Online Trading = Profit Lebih Besar?


Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan beberapa praktisi saham. Kami membahas mengenai peranan kemajuan teknologi terhadap perkembangan dunia saham. Dahulu investor mengenal yang namanya floor trading. Pedagang di bursa secara manual ini pada mulanya dapat berjalan lancar karena jurnlah efek yang tercatat di bursa, maupun pialang yang terlibat di lantai bursa masih terbatas. Namun, dalam perkembangan bursa, terutama sejak terjadi boom pasar modal pada akhir tahun 1989, jumlah efek yang tercatat dan pialang yang terlibat meningkat dengan pesat. Penambahan jumlah emiten dan jumlah anggota bursa menyebabkan jumlah pialang di lantai bursa cukup padat. Floor trading membuat perkembangan di bursa menjadi terbatas dan dampak lebih lanjut adalah likuiditas pasar terbatas. Hal ini disebabkan kapasitas manual hanya sanggup menangani transaksi perhari maksimum 3.800 transaksi.

 

Seiring berjalannya waktu, kita mulai mengenal yang namanya remote trading. Remote Trading adalah perdagangan jarak jauh yang dapat dilakukan oleh anggota bursa dari kantor anggota bursa masing-masing. Sistem perdagangan ini merupakan pengembangan lebih jauh dari sistem JATS. Dengan sistem ini, setiap order anggota bursa akan dikirirn ke sistem perdagangan Bursa Efek Jakarta (JATS) tanpa perlu memasukkan order rmelalui lantai bursa. Proses memasukan order hanya dapat dilakukan melalui komputer yang ada di kantor anggota bursa.

 

Dewasa ini, muncullah teknologi yang sekarang kita kenal dengan online trading. Online trading adalah sistem perdagangan jarak jauh yang memungkinkan investor untuk memasukkan order (buy atau sell) via keyboard dengan eksekusi real time  langsung dari fasilitas teknologi yang tersedia seperti Internet, telepon ponsel, dll. Dengan adanya online trading, transaksi menjadi lebih efisien, investor bisa kapan pun melakukan transaksi jual dan beli.

 

Kemajuan teknologi memang memberikan kemudahan akses untuk kita sebagai investor, baik akses untuk mendapatkan ilmu tentang saham, akses untuk membuka account rekening efek, akses untuk mendapatkan laporan keuangan, serta akses untuk mendapatkan informasi dan berita secara jauh lebih cepat.

 

Kemajuan teknologi ini dengan kata lain sebenarnya memberikan kita OPPORTUNITY dalam berinvestasi di pasar modal. Dengan kemudahan akses mendapatkan informasi, kita menjadi lebih cepat mengetahui sektor apa yang sedang berkembang, sentimen apa yang terjadi seputar emiten. Begitu pula dengan kemudahan mendapatkan laporan keuangan, kita sebagai investor dapat lebih mudah memantau perkembangan perusahaan. Dengan kata lain, kita dapat menggunakan kemudahan akses ini untuk menghasilkan profit di pasar saham lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

 

Prinsip long term investing itu pun mulai mengalami pergeseran. Jika pada zaman Warren Buffett, long term didefinisikan di atas 5 tahun, maka di zaman sekarang ini, prinsip long term investing bisa didefinisikan sebagai 1 tahun saja. Seperti yang kita tahu bersama, sebuah saham akan naik jika ada “cerita” atau “alasan” bagi saham tersebut untuk bisa naik. “Cerita” atau “alasan” ini lah yang sekarang ini jauh lebih mudah untuk dicari informasi nya ketimbang satu dekade yang lalu.

 

Misalkan saja di tahun 2014, sektor properti mengalami pertumbuhan terbesar 55.76%, di mana di tahun politik (setelah Pemilu), investor melihat infrastruktur merupakan sektor yang digenjot pemerintah. Demikian pula di tahun 2016, sektor mining yang menjadi penopang indeks dengan return terbesar 70.73%, di mana investor melihat mulai normalnya harga minyak hingga melonjaknya harga batu bara menjadi sentimen penting yang mempengaruhi IHSG. Disadari atau tidak, kita sebagai investor lebih mudah mengetahui informasi-informasi ini secara lebih cepat dengan kemajuan teknologi, sehingga kita dapat invest di sektor yang lebih tepat.

 

Oleh karena itu, sebagai seorang investor yang handal, alangkah baiknya jika kita bisa memanfaatkan teknologi ini dengan baik dalam hal investasi saham. Jika kita dapat menangkap ke mana arah pasar akan bergerak, maka kita juga akan mendulang profit dengan lebih maksimal. Namun, yang perlu diwaspadai juga adalah kedewasaan kita dalam memilah mana informasi yang benar dan mana informasi yang tidak benar.

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami