan 2016, dan pemerintah mentargetkan mampu mencapai 5.2 – 5.3%. Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia ini lebih baik dibandingkan beberapa negara berkembang lainnya seperti Filipina, Malaysia, dan Thailand. Bahkan Ibu Sri Mulyani mengatakan bahwa Indonesia masuk ke dalam top 3 negara pertumbuhan ekonomi terbaik di dunia.

 

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dibandingkan dengan Beberapa Negara Lainnya

Source : http://pubdocs.worldbank.org/

 

Serangkaian reformasi kebijakan fiskal dan iklim usaha diperkirakan bakal meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. APBN tahun 2017 juga memperlihatkan adanya perbaikan komposisi belanja, termasuk alokasi lebih tinggi untuk sektor-sektor infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan yang masih berlanjut. Sejak tahun 2015 ke atas, alokasi dana APBN memang terfokus kepada 3 prioritas tersebut.

 

Alokasi dana APBN 2017

Source : http://www.kemenkeu.go.id/apbn2017

 

Indonesia juga telah melewati gejolak keuangan global belum lama ini dengan baik. Rupiah terdepresiasi 3 persen sesaat setelah berlangsungnya pemilu di AS di November 2017 – kinerja yang relatif kuat dibandingkan dengan negara berkembang lainnya seperti Malaysia, Filipina, Thailand, dan Singapore. Namun, di 2017 ini diprediksi Bank Sentral akan menaikkan suku bunga dua hingga tiga kali. Hal ini berpotensi membuat nilai tukar Rupiah kembali melemah karena Indonesia sangat bergantung pada mata uang dolar AS. Pasalnya, Sekitar 75 persen transaksi perdagangan Indonesia menggunakan dolar AS. Hal ini dapat diantisipasi apabila pembangunan infrastruktur di mana proyek nya banyak dilakukan dengan Cina dan Jepang, dilakukan dengan mata uang Rupiah.

 

Indeks Nilai Tukar Rupiah terhadap USD pasca Brexit dan Pemilu di AS

Source : http://pubdocs.worldbank.org/

 

Satu hal lagi, salah satu faktor yang bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2017 adalah Investment Grade. Namun, kita tidak akan membahas mengenai investment grade pada artikel ini. Saya akan membahas nya di dalam artikel terpisah.

 

Terlepas dari itu semua, ada beberapa tantangan yang akan dihadapi Indonesia di tahun 2017 ini. Salah satunya adalah tingkat inflasi. Risiko inflasi muncul karena beberapa kenaikan harga barang yang diatur pemerintah (administered price), misalnya kenaikan tarif listrik. Sebab bila tidak dikendalikan dengan baik bisa berdampak pada daya beli masyarakat. Masyarakat dengan tingkat pendapatan yang lebih rendah bisa tergerus dengan kenaikan inflasi apabila tidak terkontrol.

 

Sementara itu, tantangan juga muncul dari global. Pertama, perlambatan pertumbuhan ekonomi global di tahun 2016 tetap menjadi tantangan yang perlu dicermati di tahun 2017. Selama beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi global selalu di bawah 3% pasca 2008.

 

Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Dunia

Source : http://pubdocs.worldbank.org/

 

Kedua, perubahan politik di Amerika Serikat setelah terpilihnya Donald Trump yang diyakini akan berdampak luas, termasuk di dalamnya kebijakan AS untuk menaikkan suku bunga acuan. Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa 75% transaksi perdagangan Indonesia menggunakan dolar AS. Tantangan ketiga, masih berlanjutnya ketidakpastian di Eropa pasca Brexit (British Exit).

 

Kesimpulannya? jika Anda melihat kembali Economic Business Cycle di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Indonesia di tahun 2015 berada di Stage 1 (contraction period), tahun 2016 berada di stage 2 (recovery period), maka di tahun 2017 ini Indonesia dipercata berada di stage 3 (expansion period), sehingga kenaikan IHSG ke level tertinggi sepanjang sejarah tidak perlu dikhawatirkan akan terjadi bubble atau bearish dalam waktu dekat ini, setidaknya untuk beberapa bulan ke depan.

 

Notes : Hadirilah event “Hot Sectors to Invest in 2017” tanggal 6 Mei 2017 di Mirae Asset Sekuritas Mangga Dua pukul 10.00 – 13.00. Pendaftaran dapat dilakukan melalui :

http://bit.ly/hotsector2017

atau

Email : miraeasset.event@gmail.com

WA : 085773608850 (Frans)

 

 

Tags : Posisi IHSG Posisi IHSG, Posisi IHSG. Posisi IHSG Posisi IHSG, Posisi IHSG

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami