Mitos Investor

Mitos Investor Kecil dan Investor Besar


Pada artikel sebelumnya, kita membaca tentang persepsi yang terbentuk di masyarakat bahwa pasar saham seolah-olah hanya diperuntukkan bagi investor yang memiliki modal besar saja. Sementara investor yang memiliki modal kecil seakan-akan tidak mungkin bisa sukses di pasar saham. Nah pada artikel kali ini, kita akan membahas mitos investor lainnya yang sering kali masih saya temui di kalangan masyarakat awam.

 

Mitos lain yang sering muncul di masyarakat awam adalah investor besar memiliki sumber informasi yang jauh lebih baik daripada investor kecil. Benarkah demikian? Untuk hal ini, saya bisa langsung mengatakan bahwa mitos ini adalah keliru. Let me ask a question, Apakah Anda (baik investor pemula ataupun berpengalaman) pernah membuka website www.idx.co.id? Jika belum, coba sekarang Anda buka website tersebut. Setelah Anda membuka website tersebut, Anda akan menjumpai halaman seperti ini.

 

Screenshot Website www.idx.co.id

 

Anda lihat di sebelah kiri ada menu Perusahaan Tercatat? Coba klik tombol tersebut, kemudian pilih Laporan Keuangan dan Tahunan. Kemudian akan muncul tampilan seperti ini.

 

Screenshot Halaman Laporan Keuangan dan Tahunan

http://www.idx.co.id/id-id/beranda/perusahaantercatat/laporankeuangandantahunan.aspx

 

Nah silakan Anda masukkan stock code yang Anda ingin lihat (missal : PGAS), dan Anda akan bisa langsung mendownload semua dokumen laporan keuangan, laporan tahunan, serta profil semua perusahaan yang tercatat di BEI tanpa syarat apapun. Apakah ketika mendownload tadi ada pertanyaan “Apakah Anda Investor Besar atau Investor Kecil?” atau pertanyaan “Berapa Modal Anda Sekarang?”. Tentu saja tidak kan? Meskipun Anda bukan investor sekalipun, Anda tetap bisa mendownload seluruh dokumen perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. So, jika ada yang mengatakan bahwa investor besar mampu memperoleh informasi yang jauh lebih baik dibandingkan investor kecil, Anda sekarang sudah tahu jawabannya kan?

 

Nah masalahnya muncul persepsi seperti itu, karena investor besar (misalkan institusi), mereka punya team yang khusus untuk melakukan Analisa dan riset terkait laporan keuangan perusahaan. Sedangkan investor kecil biasanya justru malas untuk membuka laporan keuangan. Inilah yang sebenarnya memunculkan mitos bahwa investor besar memiliki sumber informasi yang lebih baik ketimbang investor kecil. Namun, sebagai investor individu, tentunya hal ini jangan menjadi alasan untuk anda tidak membaca laporan keuangan. Membaca dokumen seperti laporan keuangan itu sebenarnya mudah koq! Jadi tidak seharusnya Anda Investor Kecil (Investor Individu) kalah dengan Investor Besar (Investor Institusi).

 

Hal ini sebenarnya memang dimaklumi, karena BEI sendiri (menurut pengamatan saya) jarang untuk mengedukasi investor mengenai bagaimana memanfaatkan website nya secara baik dan benar. Termasuk yaa itu tadi, membuka dan membaca laporan keuangan. Yang lebih sering kita dengar adalah bagaimana cara bertransaksi beli dan jual melalui online trading. Demikian hal nya dengan perusahaan sekuritas yang lebih cenderung memasarkan kecanggihan produk mereka dan mendorong agar Anda melakukan trading setiap hari untuk memperbesar fee mereka.

 

Karena seringkali seorang investor kecil sudah terlanjur percaya hal tersebut (bahwa investor besar memiliki sumber informasi yang lebih baik). Biasanya yang dilakukan adalah mencari shortcut atau jalan cepat. Misalkan dengan mencari rekomendasi saham atau stock pick untuk dibeli, berusaha mencari saham mana yang sedang diakumulasi oleh bandar atau pemain asing, atau yang lebih parahnya lagi membeli saham tanpa Analisa sama sekali!!!

 

Oleh karena itu, saya sangat menganjurkan bagi Anda investor yang baru memulai investasi di saham. Atau Anda yang selama ini membeli saham dengan feeling saja. Untuk mulai belajar menganalisa sebuah perusahaan dengan mempelajari laporan keuangan nya. Tidak sulit untuk melihat apakah perusahaan yang Anda beli memiliki fundamental yang bagus atau tidak. Dan apakah harga saham nya saat ini masih undervalued atau justru sudah overvalued.

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami