Analisa Sektoral Kuartal I 2017


Review Sektoral 2016

Kinerja positif emiten di BEI sepanjang tahun 2016 tercermin pada kenaikan IHSG sebesar 15.3% sepanjang tahun 2016. Sektor apa saja yang berkontribusi terhadap kenaikan IHSG? Apabila kita melihat data di bawah, sektor yang indeks nya meningkat paling tinggi sepanjang tahun 2016 adalah : Mining (70.7%),  disusul sektor Basic Industry & Chemical (termasuk di dalamnya sub sektor pakan ternak, semen, pulp and paper, dll) yang meningkat sebanyak 32.0%, dan Miscellaneous Industry (termasuk di dalamnya komponen otomotif, textile, dan cable) yang meningkat sebanyak 29.6%. Sementara industri yang “tidak kebagian panggung” di 2016 adalah Retail Trade (+1.3%), Properti dan Konstruksi (+5.5%), dan Infrastructure (+7.6%).

  Sectoral Index 2015 – 2016 (source : idx.co.id)

 

Meningkatnya harga komoditas seperti batubara, membuat investor optimis dan membuat sektor mining menjadi yang paling “diburu” oleh para investor. Hampir semua emiten di sektor mining mengalami masa-masa yang bisa dibilang dirindukan oleh banyak sekali investor termasuk saya, di mana saham mining ini hampir 3 tahun sangat lesu (2013 – 2015). Oleh karena itu, kenaikan harga komoditas seperti batubara tentu saja langsung “disambut” oleh investor, meskipun secara laporan keuangan di 2016 sebenarnya belum bagus-bagus amat. Namun, investor seperti sudah “sepakat” bahwa jika harga komoditas naik, maka kinerja perusahaan mining ini akan meningkat. Sebut saja ANTM yang harga sahamnya naik dari 314 ke 895 (185%), MEDC naik dari 795 ke 1320 (66%), ADRO naik dari 515 ke 1695 (+229%), BUMI juga bangkit dari 50 ke 278 (+456%), DOID dari 54 ke 510 (+844%), HRUM dari 675 ke 2,140 (+217%), ITMG dari 5725 ke 16975 (+196%), KKGI dari 420 ke 1,500 (+257%), PTBA dari 4,525 ke 12,500 (+176%), dan masih banyak lagi. Alhasil, sektor mining ini meningkat 70% sepanjang tahun 2016. Demikian pula dengan membaiknya industri Basic Industry & Chemical, membuat harga saham emiten di industri ini juga mengalami peningkatan. Sebut saja JPFA dari 635 ke 1,455 (+129%), dan BRPT dari 130 ke 1465 (+1026%)

 

Sebaliknya, industri properti yang masih lesu di 2016, membuat saham-saham properti pun makin terpuruk. Sebut saja APLN turun dari 334 ke 210 (-37.1%), BEST dari 294 ke 254 (-13.6%), CTRA dari 1,460 ke 1,335 (-8.5%), LPCK dari 7250 ke 5,050 (-30.3%), LPKR dari 1,035 ke 720 (-30.4%), MDLN dari 467 ke 342 (-26.7%), dll.  Sektor konstruksi juga demikian, meskipun banyak proyek yang dibangun, namun berita nya tidak terlalu diexpose oleh media, membuat harga saham konstruksi juga cenderung turun, sebut saja SSIA turun dari 715 ke 434 (-39.3%), WIKA dari 2640 ke 2360 (-10.6%), NRCA dari 625 ke 330 (-47.2%), JKON dari 840 ke 620 (-26.1%).

 

Review Sektoral Kuartal 1 2017

Bagaimana dengan 2017? Sampai dengan Kuartal 1 2017 (Jan – Mar 2017), IHSG tercatat meningkat 5.1%.  Sektor Mining masih menguasai panggung bursa dan menjadi buruan utama investor, di mana sektor mining meningkat 10.1%, demikian pula dengan Basic Industry & Chemical yang meningkat 9.5%, dan sektor Finance yang meningkat 7.4%.

 

Sebaliknya, sektor Properti yang diharapkan bakal bangkit di tahun 2017 ini, ternyata masih belum terasa dampak nya, di mana sektor properti justru turun 1.4% dibanding akhir tahun 2016, sehingga harga saham-saham di sektor properti juga makin terdiskon, katakanlah LPCK dari 5050 ke 4250 (-15.8%), MDLN dari 342 ke 294 (-14.0%), MTLA dari 354 ke 320 (-9.6%), RODA dari 390 ke 218 (-44.1%), LCGP dari 135 ke 101 (-25.2%).

 

Sektor konstruksi juga sama, meskipun tidak sampai minus seperti property, tapi kenaikan saham-saham konstruksi masih belum “berasa”, seperti TOTL yang baru naik 5.8% dari 765 ke 810, WIKA yang baru naik 2.1% dari 2360 ke 2410, WSKT malah turun 7% dari 2550 ke 2370, hanya ADHI yang naik lumayan yaitu 13.9% dari 2,080 ke 2,370.


 Sectoral Index 2016 – Mar 2017 (source : idx.co.id)

 

Projection Sektoral Kuartal II 2017

Bagaimana ke depannya? Jika melihat data di atas, Mining mungkin masih menjadi pilihan di Kuartal II tahun 2017. Permasalahannya, saham-saham mining ini valuasi nya rata-rata sudah mahal. Katakanlah dari sisi Price to Earning Ratio (PER), ANTM sudah di angka 270, INCO 927, HRUM 35.4, TINS 29.4, MEDC 28.2, DOID 15.7, PTBA 15.2, di mana kita tahu bahwa PE Ratio di atas 10, dapat diindikasikan sudah mahal (overvalued). Kecuali laporan keuangan Kuartal I 2017 nanti keluar (akhir April), yang dapat membuat valuasi harga sahamnya kembali menjadi kembali murah, kemungkinan untuk mendapatkan Capital Gain di sektor mining ini sepertinya sudah agak terbatas. Beberapa sektor lain seperti Bank yang menjadi saluran utama dari Tax Amnesty juga bisa dikatakan sudah overvalued.

 

Namun, saya melihat peluang yang masih cukup terbuka untuk mendapatkan Capital Gain di beberapa sektor lain. Salah satunya adalah sektor Animal Feed, Automotive Components, Chemicals, Financial Insitution, Insurance, Investment Company, Retail Trade, Consumer Goods, Telecommunication, dan Textile.

 

Bagaimana dengan sektor yang masih belum kebagian panggung seperti properti, semen dan agriculture? Well, nampaknya masih perlu melihat perkembangan lebih lanjut lagi di laporan keuangan Kuartal I 2017. Namun, saya pribadi optimis bahwa seharusnya properti, semen dan agriculture akan lebih baik kinerja nya di tahun ini.

 

Apabila Anda ingin mengetahui lebih jauh, saham apa saja memiliki fundamental bagus berdasarkan laporan keuangan terakhir (Kuartal IV tahun 2016) dan yang masih undervalue dan memiliki potensi upside yang cukup tinggi, Anda dapat berlangganan e-book Quarter Outlook saya, di mana saya telah memilihkan 20 saham pilihan yang sesuai dengan kaedah Value Investing. Untuk informasi selengkapnya, Anda dapat melihat di http://rivankurniawan.com/e-book-quarter-outlook/

You may also like

1 Comment

  • robi husaeni
    February 14, 2019 at 12:02 PM

    gada yg th 2017-2018 ya gan ?

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami