Analisa Saham MLPL

Mengintip Peluang di Saham Multipolar (MLPL)


Analisa Saham MLPL

PT Multipolar Tbk (MLPL) merupakan investment company yang didirikan pada tahun 1975 dan mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 04 Desember 1975 dengan kantor pusat berlokasi di Menara Matahari, Lippo Karawaci Tangerang. Per akhir 2016, market cap MLPL tercatat sekitar US$ 277 juta atau setara dengan Rp 3.6 Triliun rupiah.

 

Multipolar (MLPL) berinvestasi di sejumlah anak usaha yang juga tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Investasi Multipolar (MLPL) terdiri dari 3 lini bisnis :

  • Retail Business:
    • 50.23% saham Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), yang merupakan salah satu peritel dominan di sektor FMCG dan mengelola salah satu jaringan toko hipermarket terbesar di Indonesia (Hypermart, Foodmart, Boston)
    • 17.48% saham Matahari Department Store Tbk (LPPF), yang merupakan salah satu department storeterkemuka di Indonesia.
    • 50.01% indirect share saham PT Matahari Graha Fantasi yang mengoperasikan Timezone, yang merupakan pusat hiburan keluarga terkemuka di Indonesia,
    • 100% saham PT Gratia Prima Indonesia yang mengoperasikan toko buku Books&Beyond
    • 100% saham Robbinz Department Store

 

  • Telecommunication, Multimedia & Technology (TMT)
    • 80.00% saham Multipolar Technology Tbk (MLPT), yang memiliki reputasi sebagai penyedia solusi TI terkemuka di Indonesia
    • 80.00% indirect share saham PT Visionet Internasional (VisioNet), yang berfokus pada penyediaan IT managed services.
    • 33.76% indirect share saham First Media Tbk (KBLV) yang merupakan penyedia layanan TV kabel, Internet broadbanddan komunikasi data melalui kabel serat optik tunggal, serta termasuk di dalamnya adalah Link Net, Cinemaxx, dan Bolt
    • 44.00% indirect share saham PT Indonesia Media Televisi (IMTV), yang menyediakan layanan TV satelit dengan merek dagang BigTV, yang memiliki channellayanan terbanyak di bisnis ini.

 

  • Other Business and Investments
    • 33.13% indirect share saham Multifiling Mitra Indonesia (MFMI), yang melayani pengarsipan data secara modern dan manajemen dokumen.
    • 19.58% saham Bank Nationalnobu Tbk (NOBU), salah satu bank yang cukup terkemuka di Indonesia.

 

 

Dengan sekian banyaknya ruang lingkup usaha Multipolar di atas, 86% kontribusi penjualan adalah dari lini bisnis Ritel, sementara 10% dari lini bisnis Telecommunication, Multimedia & Technology (TMT), dan 4% dari lini bisnis lainnya.

 

Saya sendiri tertarik dengan saham Multipolar sejak 2015 ketika harga sahamnya melorot jauh (akan saya jelaskan lebih detail di bawah). Namun, karena memang ketika di tahun 2015 performance Multipolar masih negatif, kita menghindari terlebih dahulu apalagi kerugian yang dialami oleh Multipolar sepanjang 2015 cukup besar, yaitu Rp 1.2 Triliun. Padahal, tahun 2013 dan 2014 Perusahaan mencatatkan kinerja keuangan yang sangat baik, yaitu laba bersih Rp 1.4 Triliun di 2013 dan Rp 1.9 Triliun di 2014. Namun ketika Multipolar mulai menunjukkan kinerja yang positif sejak Q2 2016, saya mulai kembali memasukkan Multipolar ke dalam salah satu watchlist saya.

 

Tahun 2015 memang tahun yang suram bagi Multipolar (dan juga banyak emiten lainnya), di mana Multipolar yang tulang punggung bisnis nya adalah dari Retail Business, terkena dampak dari melemahnya perekonomian Indonesia. Seperti dijelaskan di atas, segment Retail Business memegang 86% kontribusi penjualan Multipolar, sehingga menyebabkan harga saham Multipolar jatuh dari 995 pada awal 2015 ke titik terendah nya di 195 pada akhir 2015, atau turun sekitar 80% pada tahun 2015.

 

Di Q1 2016 sendiri, kinerja Multipolar (MLPL) masih negatif dengan mencatatkan kerugian bersih Rp 125 Miliar. Namun, Multipolar mulai kembali menunjukkan kinerja positif sejak Q2 2016, dengan mencatatkan laba bersih Rp 77 Miliar, dan berlanjut ke Q3 2016 dengan mencatatkan laba bersih Rp 938 Miliar. Harga sahamnya pun mulai terangkat ke level 450 di Agustus 2016. Namun sejak November 2016 sampai dengan Maret 2017, pergerakan sahamnya menunjukkan pola sideways di kisaran 340 – 360 an per awal Maret 2017.

 

Dari sisi pertumbuhan ekuitas perusahaan, sebenarnya Multipolar tidak bisa dibilang istimewa. Di tahun 2011, Multipolar (MLPL) mencatatkan ekuitas sebesar Rp 8.15 Triliun. Dan di tahun 2016 ekuitas nya sebesar Rp 9.47 Triliun, atau growth rate nya hanya 3% per tahun. Namun, dengan perkiraan bahwa di Full Year 2016, Multipolar akan mencatatkan profit Rp 1.2 Triliun. Dengan harga sahamnya ketika artikel ini ditulis yaitu Rp 342, PER nya adalah 2.9 dengan PBV 0.4. Dengan kata lain, di harga 342, dapat dikatakan harga saham Multipolar saat ini sangatlah murah.

 

Lalu, bagaimana prospek ke depannya? Mengingat tahun 2016 kemarin ini perekonomian sudah lebih baik ketimbang 2015 (perekonomian Indonesia tumbuh 5.02 % di 2016, nilai tukar rupiah stabil di 13.300 an, inflasi terjaga di 3.02%, suku bunga BI Rate turun ke 4.75%), maka seharusnya di 2017 ini kinerja Multipolar (MLPL) akan lebih baik lagi. Lalu apakah harga sahamnya kapan akan naik? Well, seperti yang kita sudah tahu, harga saham akan naik jika investor beramai-ramai membeli nya.

Mengingat Januari – Februari ini masih ramai diwarnai seputar Bakrie Group, kenaikan harga batubara. Termasuk juga kedatangan Raja Salman baru-baru ini, sepertinya Multipolar masih harus menunggu sampai sentimen positif datang. Namun, biasanya jika di tahun sebelumnya perusahaan mengalami kerugian dan berhasil recover di tahun berikutnya. Maka harga sahamnya juga akan mengikuti, dan itulah yang persis terjadi pada Multipolar ini. So, keputusan di tangan Anda apakah anda akan ikut di kereta Multipolar yang sekarang ini masih berhenti di stasiun dan menunggu penumpang?

 

Note : saat artikel ini ditulis, saya memegang saham Multipolar dengan average di 350. Perubahan posisi dapat terjadi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

 

Tags :

Analisa Saham MLPL Analisa Saham MLPL, Analisa Saham MLPL. Analisa Saham MLPL Analisa Saham MLPL, Analisa Saham MLPL

You may also like

4 Comments

  • Winston
    August 30, 2017 at 9:55 PM

    Pak, untuk saham MLPL saat ini gimana? Apakah layak di koleksi untuk longterm? Gimana view bapak dengan saham MLPL saat ini?

    • Rivan Kurniawan
      August 31, 2017 at 7:47 AM

      Halo Pak Winston.. Ketika artikel ini ditulis berdasarkan analisa Laporan Keuangan 2016, di mana waktu itu MLPL masih mencatatkan laba bersih Rp 244 miliar. Namun per 2017 Kuartal I dan II, MLPL kembali mencatatkan rugi bersih Rp 323 miliar… Ini lah yang menyebabkan fundamental perusahaan menjadi berubah dan menyebabkan harga saham menjadi turun. Kalau untuk long term saya rasa kurang cocok, mengingat performance perusahaan yang kurang stabil…

      • Winston
        August 31, 2017 at 7:05 PM

        ok pak, terima kasih atas penjelasannya

    • wawa & simank
      February 7, 2019 at 4:00 PM

      Hari ini cuan MLPL 30% hehe

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami